Pasca Insiden Keracunan Massal, Penjual Keong Sawah di Ciamis “Menghilang”

Sebanyak 33 warga Desa Rawa, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, dilaporkan mengalami keracunan keong sawah (tutut) yang dibeli dari seorang pedagang keliling. Foto: Edji Darsono/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Pasca insiden 33 orang warga Desa Rawa, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis, mengalami keracunan keong sawah (tutut), pedagang atau penjual keong sawah yang biasa keliling ke pemukiman warga beberapa hari terakhir ini kabarnya menghilang.

Kurniawan, warga Dusun Parungsari, ketika ditemui Koran HR, Selasa (30/10/2018), membenarkan, setelah insiden keracunan itu, kini warga tidak lagi melihat batang hidung penjual atau pedagang keong sawah.

“Biasanya rutin tiap sore atau malam hari datang. Tapi setelah banyak warga yang keracunan, para pedagang tutut keliling tidak ada lagi muncul,” katanya.

Aat, warga yang sempat keracunan, ketika ditemui Koran HR di kediamannya, Selasa (30/10/2018), mengaku menyesal gara-gara makan keong sawah dia harus menjalani perwatan di Puskesmas.

“Sepertinya pedagang itu tidak benar pada saat memasak atau mengolah tutut. Soalnya, selang beberapa menit setelah mengkonsumsinya, perut langsung terasa mual dan muntah. Setelah kejadian itu, saya jadi tidak ingin lagi mengonsumsinya,” kata Aat.

Heni, korban lainnya, ketika dimintai tanggapan, Selasa (30/10/2018), mengaku, pada saat itu dia hanya mengonsumsi sekitar empat ekor keong sawah. Rupanya, racun dalam keong itu sangat agresif, sehingga membuatnya terpaksa mendapat perawatan di Puskesmas.

“Sekarang sudah tidak ada lagi yang menjual tutut. Mungkin pedagangnya merasa ketakutan,” katanya.

Kaur Ekbang Desa Rawa, Ade Saepudin, ketika ditemui Koran HR, Selasa (30/10/2018), menjelaskan bahwa sebenarnya keong sawah merupakan bahan makanan yang mengandung protein dan kalsium tinggi.

“Padahal kandungan protein, kalsium dan mineral pada tutut sangat bagus bagi tubuh,” katanya.

Hanya saja, kata Ade, terkait insiden keracunan masal itu, ada beberapa faktor yang membuat keong sawah menjadi beracun. Karena habitatnya di lumpur, kemungkinan keong sawah itu membawa bakteri atau bibit cacing.

Selain itu, Ade menambahkan, keong sawah tersebut juga sudah terkena paparan pestisida yang digunakan petani untuk memberantas hama. Pastinya, keong sawah mengandung racun.

“Karena itu, cara mengolahnya pun harus hati-hati. Rendam dan rebus dengan air garam. Sebab jika pedagang sembrono pada saat mengolahnya, bisa saja racun dan parasit masih tersebut masih bersemayam di tubuh keong sawah,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Sebanyak 33 warga Desa Rawa, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis, dilaporkan mengalami keracunan keong sawah (tutut) yang dibeli dari seorang pedagang keliling. Dari 33 korban itu, kini tengah mendapat perawatan intensif yang disebar di empat puskesmas, yakni Puskesmas Kawali, Puskesmas Lumbung, Puskesmas Panjalu dan Puskesmas Sukamantri.

Kepala Desa Rawa Kecamatan Lumbung, Memed, melalui Kasi Pemerintahan Desa Rawa, Hendri, membenarkan kejadian tersebut. Dia mengatakan, berdasarkan laporan yang diterima, kejadian kerucunan 33 warga itu terjadi pada Rabu (24/10/2018) lalu.

“33 warga yang diduga keracunan keong sawah itu terdiri dari warga Dusun Parungsari dan Dusun Bojongraas,” ujarnya, kepada HR Online, Jum’at (26/10/2018).

Hendri menambahkan, gejala awal yang dialami korban, pertama mual-mual dan kemudian kepala terasa pusing. Muncul dugaan bahwa korban mengalami keracunan disebabkan dari keong sawah, kata dia, setelah semua korban mengaku mengkonsumsi makanan tersebut. “Setelah semua merasakan sakit dan mual, kemudian mereka berinisiatif berobat ke puskesmas,” katanya.

Di temui terpisah, Aat, salah seorang korban, saat ditemui di Puskesmas Kawali, Jum’at (26/10/2018), mengatakan, keong sawah yang diduga menjadi penyebab keracunan dibeli dari seorang pedagang keliling. Menurutnya, saat dimakan, dirinya tidak curiga bahwa keong sawah itu beracun. Karena tidak tercium aroma bau busuk atau hal lain yang bisa membuat keracunan.

“Makanya saya beli dan terus dimakan. Tetapi, beberapa jam kemudian saya merasakan mual dan pusing,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Heni (38), korban lainnya yang juga warga Dusun Parungsari, Desa Rawa, Kecamatan Lumbung.  Dia mengatakan,  setelah mengkonsumsi keong sawah tersebut dirinya langsung merasakan mual, pusing dan kemudian muntah-muntah.

“Beruntung keluarga dengan cepat membawa ke Puskesmas. Kalau terlambat, saya juga tidak tahu bagaimana nasib saya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Kawali, dr. Hedwicko Ruchiano, mengatakan, jumlah pasien keracunan yang dirawat di Puskesmas Kawali sebanyak 8 orang. Dari jumlah itu, 5 orang diantaranya anak-anak di bawah usia 7 tahun.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, memang benar pasien ini terkena intoksikasi atau keracunan dari makanan. Karena jumlah korbannya banyak, kami sudah menetapkan kasus ini sebagai kejadian luar biasa. Dan untuk pembiayaan berobat pasien kami gratiskan,” pungkasnya. (Dji/Koran HR)

KOMENTAR ANDA