Produksi Garam Pangandaran Mampu Menghasilkan 1.5 Ton Perminggu

Produksi Garam Pangandaran Mampu Menghasilkan 1.5 Ton Perminggu. Photo: Entang SR/HR.

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, kini sudah mampu memproduksi garam sendiri. Produksi garam Pangandaran yang dilakukan di Desa Legokjawa, Kecamatan Cimerak, menghasilkan 1,5 ton setiap minggunya.

Keberhasilan produksi garam Pangandaran ini mendapat apresiasi dari Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sjarief Widjaja, yang dating langsung ke lokasi pengolahan garam di daerah tersebut.

“Ternyata penduduk yang ada di pesisir pantai bagian Selatan Pangandaran ini tidak hanya hidup bergantung pada hasil tangkap ikan laut saja, akan tetapi bisa didorong ke komoditas lain, salah satunya memproduksi garam,” ungkapnya, kepada HR Online, saat berkunjung ke tempat memproduksi garam di Legokjawa, Rabu (21/11/2018).

Lebih lanjut Sjarief mengatakan, produksi garam ini sudah diinisiasi oleh penduduk di Desa Legokjawa dengan cara sederhana. Yakni hanya dengan bermodalkan bambu dan tutup, serta lantai dari plastik untuk 3,5×40 meter, dengan modal sekitar Rp 15 juta.

Meski begitu, ketika dipanen dalam dua minggu bisa menghasilkan 250 kilogram garam. Jika dikalikan Rp 2.500 per kilonya, maka dalam satu tahun modal itu sudah kembali. Begitu juga dengan pemasaran garam yang cukup banyak.

Karena, selain untuk kebutuhan rumah tangga, di Pangandaran juga banyak para pengrajin ikan asin, dan mereka tentunya sangat membutuhkan banyak garam dalam memperoduksi ikan asin.

Untuk itu, Sjarief menyarankan agar dalam pemasaran garam produksi Pangandaran ini dikemas sedemikian rupa dan mereknya didaftarkan secara resmi. Hal ini untuk mempatenkan bahwa garam tersebut merupakan produk Desa Legokjawa.

“Garam produksi Pangandaran ini sudah layak konsumsi, karena kadar NHCL-nya pun kontennya sudah 95,2 persen dan kadar yodiumnya sudah 36 persen, jadi layak dikonsumsi,” tandas Sjarif.

Sementara itu, Kepala Desa Legokjawa, Rohaman, mengatakan, bahwa usaha produksi garam yang dikelolanya sudah 4 kali panen, dengan jumlah punel sebanyak 25 buah yang beranggotakan 50 orang warga penduduk Desa Legokjawa.

“Kalau cuaca panas, dua minggu sekali kami bisa melakukan panen. Tapi kalau musim hujan, ya paling tiga minggu sekali,” terang Rohman.

Dalam peninjauan kelompok usaha produksi garam di Desa Legokjawa, Kecamatan Cimerak, tampak hadir pula Kepala Pusat Riset Kementerian Kelautan dan Perikanan, Yanto, serta Sekretaris Dinas Kelautan Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pangandaran, Wawan Kustaman. (Ntang/R3/HR-Online)

KOMENTAR ANDA