7 Bulan Tinggal di Tenda Darurat, Warga Ciamis Ini Akhirnya Dapat Bantuan Bangun Rumahnya

7 Bulan Tinggal di Tenda Darurat, Warga Ciamis Ini Akhirnya Dapat Bantuan Bangun Rumahnya. Photo: Suherman/HR.

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Setelah tujuh bulan tinggal di tenda darurat bantuan dari BPBD Kabupaten Ciamis, keluarga Salim (80), dan Mae (65), kini akhirnya mendapat bantuan dari program Jabar Bergerak untuk pembangunan rumahnya.

Ketua Bidang Sosial Jabar Bergerak, Rika Ratna Santika, mengatakan, saat ini pihaknya tengah memberikan bantuan biaya untuk pembangunan rumah keluarga Salim, warga Dusun Tuban, RT.01/06, Desa Ratawangi, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, yang tinggal di tenda darurat.

“Belum lama ini kita menerima pengajuan dari rekan-rekan Mata Hati, terkait persoalan yang menimpa keluarga Pak Salim. Kebetulan Ibu Gubernur yang menerima laporan itu langsung menugaskan kami untuk bergerak dan memberikan bantuan ke sini. Mudah-mudahan bantuan ini bisa bermanfaat bagi keluarga Pak Salim,” terangnya, Rabu (27/02/2019).

Lebih lanjut Rika menjelaskan, Jabar Bergerak memiliki tujuan untuk menangani kasus-kasus sosial yang terjadi di masyarakat. Di dalamnya terdapat beberapa divisi, mulai dari divisi sosial, kesehatan, agama, budaya, dan pariwisata.

Pihaknya juga selalu tebuka bagi warga Jawa Barat untuk memberikan laporan atau pengaduan langsung melalui situs Instagram, Facebook serta media sosial lainnya.

“Silahkan bagi warga yang benar-benar di daerahnya ada persoalan seperti Pak Salim ini, jangan sungkan untuk melaporkan kepada kami. Insya Allah, setiap pengaduan nanti kita akan lakukan survey, dan jika memang benar-benar dalam kondisi darurat, ya kita akan segera turunkan bantuan,” kata Rika.

Sementara itu, Ketua Koordinator Mata Hati Banjarsari, Mohammad Abid Buldani, mengatakan, setelah adanya keluhan dari masyarakat, pihaknya langsung melakukan investigasi ke lapangan.

“Awalnya kita mendapatkan keluhan dari masyarakat. Setelah itu kita lakukan survey ke lapangan. Setelah semua data kita dapatkan, selanjutnya kita menghubungi Jabar Bergerak, dan Alhamdulillah, setelah kurang lebih satu minggu kini sudah terealisasi,” tuturnya.

Abid Buldani juga berjanji, dalam pelaksanaan pembangunan rumah Pak Salim, pihaknya akan terus memantau dan mengawal hingga pembangunan rumah tersebut selesai.

Pantauan HR Online di lokasi, Salim dan Mae tampak begitu terharu ketika dirinya mendapatkan bantuan dari Jabar Bergerak. Sambil terbata-bata, Salim mengucapkan terima kasihnya dengan penuh kegembiraan.

“Alhamdulillah, saya ucapkan terima kasih kepada petugas yang telah memberikan bantuan untuk saya. Saya tidak bisa bicara apa-apa lagi selain ucapan terima kasih,” ungkap Salim.

Ucapan terima kasih juga diungkapkan Kepala Desa Ratawangi, Tarsono, kepada petugas Jabar Bergerak dan pihak Mata Hati Banjarsari yang telah membantu memberikan bantuan secara langsung bagi warganya.

“Tentunya juga saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Gubernur Jabar yang telah memberikan bantuan kepada warga saya. Tak lupa terima kasih juga untuk rekan-rekan dari Mata Hati yang telah berperan besar dalam kegiatan sosial di lingkungan Banjarsari. Semoga semua kerja keras rekan-rekan bisa terus berjalan dan mendapat lindungan dari Allah. Insya Allah amanah ini akan kita jalankan dengan penuh tanggung jawab,” ucap Tarsono.

