Menyentuh Hati, Drama Musikal Karya SMK 2 Banjar Bikin Penonton Nangis

Salah satu adegan drama musikal seni budaya sunda yang diproduksi oleh Tim Kesenian SMK N 2 Banjar, Jawa Barat, Kamis (13/12/2018). Foto : Hermanto/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Pegelaran drama musikal seni budaya sunda yang diproduksi oleh Tim Kesenian SMK N 2 Banjar, Jawa Barat, Kamis (13/12/2018) berhasil membuat para penonton emosi, karena ‘hanyut’ terbawa alur cerita. Bahkan, penonton yang hadir di lokasi indor kampus SMK N 2 Banjar ini, tak sedikit yang menangis di akhir cerita drama musikal tersebut.

Penonton yang menyaksikan drama musikal ini mayoritas adalah siswa dan siswi SMK 2 Banjar serta para guru di sekolah tersebut. Selain itu, ada juga dari masyarakat umum serta siswa siswi dari luar kampus SMK 2 Banjar. Hadir pula Wakil Walikota Banjar, Nana Suryana, Kasatpol PP Kota Banjar, serta sejumlah pejabat Pemkot Banjar lainnya.

Dalam Pagelaran Seni Budaya Sunda Part III untuk tahun 2018 ini, Tim Ensamble Technique SMK 2 Banjar ini membawakan cerita drama musikal berjudul “Edon dan Ohan”, hasil karya Wendi Rio yang juga merupakan siswa kelas XI TGB 1, SMK N 2 Banjar.

Dijelaskan Rio, cerita ini mengisahkan tentang kakak beradik yang bernama Edon dan Ohan. Keduanya merupakan anak yatim, tapi kedua kakak beradik ini berbeda sifat. Edon yang diperankan Wendi Rio merupakan kakak dari Ohan adalah anak yang berbakti kepada ibunya. Sedangkan Ohan diperankan Regiansyah, anak yang nakal dan selalu melawan kepada ibunya.

“Dalam kesehariannya, Ohan kerap membuat onar dan sering bolos sekolah. Bahkan, Emak (Diana) atau ibunya pun sering dibuat kesal oleh kelakuan Ohan,” tuturnya.

Setiap hari, Ohan selalu meminta uang dengan cara paksa kepada ibunya, namun ibunya hanya bisa memberi uang untuk bekal sekolah saja. Jika diberi uang sedikit, Ohan yang tempramental langsung marah-marah, bahkan sesekali suka memukul ibunya. Beberapa kali Ohan sering diberi nasehat oleh ibu dan Edon, namun Ohan selalu tidak peduli dengan kata-kata nasehat itu.

Singkat cerita, ketika itu Edon, Emak, Pak Lurah (Kahfi) serta yang lainnya tengah berada di sebuah warung milik Bi Sulis (Suci). Mereka sedang berbelanja, ada pula yang sedang ngopi-ngopi sambil melepas lelah. Ketika tengah berkumpul, tidak lama Ohan yang sedang mencari Emaknya datang dengan muka kesal karena belum dikasih uang.

Emaknya memohon kepada Ohan untuk bersabar, karena uang yang ada hanya cukup untuk membeli sayuran. Namun mendengar ucapan itu Ohan malah tambah marah, bahkan tak tanggung-tanggung, dia memarahi Emaknya tersebut di depan orang banyak, hingga puncaknya Emaknya dipukul lalu ditendang dan mengenai ulu hatinya. Emaknya jatuh tersungkur dan tangannya memegang perut akibat menahan sakit yang tak terhingga, hingga akhirnya Emaknya tersebut meregang nyawa ditangan anak kandungnya sendiri.

Sontak saja, Edon dan warga lainnya yang menyaksikan kejadian itu geram dan marah terhadap sikap Ohan, bahkan Edon pun memukuli Ohan karena tak terima Emaknya meninggal dengan cara tragis seperti itu. Melihat peristiwa itu, Ohan pun kaget dan ia pun menyesali perbuatannya. Ohan akhirnya sadar dan beberapa kali meminta maaf kepada ibunya, namun semua itu sudah terlambat. 

Tak sedikit penonton yang menyaksikan pagelaran tersebut meneteskan air mata, bahkan ada pula yang menangis hingga tersedu-sedu.

“Saya mengambil cerita ini dengan tujuan supaya seorang anak selalu menghormati orang tuanya terutama seorang kepada ibu. Semoga dari cerita tadi kita bisa mengambil hikmahnya dan menjadikan kita selalu berbakti kepada orang tua,” ujar Rio usai pementasan.

Pementasan ini seluruh pemainnya merupakan siswa siswi SMK N 2 Banjar dari bidang kesenian, dan dibantu oleh dua orang bintang tamu seniman asal Kota Bandung yakni Dodoy dan Kahfi.

Pementasannya sendiri dikemas dengan perpaduan musik kolaborasi dari grup Musik Progresif Etnik Ensamble Technique sebagai musik pengiring selama pementasan yang berdurasi sekitar dua jam ini. 

Kasatpol PP Kota Banjar, Edi Nurjaman yang ikut menyaksikan pagelaran tersebut mengaku sangat terharu dan sedih akibat terbawa suasana alur cerita. Bahkan menurutnya, ia pun sesekali mengusap air matanya.

“Menurut saya ini pertunjukan luar biasa dan saya membuka mata lebar-lebar disini. Saya bangga dengan anak-anak ini, ternyata anak Banjar meski masih muda (remaja) namun mereka sudah bisa berkarya malalui seni khususnya seni budaya sunda, saya pun bisa mengatakan bahwa hasil karya seni ini sudah layak jual,” katanya. (Hermanto/R5/HR-Online)

KOMENTAR ANDA