Radio di Banjar Tak Pernah Putar Lagu Band Lokal

Salah satu penampilan band lokal Banjar, dalam acara pentas musik yang digelar di Kota Banjar beberapa waktu lalu. Photo: Hermanto/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Jika tengah berada di kota-kota besar, kita sering mendengarkan lagu atau karya dari para musisi (band) lokal yang sering diputar di radio-radio. Seperti radio Oz (Bandung), Geronimo (Yogyakarta), dan radio-radio yang berada di kota besar lainnya.

Dari program radio-radio tersebutlah lahir band-band indie lokal yang kini sudah terkenal, seperti band rif, Mocca, The Brandals, Padi, dan masih banyak lagi band indie lokal lainnya yang kini telah mewarnai kancah industri musik Indonesia. Selain itu, kehadiran band indie lokal juga memberikan warna tersendiri yang turut menghiasi playlist radio-radio swasta di kota-kota besar.

Jika radio swasta di kota-kota besar di seluruh Indonesia saja bisa memutar lagu-lagu karya musisi lokal, kenapa di Kota Banjar tidak? Padahal, radio-radio swasta di kota ini jumlahnya cukup banyak. Namun, belum pernah ada satu pun yang membuat program untuk memutar lagu atau karya dari para musisi (band) lokal dari kotanya sendiri.

Terkadang, para musisi (band) lokal Banjar merasa dianaktirikan, atau bahkan kerap dipandang sebelah mata, baik oleh pemerintah maupun masyarakat umum lainnya. Bahkan, yang lebih mirisnya lagi sulitnya urusan perizinan dengan berbagai alasan, saat akan menggelar sebuah panggung musik (band).

Kini, penikmat band-band lokal Banjar lebih cenderung hanya dari komunitas itu sendiri. Padahal, dari band lokal inilah lahir musisi-musisi asal Banjar yang saat ini sudah berkiprah di blantika musik Indonesia, salah satunya Ivan Hervian, yang kini menjadi drummer band besar Bagindas.

Mi’ink (40), salah satu musisi Kota Banjar, yang juga gitaris Nuansa Band, mengatakan, hingga saat ini nyaris tidak ada radio di Banjar yang memutarkan lagu-lagu band indie lokal Banjar pada jam prime time mereka. Bahkan menurutnya sangat sulit untuk mendengarkan musik indie karya anak band Banjar di radio-radio lokal.

“Band-band lokal di Banjar memang sulit berkembang. Selain minimnya promosi, radio di Kota Banjar pun terkesan “ogah” mengangkat karya seni dari para musisi Banjar, mereka lebih sering memutar lagu-lagu yang sudah hits atau yang sudah terkenal di mana-mana,” ujarnya, kepada Koran HR, Senin (04/02/2019).

Pendapat serupa dikatakan musisi Banjar lainnya, Ogi. Menurutnya, seiring dengan berjalannya waktu, para pendengar radio kini hanya ingin mendengarkan lagu yang sedang hits atau sudah dikenal.

“Masa kini pendengar radio hanya butuh hiburan saja, tanpa ingin tahu edukasi musik dan yang penting bisa request lagu yang sedang hits ke penyiar. Padahal kalau bisa memutar lagu-lagu hasil karya musisi Banjar, itu bisa mengangkat nama radio itu sendiri. Bahkan, bila perlu anak-anak band lokal Banjar pun siap regist jika ada program seperti ini,” katanya.

Selain itu, di radio-radio kini sudah tidak ada lagi idealisme music director, lantaran menurutnya musik yang diputar hanya musik  yang disukai oleh target pendengarnya. Di mana pendengar radio hanya ingin musik mainstream easy listening yang mudah dinyanyikan dan sudah terkenal.

Friska Mahyudinsyah, selaku Ketua Komunitas Musik Banjar (KMB), mengaku setuju jika di radio-radio lokal di Banjar ada sebuah program yang bisa mengangkat band-band lokal Banjar. Selain menjadi ajang promosi bagi band lokal tersebut, juga akan menjadi suatu kebanggaan bagi para musisi Banjar, karena karyanya dapat didengar oleh khalayak.

“Kalau ada program tersebut di radio-radio lokal Banjar, saya setuju dan ini keren, karena bisa mengangkat nama band-band lokal Banjar,” ujar Friska.

Hal senada dikatakan musisi senior di Banjar, Edi Susanto. Menurutnya, sangat disayangkan untuk saat ini musik indie, khususnya lokal Banjar, belum bisa menjadi sasaran dan lahan empuk untuk menarik para pengiklan yang akan berpromosi di radio.

“Jika band-band lokal Banjar sulit untuk berkembang, radio lebih memilih memutar lagu-lagu yang sudah terkenal, karena mungkin band-band indie Banjar kurang ‘menggigit’ untuk bisa menarik para pengiklan di radio tersebut. Band atau musisi indie, khususnya di Banjar, kini lebih banyak berpromosi di ranah digital seperti YouTube, Facebook, Instagram, dan lain-lain,” jelas Edi.

Sementara itu, pengelola Radio Cempaka Angkasa (RCA) Kota Banjar, Galih, menyambut baik keinginan dari para musisi lokal Banjar tersebut. Menurutnya, pihak RCA untuk ke depan akan membuat program seperti itu. Sehingga dapat membantu mengangkat sekaligus menjadi ajang promosi band-band lokal Banjar.“Terima kasih atas masukannya, dan saya menyambut baik tentang ini. Ke depannya insya Allah kami akan membuat program ini di radio kami,” singkatnya. (Hermanto/Koran HR)