Di Pangandaran, ITB Susun Strategi Bisnis Pariwisata Berbasis Mitigasi Bencana Tsunami

Kawasan pantai Legokjawa, Kecamatan Cimerak, pasca terjadinya tsunami Pangandaran pada tahun 2016 silam. Foto: Istimewa

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Bappeda Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menggandeng akademisi ITB (Institut Teknologi Bandung) untuk melakukan penelitian serta kajian dalam penyusunan rekomendasi bussiness continuity plan (BCP) atau rencana keberlanjutan bisnis pariwisata yang ditinjau dari aspek mitigasi bencana tsunami dan gempa bumi.

Tiga akademisi ITB yang terlibat dalam penelitian tersebut, yakni Prof B Kombaitan, Harkunti P. Rahayu Ph.D (Ketua Ikatan Ahli Kebencanaan Indoneaia/IABI) dan Ir. Andi Oetomo, MP.

Kepala Bidang Infrastruktur Bappeda Kabupaten Pangandaran, Asep Suhendar, mengatakan, Kabupaten Pangandaran sebagai daerah parawisata memiliki potensi bencana yang cukup besar, yaitu bencana tsunami dan gempa bumi. Untuk itu perlu dibuat strategi dalam upaya pengurangan resiko bencana yang tertuang dalam penataan ruang wilayah Kabupaten Pangandaran.

“Strategi pengurangan resiko bencana sudah masuk dalam Perda No 3 tahun 2018 tentang RTRW Kabupaten Pangandaran tahun 2018-2038. Artinya, penelitian serta kajian ini sebagai tindaklanjut dari amanat Perda,”ujarnya, Jum’at (07/12/2018).

Menurut Asep, ada 6 kebijakan pemerintah daerah dalam peningkatan mitigasi bencana. Pertama, meningkatkan sarana dan prasarana evakuasi di seluruh wilayah sesuai konteks kebencanaan, mengembangkan penggunaan teknologi mitigasi bencana, mengembangkan dan meningkatkan kualitas jalur evakuasi bencana.

“Strategi yang keempat menyiapkan lahan-lahan alternatif untuk tempat relokasi pra bencana dan pasca bencana. Yang kelima meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mitigasi bencana. Sementara terakhir mengendalikan kegiatan budidaya pada kawasan rawan bencana,”jelasnya.

Asep mengatakan, enam strategi mitigasi bencana tersebut harus dipahami oleh masyarakat. Hal itu agar memperkuat mitigasi bencana di semua lini kehidupan. “Jadi, apabila masyarakat sudah paham terhadap strategi mitigasi bencana, maka akan selalu siap siaga apabila bencana datang menerjang. Intinya, pengurangan resiko bencana harus dimulai dari diri sendiri. Dengan begitu, resiko dari dampak bencana akan bisa diminimalisir,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPKPB) Kabupaten Pangandaran, Nana Ruhena, mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada pengabdian akademisi ITB yang peduli melakukan penelitian pada bisnis pariwisata yang berbasis mitigasi bencana.

“Bisnis pariwisata yang berbasis mitigasi bencana tentunya akan mendukung dalam pembangunan keparawisataan di Pangandaran. Dengan begitu, para wisatawan tidak akan terlalu khawatir saat berlibur di Pangandaran. Karena berbagai fasilitas mitigasi sebagai upaya penyelamatan saat terjadi bencana terjamin secara lengkap,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Nana, dengan adanya strategi serta kebijakan dalam mitigasi bencana, dapat membantu dalam pemulihan pasca terjadinya bencana. “Jadi, apabila terjadi bencana, jangan sampai melumpuhkan sektor ekonomi. Dengan perencanaan yang matang, kita sudah tahu strateginya ketika harus membangun kembali pasca bencana,” ungkapnya. (Mad/R2/HR-Online)

KOMENTAR ANDA