Situs Batu Nunggul Sandaan, Ungkap Sejarah Penyebaran Islam di Pangandaran

Batu Nunggul Sandaan yang terletak di sungai di Blok Sandaan, Desa Kondangjajar, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. terungkap memiliki sejarah penyebaran agama Islam di Pangandaran. Foto: Aceng/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Keberadaan Situs Batu Nunggul yang terletak di sungai di Blok Sandaan, Desa Kondangjajar, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, terungkap memiliki sejarah penyebaran agama Islam saat pergeseran Hindu-Budha ke Islam.

Diketahui, batu tersebut menunjukkan titimangsa atau waktu perjalanan Jang Pati yang dikenal Eyang Sembah Agung, salah satu tokoh penyebar agama Islam di Pangandaran saat pergeseran Hindu-Budha ke Islam.

Abah Kundil, salah satu tokoh budaya Pangandaran, menyebutkan dalam buku Sajarah Kacijulangan, bahwa batu nunggul merupakan salah satu tempat aktivitas Eyang Sembah Agung bersama isterinya dalam mengenalkan ajaran Islam kepada masyarakat.

“Kalimat ajakan yang sering disampaikan oleh Jang Pati adalah sebagai manusia seharusnya menyembah kepada yang agung, yakni Alloh SWT. Karena ajakan itu, Jang Pati dikenal dengan Eyang Sembah Agung oleh pengikutnya,” kata Kundil beberapa waktu lalu.

Dalam buku langka itu, lanjut Kundil, isteri Jang Pati memiliki kandungan yang di dalamnya ada dua bayi kembar. Saat masih di dalam kandungan, Jang Pati sudah memberi nama Sulton Suldi dan Sulton Muradi.

“Namun, yang mengejutkan salah satu bayi yang dikandung istrinya itu hilang dan yang lahir hanya satu di atas batu yang berbentuk tunggul di sungai kecil yang biasa digunakan untuk mencuci peralatan rumah tangga oleh warga,” jelasnya lagi.

Kundil menambahkan, pada saat usia bayi itu berumur 4 bulan, isteri Jang Pati menyimpan bayi tersebut di sebuah ayunan lantaran ia akan mencuci peralatan rumah tangga di pinggir sungai. Sebelum pergi, isteri Sembah Agung sempat berpesan ke suaminya jika bayinya menangis jangan diayunkan atau biarkan saja sampai dirinya selesai mencuci.

Pada saat sedang mencuci, lanjut Kundil, Eyang Sembah Agung lupa mengayunkan anaknya itu yang sedang menangis. Alangkah terkejutnya sang istri ketika melihat bayinya setelah mencuci sudah tidak ada di dalam ayunan.

“Saat itu juga sang istri bertanya ke Eyang ke mana bayinya itu tidak ada di ayunan. Jawaban Eyang mengatakan bahwa anaknya itu diayunkan ketika menangis dan ia lupa pesan istrinya. Karena hilang, Eyang bersama istrinya langsung mencari dengan menyusuri Sungai Cijulang, namun perjuangannya tidak membuahkan hasil,” ujarnya.

Pasca kejadian tersebut, kata Kundil, Batu Nunggul tersebut disebut batu sandaan yang berarti termpat bersandarnya isteri Eyang Sembah Agung saat melahirkan dan aktivitas menyebarkan agama islam.

Kundil mengungkapkan, dalam buku Kacijulangan terdapat penggalan kalimat Uga yang berbunyi Sandaan bakal jadi panyandaran yang memiliki arti daerah tersebut bakal berkembang menjadi tempat bersandarnya perekonomian masyarakat.

“Karena batunya di tengah sungai, masyarakat adat serta tokoh supranatural kesulitan untuk melakukan penataan terhadap situs cagar budaya tersebut. Padahal, banyak wisatawan yang datang ke lokasi ini ingin melihat fisik dan fakta batu tersebut,” pungkasnya. (Ceng2/HR-Online)