Seperti diberitakan Koran HR, Rabu (20/03/2019), faktor kemiskinan membuat pasangan lanjut usia (lansia), Salim (80) dan Mae (65), warga Dusun Tangkeban, RT 01 RW 06, Desa Ratawangi, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, harus rela tinggal di bawah tenda darurat bantuan kemanusiaan.

Dari pantauan Koran HR di lapangan, kondisi tersebut terjadi setelah rumah milik pasangan lansia ini ambruk akibat diterpa hujan dan angin, 29 September 2018 silam. Seiring kejadian tersebut, korban hanya mendapatkan bantuan tenda darurat.

Dengan kata lain, selama hampir 7 bulan lamanya, pasangan lansia ini terpaksa harus rela tnggal di bawah naungan tenda darurat yang kondisinya saat ini sudah terlihat sangat kumuh dan memprihatinkan.

Ketua Penggerak Komunitas Matahati Banjarsari, Mohammad Abid Buldani, ketika dimintai tanggapan, mengaku prihatin dengan kondisi terkini pasangan lansia tersebut. Pihaknya juga menyoroti minimnya perhatian pemerintah terhadap kondisi masyarakat miskin seperti halnya pasangan Salim dan Mae.

“Jelas melihat kondisi seperti ini kami merasa prihatin. Kami juga menyesalkan lambannya sikap pemerintah menanggulangi kasus seperti ini. Mestinya, Pemkab Ciamis lebih gesit mengingat kondisinya sangat darurat,” kata Abid, Selasa (19/02/2019).

Setelah melihat realita tersebut, Abid menuturkan, Matahati akan bergerak untuk mengetuk hati masyarakat luas. Dan saat ini pihaknya mengaku sudah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, mengalang bantuan untuk pasangan Salim dan Mae.

Kepala Desa Ratawangi, Tarsono, didampingi Kepala Dusun (Kadus) setempat, Hendri, saat dikonfirmasi Koran HR, Selasa (19/02/2019), tidak menyangkal adanya warga yang tinggal lama di dalam tenda darurat.

“Memang benar, yang tinggal di bawah tenda darurat itu warga kami. Kami sebenarnya tidak tega dengan kondisi mereka. Namun apa boleh buat, kami hanya bisa mengajukan permohonan ke Pemkab Ciamis,” katanya.

Informasinya, kata Hendri, pada Bulan Maret mendatang Pemerintah Kabupaten Ciamis akan memberikan bantuan melalui program rumah tidak layak huni (Rutilahu), untuk pasangan Salim dan Mae.

“Desa kami mendapatkan jatah bantuan untuk 20 rumah,” katanya.

Menurut Hendri, kakek Salim sebanarnya sudah pernah mendapatkan bantuan program Rutilahu pada tahun 2013 silam. Namun akibat himpitan ekonomi, pasangan lansia ini tidak mampu merawat rumahnya, hingga akhirnya rumahnya mengalami kerusakan.

Dan pada September 2018 lalu, kata Hendri, rumahnya ambruk saat terjadi hujan yang disertai angin kencang. Paska kejadian, pihaknya pun segera melaporkan, dan ditindaklanjuti dengan pemberian tenda darurat dari BPBD Ciamis.

Ii (70), tetangga Salim, menyebutkan bahwa kondisi kehidupan Salim dan Mae dibawah garis kemiskinan dan sangat memprihatinkan. Menurut dia, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Salim bekerja sebagai pengayuh becak dengan penghasilan tidak menentu.

“Kami sebagai tetangga sering memberikan bantuan, terutama untuk kebutuhan sembakonya,” kata Ii.

Sementara itu, nenek Mae, saat ditemui dikediamannya, mengaku pasrah dengan nasibnya. Jangankan untuk mendirikan rumah, untuk kebutuhan makan sehari-hari nek Mae mengaku sudah kesulitan. “Suami kerjanya kan hanya sebagai tukang becak, kadang dapat uang kadang juga tidak. Apalagi dengan kondisi yang sudah tua, jarang sekali mendapatkan penumpang,” katanya (Suherman/R3/HR-Online)

KOMENTAR ANDA