Kisah Perjuangan Pendirian SMK Kesehatan Parigi

Para siswa SMK Kesehatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Foto: Entang/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Dibalik suksesnya SMK Kesehatan Parigi dalam mengajarkan siswa-siswanya di bidang kesehatan, ternyata tidak terlepas dari perjuangan Kepala Sekolah yang memiliki cita-cita untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.

Kepala Sekolah SMK Kesehatan Parigi, Atikah, mengungkapkan, awal mula berdirinya sekolahnya tersebut berawal dari tekadnya yang sangat kuat. Bahkan, dalam kondisi materi yang serba tidak ada serta dirinya harus melawan penyakit yang dideranya. Namun, semua itu terbayar lunas berkat kegigihannya dalam mewujudkan sebuah sekolah yang berdiri di Desa Cibenda, Kecamatan Parigi.

“SMK Kesehatannya berdiri pada 18 April 2011, sedangkan SMP Islam Terpadunya pada 10 November 2014. Awal mula dibuka untuk SMK ini, hanya memperoleh 40 siswa saja dengan jurusan farmasi. Sedangkan ruangan belajarnya kita pinjam milik Madrasah Diniyah (Madin) Al Ikhlas selama 6 bulan. Alhamdulillah dari pengurus Madin berkenan, apalagi SMK-nya berbasis pesantren” kata Atikah kepada Koran HR, Senin (26/11/2018).

Seiring berjalannya waktu, lanjut Atikah, hasil perjuangan dan ketabahannya itu membuahkan hasil dengan meningkatkan siswa dari tahun ke tahun. Bahkan, untuk tahun 2018 ini saja sudah mencapai 220 siswa SMK dan 80 siswa SMP.

“Soal bangunan sekolah tentu saja kita upayakan secara bertahap. Targetnya, kita ingin sekolah kita dan fasilitas penunjangnya setara dengan sekolah yang lain,” pungkasnya.

Firmansyah, salah seorang pengajar SMK Kesehatan, bahwa perjalanan panjang didirikannya sekolah tersebut memang penuh dengan perjuangan, terutama kepala sekolah yang tak pernah putus asa. Hingga pada akhirnya saat ini sekolahnya tersebut mampu meraih prestasi di berbagai bidang.

“Kita juga ada kegiatan ekstrakurikuler untuk siswa, seperti tari, tata rias, drum band, tata boga, nasyid, degung, marawis dan bidang keagamaan. Bahkan, dari kreativitas siswa, mereka sering manggung di tengah-tengah masyarakat ketika ada panggilan dalam hajatan atau acara PHBI, maupun tampil di televisi dalam pentas liga dangdut,” paparnya.

Firman menegaskan, bahwa pihak sekolah sangat mendukung program yang dicanangkan Pemkab Pangandaran, yakni sekolah berbasis pesantren. Sebagai bentuk dukungan dalam mewujudkan siswa yang berkarakter tersebut, di sekolahnya juga tersedia fasilitas siswa untuk mendalami agama melalui pesantren.

“Di sini yang mesantren ada 150 orang, itu pun karena asramanya sudah tidak bisa menampung santri lagi. Alhamdulillah ini semua berkat dukungan semua pihak, terutama kiprah kepala sekolah yang terus bersama-sama memajukan sekolah ini,” pungkasnya. (Ntang/Koran HR)

KOMENTAR ANDA