Festival Coffee Rajadesa Art and Culture, Kenalkan Kopi Asal Ciamis yang Melegenda

Festival Coffee Rajadesa Art and Culture yang digelar di area perkebunan kopi atau tepatnya di Bumi Perkemahan Rangga Mandala Gunung Gede, Desa Purwaraja, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, Jum’at-Sabtu (08-09/12/2018). Foto: Heri Herdianto/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Tidak disangka, ternyata Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, merupakan daerah penghasil kopi yang sudah melegenda. Bahkan, kopi Rajadesa sudah dikenal dari sejak dulu. Namun, karena banyak petani asal Rajadesa memilih mengembangkan pertanian kopi di pulau Sumatera, baik melalui program transmigrasi maupun merantau secara inisiatif pribadi, membuat kopi Rajadesa kurang dikenal secara luas.

Tahun ini, warga Rajadesa mencoba membangkitkan lagi ciri khas lokalnya. Untuk mengenalkan kembali kopi Rajadesa yang melegenda, sekelompok anak muda di Kecamatan Rajadesa menggelar Festival Coffee Rajadesa Art and Culture. Yang menarik, acara ini digelar di area perkebunan kopi atau tepatnya di Bumi Perkemahan Rangga Mandala Gunung Gede, Desa Purwaraja, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, Jum’at-Sabtu (08-09/12/2018).

Dalam festival ini, tidak hanya mengenalkan soal kopi semata, tetapi juga dipadukan dengan unsur seni dan budaya lokal. Di lokasi acara pun didesain dengan berbagai unsur seni serta disediakan beberapa titik spot untuk selfi. Sehingga, pengunjung tampak lebih betah tinggal berlama-lama di acara tersebut. Tak hanya menikmati festival semata, tetapi unsur hiburannya pun sangat terasa.

Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati kopi robusta khas Rajadesa Ciamis yang diseduh di tengah perkebunan kopi. Sembari menikmati kopi, pengunjung bisa melihat proses pengolahan kopi, mulai dari pengupasan hingga penggilingan. Tak hanya itu, pengunjung juga disuguhkan pertunjukan seni budaya lokal dengan menghadirkan helaran robot Mabokuy atau Manusia Boboko dan Dudukuy.

Proses pembuatan kopi Rajadesa yang diperkenalkan pada cara Festival Coffee Rajadesa Art and Culture yang digelar di area perkebunan kopi atau tepatnya di Bumi Perkemahan Rangga Mandala Gunung Gede, Desa Purwaraja, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, Jum’at-Sabtu (08-09/12/2018). Foto: Heri Herdianto/HR

Ya, Mabokuy merupakan seni helaran asli Desa Purwaraja, Kecamatan Rajadesa. Mabokuy ini mirip sebuah robot, yang didalamnya dimainkan oleh manusia. Namun, struktur robotnya terbuat dari anyaman bambu dan alat-alat perabot rumah tangga yang terbuat dari anyaman bambu, seperti sosog, hihid, telebug dan lainnya.

Pertunjukan seni helaran robot Mabokuy atau Manusia Boboko dan Dudukuy yang merupakan asli dari Desa Purwaraja, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis. Foto: Heri Herdianto/HR

Panitia Festival Coffee Rajadesa, Art and Culture, Eman Hermansyah, mengatakan, meski acara ini baru digelar, namun mendapat animo yang luar biasa dari pengunjung. Bahkan, para pengunjung yang datang tak hanya berasal dari sekitar Ciamis, tetapi juga banyak yang berasal dari luar daerah, seperti Jawa Tengah dan luar pulau jawa. “Tadi kami juga melihat ada wisatawan mancanegara yang datang ke acara ini. Animonya sangat luar biasa. Bahkan, di luar prediksi kami,” ujarnya.

Menurut Eman, festival ini akan dijadikan agenda tahunan parawisata Kabupaten Ciamis. Karena, kata dia, acara festival seperti ini bisa dijadikan sarana untuk memperkenalkan potensi lokal Kabupaten Ciamis.

“Kalau berbicara budaya, Ciamis ini sangat kaya akan budaya. Banyak seni dan budaya Kabupaten Ciamis yang layak dijual sebagai daya tarik parawisata. Dalam acara inipun kami melibatkan UMKM. Hal itu guna mendorong pelaku usaha kecil di Ciamis berkembang maju dan dapat dipromosikan secara luas,” terangnya.

Eman mengungkapkan, pihaknya sengaja mengangkat tema festival kopi dalam memperkenalkan budaya lokal Rajadesa. Karena, menurutnya, kopi Rajadesa sudah dikenal dari sejak jaman penjajahan Belanda. Bahkan, produknya sudah dikenal luas di sejumlah daerah di Indonesia.

“Hanya saja, dalam beberapa dekade ini, kopi Rajadesa mulai redup seiring perkembangan industri kopi di Indonesia. Selain itu, banyak warga Rajadesa yang memilih merantau ke berbagai daerah untuk menanam dan mengembangkan kopi,” ujarnya.

Eman mengatakan, warga Rajadesa yang memilih mengembangkan pertanian kopinya di pulau Sumatera, tak sedikit diantara mereka yang sudah sukses. “Tapi, masih ada juga warga yang memilih usaha pertanian kopi di kampung halamannya. Dengan acara ini, kami mencoba mengangkat kembali ciri khas Rajadesa yang mulai redup. Kami berharap kopi Rajadesa bisa dikenal luas hingga ke luar negeri,” harapnya.

Sementara itu, Camat Rajadesa, Didin Saadudin, mengungkapkan, kopi Rajadesa sudah dikenal dari jaman dulu dan bisa dikatakan sudah melegenda. Dulu, kata dia, kopi Rajadesa dikenal dengan sebutan kopi munding.

“Tapi, dengan teknologi pengolahan kopi yang sudah canggih, kemudian dipadukan dengan kopi robusta. Yang membanggakan, kopi ciri khas Rajadesa ini sudah masuk ke sejumlah café di beberapa kota besar di Indonesia,” ujarnya. (Her2/R2/HR-Online)

Loading...