Tradisi ‘Abid-abidan’ Semarakkan Peringatan Maulid Nabi di Banjar

Atraksi dalam tradisi abid-abidan yang digelar pada peringatan Maulid Nabi di wilayah Kecamatan Langensari, Kota Banjar. Photo: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW atau yang disebut Maulid Nabi, selalu dinanti oleh sebagian umat Muslim, terutama di Indonesia. Peringatan yang jatuh pada Bulan Robiul Awal pada kalender hijriyah ini seringkali dimeriahkan dengan berbagai tradisi yang sangat beragam, seperti halnya Abid-abidan, sesuai dengan kebiasaan yang dijalankan masyarakat sejak dulu.

Seperti halnya di wilayah Kota Banjar, pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh masyarakat di tiap-tiap mushola ataupun masjid sangat beragam, baik dengan membacakan Al Barzanji, Tabligh, Tahlil, Khataman Al Qur’an. Bahkan mengkombinasikan berbagai kegiatan dalam satu acara hingga menyedot perhatian banyak orang.

Sementara itu, di wilayah Kecamatan Langensari, pada setiap peringatan Maulid Nabi maupun Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW memiliki keunikan sendiri, yakni adanya pawai ta’aruf pada malam hari untuk mengawal para peserta Khotmil Qur’an yang menggunakan kuda, diiringi alunan musik drum band serta pawai obor dan abid-abidan.

Perlu diketahui bahwa tradisi abid sangat melekat bagi masyarakat di wilayah Banyumas, Cilacap, dan sebagian Kota Banjar maupun Ciamis sejak dulu. Tradisi ini biasa digelar saat ada hajatan sunatan, Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Malam Takbir, maupun kegiatan hari-hari besar lainnya. Abid sendiri merupakan permainan tongkat berapi yang ujungnya diberi potongan karung goni, dan sudah direndam dalam minyak tanah selama beberapa jam.

Kodiran, salah satu pemain Abid, mengatakan, permainan abid di wilayah Kota Banjar terbilang sering dilaksanakan hanya di wilayah Kecamatan Langensari saja, yakni di Kelurahan Bojongkantong, Desa Kujangsari dan Desa Rejasari. Meskipun harga minyak tanah dari waktu ke waktu sangat mahal, namun tradisi yang sudah turun temurun itu tetap saja berjalan.

“Kita tahu sendiri di Bojongkantong dan Kujangsari sampai saat ini masih lestari. Mungkin beda lagi dengan daerah lain yang kini sudah semakin jarang menggelar pawai yang disertai abid. Bisa juga karena minyak tanah mahal dan pemainnya juga semakin sedikit,” terangnya, kepada Koran HR, Selasa (20/11/2018).

Menurut Kodiran, saat ini permainan abid didominasi oleh kalangan tua saja, dan untuk pemudanya terbilang sedikit. Kondisi itu juga bukan tanpa alasan, karena semakin berkurangnya masyarakat di tiap mushola maupun masjid yang sengaja menggelar kegiatan tersebut. Selain itu, mahalnya minyak tanah juga menjadi alasan semakin punahnya tradisi abid-abidan.

“Sekali jalan untuk 7 pemain abid, bisa habis sekitar 100 liter minyak tanah, itu pun kalau ada atraksi. Tapi kalau tidak ada atraksi, bisa kurang dari 100 liter, yang mana saat ini harga 1 liter minyak tanah bisa sampai Rp16 ribu. Jadi sangat logis bila abid-abidan sekarang semakin menurun,” jelas Kodiran.

Udin, salah seorang warga Langensari, mengatakan, tradisi abid-abidan memang menjadi daya tarik sendiri bagi warga. Pasalnya, selain atraksi memutarkan tongkat berapi itu menarik, juga sangat menghibur bagi warga dari berbagai kalangan, baik anak-anak, dewasa maupun kalangan orang tua.

“Mudah-mudahan saja tradisi abid-abidan di sini tetap lestari, meskipun kondisinya semakin sulit,” harap Udin. (Muhafid/Koran HR)

KOMENTAR ANDA