Hati-hati! Penipuan Lewat SMS Semakin Marak, Begini Modusnya

Penipuan lewat SMS yang mengatasnamakan Whatsapp. Foto : Adi Karyanto/HR

Berita Teknologi, (harapanrakyat.com),- Tidak sedikit orang yang menjadi korban dari penipuan lewat SMS (Short Message Service). Biasanya korban yang kena tipu itu mengalami kerugian, yang umumnya material.

Korban terkena bujukan karena pelaku pintar memainkan kata-kata dengan isi SMS yang membuat target menjadi percaya. Sehingga, dengan modal memainkan emosi korban via SMS, tidak sedikit yang terkena bujuk rayuan sehingga dengan gampangnya memberikan harta secara gratis.

Sebenarnya jika diperhatikan semua pola penipuan lewat SMS yang dikirim oleh pelaku tergolong sama. Yang membedakan hanya memperbaharui kata-katanya saja.

Supaya Anda tidak menjadi korban penipuan lewat SMS, sebaiknya kenali dulu pola yang dikirimkan oleh si pelaku, sehingga korban mudah terbujuk.  

# Undian berhadiah

Siapa sih yang tidak tertarik jika mendapatkan hadiah, apalagi didapatkannya tidak dengan susah payah. Namun, jika Anda mendapatkan SMS berhadiah dengan pola seperti itu sebaiknya berhati-hati, kalau bisa dicek terlebih dulu atau abaikan saja.

Tidak sedikit yang mengirim ke nomor redaksi HR Online, yang isinya mendapatkan hadiah uang tunai dengan nominal yang tidak sedikit bahkan ratusan juta rupiah.

Seperti pesan singkat (SMS) dari Whatsapp. “Selamat kepada Anda sebagai Pengguna setia whatsApp. No.WhatsApp Anda Meraih Hadiah Cek Tunai Rp. 100.000.000,- Dari Program Promo Undian PT WHATSAPP INDONESIA dengan CODE PIIN(2547afr) u/info klik: ptwhatsapp888.blogspot.com”.

Jika sekilas dibaca terlihat ada kejanggalan dari SMS yang dikirim dari nomor 089695487xxx. Yang pertama adalah format penulisan dari isi SMS tersebut asal ketik Sehingga bagaimana mungkin sekelas aplikasi pesan terbesar di dunia cara penulisannya seperti itu.

Yang kedua adalah link yang dituju dari isi SMS itu menuju ke blogspot yang bisa gratisan. Lagi-lagi bagaimana mungkin sekelas aplikasi pesan terbesar di dunia, konten atau website-nya berupa blogspot.

Yang terakhir setelah ditelusuri blogspot tersebut ternyata sudah tidak aktif.

Selain mendapat hadiah uang dari whatsapp, redaksi juga pernah mendapatkan SMS dari provider 3. Tidak jauh berbeda pola penulisannya, cuma si pelaku hanya merubah dari whatsapp ke 3.

Intinya dari penipuan lewat SMS tersebut, apabila korban terbujuk kemudian menghubungi pelaku. Karena undian hadiah ini tanpa kuis dan otomatis mendapatkannya, maka si penipu itu menggiring korban dengan meminta sejumlah uang ke rekening pelaku.

# Minta kirim pulsa

Modus penipuan lewat SMS selanjutnya adalah “Mama Kehabisan Pulsa. Kirim Yah”. Isi SMS tersebut sudah tidak aneh, bahkan bisa dikatakan populer dan tidak sedikit yang menjadi korban saat itu.

Bagaimana tidak, pertama keluar SMS tersebut dengan menjual nama orangtua, tentu target tanpa pikir panjang langsung mengirim pulsa ke nomor si penipu.

Untuk menangkal penipuan seperti itu sebenarnya mudah, Anda mengkonfirmasi terlebih dulu ke ibu Anda apakah benar atau tidak meminta pulsa.

