Tidak Layak Huni, Rumah Waisah Belum Tersentuh Program Rutilahu

Rumah bilik berukuran 7x5 meter milik Waisah (52), seorang janda warga Lingkungan Parungsari, RT.15/06, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, kondisinya sangat memprihatinkan dan sudah tidak layak huni. Photo: Hermanto/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Rumah milik Waisah (52), merupakan salah satu rumah yang sudah tidak layak huni di Lingkungan Parungsari, RT.15/06, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, namun hingga saat ini belum juga tersentuh oleh bantuan program Rutilahu.

Rumah bilik berukuran 7×5 meter milik seorang janda itu kini kondisinya sangat memprihatinkan, terutama di bagian ruangan dapur dan kamar. Kayu-kayunya sudah tampak rapuh dan atapnya bocor jika hujan turun.

“Bagian dapur sudah pada bocor dan kayunya sudah lapuk, saya khawatir ambruk kalau terjadi hujan disertai angin kencang,” tutur Waisah, kepada Koran HR, ketika ditemui di rumahnya, Senin (29/10/2018).

Isah, panggilan akrab Waisah, mengungkapkan bahwa, sebenarnya dia ingin memperbaiki rumah miliknya. Namun, harapan itu terbentur dengan masalah biaya. Jangankan untuk memperbaiki rumah, untuk makan sehari-hari saja masih kurang. Maklum saja, Isah sendiri sehari-harinya hanya bekerja sebagai buruh serabutan.

Dia pun mengaku pernah rumahnya mendapat bantuan dari pemerintah, tapi itu hanya beberapa batang material kayu yang digunakan untuk “palang dada” rumah, dan bilik bambu sebanyak dua lembar yang dipakai untuk menutupi dinding ruangan kamar.

Atas kondisi rumahnya yang sudah tidak layak huni, Isah pun berharap kepada Pemerintah Kota Banjar, agar bisa mendapatkan bantuan rehab seperti rumah-rumah tetangganya yang mendapat bantuan dari program Rutilahu.

“Saya kini tinggal bersama anak saya yang perempuan dan masih duduk di kelas tiga SMA. Saya pun berharap semoga secepatnya ada bantuan rehab rumah dari Pemerintah Kota Banjar,” harap Isah.

Di tempat terpisah, Yani Nurliani, selaku Ketua RT setempat, mengatakan, bahwa rumah milik Waisah tersebut pernah mendapat bantuan dari program Kotaku, tapi itu sudah lama. Sedangkan, untuk bantuan yang sekarang belum diajukan lagi.

Sementara itu, Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kelurahan Karangpanimbal, Jajang, menjelaskan, di Kelurahan Karangpanimbal ada kuota 30 unit Rutilahu yang akan mendapat bantuan dari Banprov. Jumlah sebanyak itu tersebar di empat lingkungan, yakni Lingkungan Katapang, Parungsari, Cikadu, dan Lingkungan Ciaren.

“Rumah yang mendapat bantuan Rutilahu dari Banprov sebanyak 30 unit rumah se-Kelurahan Karangpanimbal, dan saya mendapatkan datanya dari pihak kelurahan. Untuk Lingkungan Parungsari yang mendapat Rutilahu dari Banprov sebanyak 11 rumah,” jelasnya.

Jajang pun berjanji akan mengusulkan rumah Waisah ke pihak Kelurahan Karangpanimbal, supaya bisa mendapatkan program Rutilahu. Karena, hingga kini pihak Ketua RT setempat belum mengusulkan ke pihak kelurahan.

“Insya Allah, untuk rumah Bu Waisah akan mendapatkan bantuan dari program Rutilahu Banprov tahun depan,” kata Jajang.

Ditemui terpisah, Pelaksana Ekbang Kelurahan Karangpanimbal, Ayi, saat dikonfirmasi terkait hal itu, mengatakan, mengenai program Rutilahu, pihaknya sudah menyerahkan kepada koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM).

“Datanya memang sudah kami berikan kepada koordinator BKM, mengenai siapa-siapa saja yang akan mendapat bantuan dari program Rutilahu. Untuk yang belum, tahun depan insya Allah bisa mendapatkannya sesuai usulan dari pihak RT masing-masing di lingkungannya,” terang Ayi.

Selain rumah Waisah, ada juga salah satu rumah yang belum mendapatkan bantuan dari program Rutilahu. Rumah tersebut adalah milik Mak Tateng, warga Lingkungan Parungsari, RT.15/6, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja. Kondisi rumah Mak Tateng sudah rusak dan tidak layak huni. (Hermanto/Koran HR)

KOMENTAR ANDA