KA Pangandaran Dinilai tidak Berdampak Positif bagi Banjar

KA Pangandaran dengan relasi Stasiun Gambir Jakarta-Bandung-Banjar (PP) saat launcing di Statsion Kereta Api Kota Banjar, Rabu (02/01/2018). Foto: Hermanto/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Wakil Walikota Banjar, Nana Suryana, menilai bahwa kehadiran KA Pangandaran yang baru saja diluncurkan PT Kereta Api Indonesia (KAI), sebetulnya tidak berdampak positif bagi Kota Banjar.

“Berbicara subyektif Kota Banjar dan kemarin dilaunchingnya juga di station Kota Banjar, tapi namanya KA Pangandaran. Sebetulnya kita tidak melihat apa sih dampak positif bagi Kota Banjar,” katanya, kepada HR Online, saat dikonfirmasi usai menghadiri syukuran hasil pembangunan pintu gerbang dan pagar kantor Koramil 1325 Langensari, Kamis (03/01/2018).

Menurutnya, kalau dilihat secara umum nasional, memang bahwa PT KAI itu memberikan inovasi pelayanan transportasi perhubungan atau masyarakat bisa mencapai tujuan dengan cepat dan tepat waktu.

“Akan tetapi dengan konteks nama yang diberikan PT KAI berupa KA Pangandaran, dan sementara stasiunnya berada di wilayah Kota Banjar. Ya, itu tak ada dampak positif bagi Kota Banjar,” tandasnya.

Dengan nama demikian, Nana beranggapan malah Kab. Pangandaran yang sudah terkenal semakin dikenal. Sementara Kota Banjar Patroman sendiri tetap saja hanya sebuah stasiun KA, yang tidak terpromosikan.

“Itu tak bisa ditampikan. Cuma betul PT. KAI memberikan kemudahan untuk masyarakat Indonesia, sehingga bepergian dengan cepat dan tepat waktu,” tukasnya.

Begitu pun pemberian nama KA itu ranahnya PT. KAI. Keinginan Pemkot dan warga Kota Banjar, tentu bukan itu namanya.

“Kalau berharap dan berangan-angan, itu kita berhak. Ya bisa sih namanya KA Patroman. Tetapi nama sudah diputuskan sebagaimana kewenangannya PT. KAI. Kita tak bisa berbuat apa-apa,” ucapnya.

Cuma satu hal nanti, lanjutnya, kalau terjadi reaktivasi KA jurusan Banjar-Pangandaran, mesti juga oleh bersama harus dilihatnya. Seyogyanya Kota Banjar mendapat imbas positif. Kalau bagi Pangandaran itu sudah jelas untungnya, dengan PT.KAI beri fasilitas transportasi cepat ke Pangandaran.

“Tetapi berpikir subyektif Banjar, jika lokasi stasiunnya masih itu tetap saja tak akan kecipratan ekonomi. Bahkan tukang ojeg jadi buntu, yang biasa orang turun dari kereta lalu diantar ke terminal bus untuk menuju ke Pangandaran,” tuturnya.

Menurutnya, bila demikian adanya, tidak akan ada lagi geliat kehidupan ekonomi warga Kota Banjar, karena orang naik lagi kereta di stasiun Banjar. Kecuali, PT. KAI melibatkan dan memberikan keleluasaan ke Pemkot Banjar untuk menentukan titik terminal khusus Banjar-Pangandaran, atau di Banjar ini ada stasiun KA lagi.

“Maka tentu orang turun dari kereta dan keluar stasiun, minimal akan pakai jasa ojeg dan bisa jajan, makan dulu di Kota Banjar. Tapi kalau stasiunnya tidak pindah, jelas hanya jadi penonton saja dan tak kebagian apa-apa. Ingat, seperti halnya kejadian matinya terminal bus yang sekarang jadi GBI,” jelasnya.

Nana menyayangkan, bahwa letak Kota Banjar yang strategis, tidak bisa dimanfaatkan dengan baik karena program pusat disetujui saja. Padahal, itu membuat Kota Banjar perlahan bisa mati atau kurang berkembang.

Meski begitu, dirinya mendukung keberadaan KA Pangandaran relasi Banjar-Bandung-Gambir Jakarta, yang telah dilaunching PT.KAI (Persero) di Stasiun Banjar, Rabu (02/01/2019) kemarin.

“Pinsipnya kita pun setuju dan mendukung program PT. KAI berupa peluncuran KA Pangandaran, dan nantinya rekativasi jalur kereta Banjar-Pangandaran. Cuma mesti ada efek mutualisme lah untuk Kota Banjar. Harapan saya seperti itu,” pungkasnya. (Nanks/R5/HR-Online)

KOMENTAR ANDA