Kisah Banteng Jawa di Cagar Alam Pangandaran

Sugiawan, salah satu warga yang pernah menjadi pegawai BKSDA tahun 80-an. Foto: Entang SR/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Keberadaan Cagar Alam Pangandaran memiliki cerita tersendiri bagi sebagian besar warga Pangandaran, apalagi keanekaragaman flora dan fauna yang ada di dalamnya itu sebagian masih ada yang bisa dilihat sampai sekarang.

Sugiawan (68), salah satu warga Pangandaran yang pernah menjadi pegawai BKSDA di tahun 80-an, mengatakan, bahwa cagar alam pertama kali dibuka pada saat pemerintahan Hindia Belanda sekitar tahun 1934 sebagai taman rekreasi atau wildreservaat hutan Pananjung.  Di dalam cagar alam tersebut, terdapat berbagai flora dan fauna, bahkan hewan langka juga didatangkan seperti banteng jawa.

“Dulu ada sekitar 80 ekor yang dilepaskan di cagar alam ini. Namun, lambat laun cerita banteng itu hanya jadi kenangan saja, karena sekarang sudah tiada,” jelasnya kepada Koran HR, Senin (12/02/2019).

Kepunahan banteng jawa tersebut, lanjut Sugiawan, di antaranya karena terdampak ledakan Gunung Galunggung pada tahun 1982. Tak hanya banteng, ternak milik warga saat itu juga banyak yang mati lantaran terkena efek debu vulkanik tersebut.

“Rumputnya kan terkena debu, akhirnya hewan ternak tidak mau makan meski sudah dicuci bersih. Karena itu, banyak yang mati karena efek ledakan Gunung Galunggung ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Uking, Kepala BKSDA Pangandaran, membenarkan sampai saat ini banteng di cagar alam tidak ada sama sekali. Pada tahun 2003, jelasnya, BKSDA pernah mendatangkan sebanyak 60 ekor sapi bali yang mana hampir mirip dengan banteng. Namun, akhirnya punah juga karena tidak bisa berkembang lantaran yang dihadirkan betina semua.

“Sekarang tinggal rusa sama monyet saja yang ada di cagar alam. Sebenarnya kita ingin ada hewan langka lagi di sini guna menarik daya tarik wisatawan. Tapi kita belum ada gambaran terang soal itu, karena kewenangan bukan di kita, tapi di atasnya lagi,” pungkas Uking. (Ntang/Koran HR)

KOMENTAR ANDA