Ensamble Technique asal Banjar Kembali Menjadi Jawara

Grup musik etnik asal Kota Banjar, Ensamble Technique, kembali berhasil menjadi jawara dengan menyabet gelar juara 1 pada ajang Final Festival Musik Etnik Cardinal Art and Culture se-Jawa Tengah, Sabtu (19/01/2019), di Purwokerto. Photo: Hermanto/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Grup musik etnik asal Kota Banjar, Ensamble Technique, kembali berhasil menjadi jawara dengan menyabet gelar juara 1 pada ajang Final Festival Musik Etnik Cardinal Art and Culture se-Jawa Tengah, Sabtu (19/01/2019), di Purwokerto. Sebelumnya, grup band etnik yang seluruh personilnya siswa SMK ini, menjadi juara I pada ajang Audisi di Tegal, Jawa Tengah.

Final musik etnik Cardinal Art and Culture yang digelar Toserba Moro, Purwokerto, diikuti sebanyak 15 finalis band etnik dari berbagai kota/kabupaten di Jawa Tengah, seperti Kebumen, Banjarnegara, Purwokerto, Pati, Pemalang, Semarang, dan kota/kabupaten lainnya di Jawa Tengah.

Penampilan para finalis dalam ajang final semuanya sangat mumpuni. Mereka tampil dengan menunjukan skill-nya di atas pentas, sehingga membuat juri sedikit “pusing” lantaran seluruh finalis menyuguhkan musik etnik yang berkelas. Selain final band etnik, dalam ajang tersebut juga menampilkan final dari kompetisi dance serta model.

Pentolan sekaligus motor dari grup band etnik Ensamble Technique, Indra Hermansyah, mengatakan, pada awalnya ia sudah pesimis tidak akan menang setelah melihat penampilan para finalis lain yang sangat mumpuni dan berkelas.

Namun, dengan bekal semangat dan pantang menyerah, ia bersama grupnya terus berjuang dan membawa konsep musik progresif etnik yang sedikit berbeda dengan para finalis lainnya, hingga akhirnya mampu membuahkan hasil yang maksimal.

Indra mengungkapkan, keberhasilannya menyabet juara 1 dalam event tersebut tak lepas dari do’a seluruh warga Kota Banjar. Ia pun mengucapkan banyak terima kasih kepada warga Banjar atas dukungannya selama ini.

“Kami ucapkan banyak terima kasih atas dukungannya dari semua pihak. Kemenangan ini bukan kemenangan bagi kami saja, namun juga kemenangan bagi warga Kota Banjar, khususnya dari bidang seni,” ucap Indra, kepada Koran HR, Sabtu (19/01/2019).

Sementara itu, Ramon, salah satu juri pada ajang final musik etnik Cardinal Art and Culture, mengatakan, grup musik etnik ini layak tampil sebagai juara. Ia menilai, mulai dari audisi sampai final, band asal SMKN 2 Banjar itu sudah mampu mengkomposisikan berbagai aliran musik, yang dikemas menjadi satu hingga menghasilkan konsep musik yang harmonis dan berkelas.

“Dari tahun ke tahun, Ensamble terus mengalami perkembangan. Musiknya tersusun rapih dengan konsep khas progresifnya, ditambah aksi panggungnya yang tampil memukau, hingga membuat kami merasa yakin bahwa band inilah yang bakal menjadi juara,” ujarnya.

Ramon berpesan kepada Ensamble untuk terus berkarya dengan konsep-konsep musik etnik berbeda dengan yang lain. Sehingga, dengan konaep musik etnik yang berbeda bisa menjadikan musik etnik yang khas dari Ensamble itu sendiri.

“Saya juga berpesan, jangan jumawa atas prestasi ini. Teruslah berproses dan berkarya dengan penuh kreativitas, sehingga bisa membuahkan hasil yang maksimal,” kata Ramon.

Di tempat terpisah, Wakil Walikota Banjar, Nana Suryana, mengucapkan selamat kepada Ensamble Technique yang telah kembali menoreh prestasi luar biasa, menjadi juara 1 dalam ajang bergengsi, sehingga membuat warga Kota Banjar bangga.

“Band etnik asal SMKN 2 Banjar ini telah berulang kali menjadi jawara pada ajang yang sama, dan mereka berhasil mengharumkan nama Kota Banjar di tingkat provinsi, bahkan tingkat nasional,” katanya.

Ia pun berharap, keberhasilan Ensamble bisa menjadi pelecut semangat bagi para generasi muda Kota Banjar lainnya untuk berprestasi di bidangnya masing-masing.

Dengan keberhasilannya menyabet gelar juara 1, maka grup band etnik Ensamble secara otomatis lolos ke babak grand final tingkat nasional Cardinal Art and Culture di Bali pada bulan Maret 2019 mendatang bersama perwakilan lainnya dari Jawa Tengah, yakni band etnik Relivet (Purwokerto) yang berhasil menyabet gelar juara II. (Hermanto/Koran HR)