# Keluarga kecelakaan

Modus selanjutnya dari penipuan lewat SMS adalah mengabari bahwa salah satu anggota keluarga mengalami musibah seperti kecelakaan. Isi SMS tersebut biasanya “Keluargamu Kecelakaan Nih, Tolong Dong!”.

Yang diminta dari penipu dengan mengirim SMS tersebut adalah minta dikirimkan uang guna biaya pengobatan anggota keluarga yang kecelakaan.

Jika Anda mendapat SMS seperti itu sebaiknya jangan langsung percaya. Cek terlebih dulu kebenarannya, dengan menghubungi nomor anggota keluarga yang terkena musibah.

Atau cara lainnya yaitu dengan menelepon baik ke nomor yang mengirim SMS itu. Apabila si penipu tidak bisa menjawab nama yang kecelakaan secara benar, atau bahkan mengalihkan pertanyaan, sudah dipastikan bahwa itu penipuan.

# Pura-pura mengaku teman

Ide kreatif dari si penipu memang tidak ada habisnya. Setelah menjual salah satu anggota keluarga seperti ibu atau lainnya, pelaku juga bisa menjadi teman. Modusnya adalah dengan berpura-pura menjadi teman Anda, bahkan cara bicaranya pun seperti yang sudah akrab.

“Aku Temanmu Loh, Masa Gak Kenal”, biasanya isi SMS seperti itu atau dirubah sedikit kata-katanya. Tapi, ketika ditanya siapa namanya justru si penipu meminta calon korban untuk menebaknya.

Biasanya pelaku bakal memainkan emosi calon korban, dengan target supaya korban terbujuk untuk meminjam uang ke penipu yang berpura-pura menjadi teman.

Model penipuan seperti itu bukan hanya melalui SMS saja, namun via media sosial seperti Facebook juga bisa. Dengan cara membajak Facebook seseorang kemudian meminta atau meminjam sejumlah uang lewat status di akun yang dibajaknya.

# Membayar kontrakan

Modus selanjutnya dari penipuan lewat SMS yaitu berpura-pura menjadi pemilik kontrakan, baik rumah atau gedung/kantor.

SMS penipuan dengan modus tersebut pernah diterima nomor redaksi HR Online. Isinya “Ass. maaf, mengenai pembayaran kontrakan ke Adik saya, xxx 082331077xxx, krn sudah saya alihkan ke Dia. Trims”.

Jika mendapat isi SMS seperti itu, sebaiknya apabila Anda memang masih mengontrak konfirmasi terlebih dulu dengan pemilik kontrakan.

# Mengaku dari pihak bank

Penipuan lainnya dengan mengaku sebagai operator call center salah satu bank. Penipuan lewat SMS seperti ini bisa dikatakan lebih hebat, pasalnya pelaku memakai alpha numeric yang dalam SMS nya menggunakan tulisan salah satu bank di Indonesia.  

Modusnya adalah si penipu yang mengatasnamakan sebuah bank menanyakan ke target, alasannya yaitu mengecek data pribadi sebagai nasabah. Calon korban hanya perlu menjawab benar atau tidak dari pertanyaan tersebut.

Karena semua konfirmasi yang disampaikan oleh penipu tidak ada yang salah, selanjutnya pelaku pun meminta OTP (One Time Password) korban dengan yang sudah terkirim via pesan singkat.

OTP adalah kode yang dikirimkan oleh situs belanja online guna memverifikasi pembelian oleh konsumen. Apabila kode tersebut diberikan kepada orang lain yang tidak bertanggungjawab, maka bisa ludes yang yang ada di rekening bank.

Pasalnya, OTP yang diberikan ke si penipu maka dengan mudah dan leluasanya pelaku mengambil uang korban dengan cara pembelian di situs belanja online.

Untuk itu, sebaiknya jangan memberikan kepada siapapun kode OTP tersebut, jika tidak ingin uang yang ada di rekening habis semua. (Adi/R5/HR-Online)