PNS Asal Pangandaran ini Kembangkan Ternak Lebah Madu

Ternak Lebah Madu milik Juharno. Foto: Madlani/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Madu memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi dan memiliki khasiat yang banyak untuk kesehatan tubuh. Menangkap peluang itu, salah seorang PNS Guru di Pangandaran menggeluti ternak lebah madu bersama kelompok usaha bersama (KUB) PMMA Juharno Grup.

KUB PMMA Juharno grup, beralamat di Kalenceuri No 2, Dusun Babakan, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Selain itu, pemasaran madu ini salah satunya dengan menempatkan di berbagai objek wisata yang ada, seperti di Pepedan Hills, Santirah, Wonder Hills Jojogan, Green Valley Citumang, Karang Nini, Batu Hiu, Batu Karas, Green Canyon, Desa Wisata Margacinta, dan Curug Bojong.

Juharno menuturkan, dirinya menggeluti ternak lebah madu sejak tahun 1994, namun baru dibuka sejak tahun 2010 dengan modal awal sekitar Rp 33 juta. Bersama kelompoknya, ia memiliki sekitar 380 kotak lebah yang tersebar di beberapa tempat.

“Ternak madu memang susah-susah gampang. Karena itu saya juga mengajak masyarakat untuk belajar ini. Asal mau belajar dan mencoba langsung, Insya Alloh bisa,” katanya kepada HR Online, Sabtu (12/01/2019).

Masih dikatakan Juharno, Lebah yang diternaknya itu berjenis lebah api sirana yang bisa menghasilkan madu khasiat tinggi. Selain untuk kelompoknya sendiri, dirinya jugamengaku  siap memberikan pelatihan kepada para peternak lebah madu yang belum paham dan mengerti cara beternak lebah madu.

“Melalui pelatihan tersebut, para peternak lebah madu akan diberi edukasi bagaimana cara beternak lebah madu yang baik dan benar, dari tidak tahu terus jadi tahu. Kita beternak sekarang jadi bahan komoditas,” imbuh Juharno.

Dalam sekali panen selama 4-6 bulan, lanjutnya, bisa mendapatkan 30-50 liter madu murni, sesuai dengan cuaca. Sementara itu, madu tersebut perliternya dihargai Rp 300 ribu. Sehingga, penghasilan tambahan dari ternak madu mencapai Rp 1,5 juta per bulannya. Madu yang diberi nama Madu Sumvit Pangandaran ini 100 persen tanpa campuran dan kadar airnya hanya 1 persen, bahkan sudah diuji lab di Bandung.

“Di sini kami pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah diajukan ke Pemerintah Desa Cintakarya, Desa Cintaratu, dan Desa Parigi dengan menggunakan dana desa sudah berjalan, tetapi masih kurang maksimal karena terkendala teknis,” pungkas Juharno. (Mad/R6/HR-Online) 

KOMENTAR ANDA