Ini Warna Cat Rambut Penutup Uban yang Cocok, Bisa Tahan Hingga 2 Bulan

Ingin Menutup Uban? Ini Warna Cat Rambut yang Cocok, Bisa Tahan Hingga 2 Bulan. Photo: Net/Ist.

Berita Gaya Hidup, (harapanrakyat.com),- Hampir 43 persen wanita memilih mewarnai rambutnya saat uban mulai tumbuh. Warna cat rambut penutup uban yang cocok menurut hair stylis Rendi Atmadja adalah warna yang lebih terang, misalnya nuansa kecoklatan.

Mewarnai rambut menjadi salah satu trik untuk menyamarkan uban yang mulai memenuhi kepala. Namun, jika menutupi uban dengan cat hitam malah akan terlihat kontras saat tumbuh uban yang baru.

Jadi, sebaiknya pilih warna cat rambut penutup uban yang lebih terang atau di-highlight, sehingga ketika uban tidak akan terlalu terlihat.

“Harus berani dengan warna lebih terang. Kalau kita memilih warna hitam, biasanya setiap bulan harus melakukan re-touch lagi. Sementara kalau memakai warna terang, bisa bertahan hingga dua bulan tanpa cat ulang,” jelasnya.

Selain itu, Rendi Atmadja yang juga sebagai Stylist Director di DoubleR Hair Studio Jakarta, menyarankan untuk menhindari kebiasaan mencabut uban saat baru muncul sedikit. Sebab, mencabut uban secara paksa justru akan merusak folikel rambut di sekitarnya.

“Menyamarkannya dengan cat rambut merupakan pilihan yang tepat. Apalagi produk cat rambut yang beredar di pasaran sekarang ini pada umumnya memiliki formula lebih ringan, sehingga tidak akan merusak rambut,” terang Rendi.

Penyebab Lain Munculnya Uban

Sebagian orang sudah memiliki uban meski usianya baru menginjak kepala dua. Tapi, ada pula yang punya rambut hitam tanpa ada uban satu pun saat usianya telah mencapai 40 tahun.

Dirangkum dari berbagai sumber, Jum’at (23/11/2018), genetika memegang peranan penting untuk masalah ini. Tapi, ada penelitian yang memberi alasan lain mengenai munculnya uban.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Plos Biology, bahwa gen yang mengatur sistem kekebalan tubuh juga turut mempengaruhi warna rambut. Meski subjek dalam penelitian tersebut menggunakan tikus, namun pada akhirnya hasil riset tetap mampu menjelaskan penyebab munculnya rambut uban di kepala manusia.

Melissa Haris, salah satu periset dalam penelitian ini, menjelaskan, bahwa pigmen yang disebut melanin bertanggung jawab atas warna kulit, mata, dan rambut manusia.

Melanin dibuat oleh sel melanosit yang berada di kulit. Para peneliti mencoba menganalisis sel melanosit milik tikus. Hal itu untuk memahami mengenai penuaan.

Para peneliti juga mempelajari satu gen tertentu yang ditemukan dalam sel melanosit. Gen tersebut adalah faktor transkripsi terkait melanogenesis atau gen MITF, yang mampu membantu ngontrol produksi melanin.

Peneliti melihat tikus yang menjadi subjek riset mulai memutih di awal. Selian iu, juga ditemukan adanya banyak gen MITF pada tikus tersebut. Melissa berteori bahwa, lebih banyak MITF bisa menurunkan jumlah sel melanosit, karena gen tersebut menciptakan lebih sedikit melanin.

Jadi, kurangnya melanin bakal menimbulkan munculnya banyak uban. Peneliti pun melakukan rekayasa pada tikus supaya bisa menghasilkan sedikit gen MITF. Awalnya para periset menduga proses rekayasa tersebut akan memperlambat proses perubahan warna pada tikus.

Tapi mereka terkejut lantaran hasil yang didapat justru sebaliknya, dan akhirnya mereka menemukan bahwa tikus yang punya gen MITF dalam jumlah kecil, punya lebih banyak protein yang ditemukan dalam sistem kekebalan, atau biasa disebut interferon.

Interferon membantu tubuh terlindungi diri penyakit, seperti meriang dan flu. Namun, pada dasarnya tingkat gen MITF yang lebih tinggi biasanya dikaitkan dengan tingkat protein interferon yang lebih rendah.

Para peneliti pun menyimpulkan, ketika terlalu banyak interferon, maka sistem kekebalan tikus tak tahu bagaimana cara berperilaku serta menyerang dari sel melanosit, bukan virus asing saja.

Namun, belum bisa dipastikan apakah memiliki lebih banyak gen MITF dapat menurunkan interferon, atau bahkan sebaliknya. Peneliti hanya menemukan hubungan antara sistem kekebalan dengan gen yang berkontribusi pada warna rambut manusia.

Riset ini hanya titik awal guna melakukan penelitian lebih lanjut lagi mengenai sistem kekebalan serta munculnya uban. Temuan ini juga bisa membantu menjelaskan kondisi lain yang melibatkan pigmentasi, seperti vitiligo. (Eva/R3/HR-Online)

KOMENTAR ANDA