Kisah Dalang Legendaris Pangandaran

Enju, Dalang asal Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Foto: Madlani/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Di Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran terdapat salah satu rumah yang terletak persis pinggir sawah. Dalam rumah tersebut berjajar beberapa benda pusaka peninggalan zaman dulu. Tak hanya itu, patung dan wayang hasil buah tangan dalang legendaris Pangandaran Enju (65) yang juga dijajarkan di rumahnya itu.

Dari tangan sang dalang legendaris Pangandaran yang multitalenta ini, hanya dengan pisau raut bisa menghasilkan berbagai karya luar biasa, seperti wajah anak kedua dari Pandawa yang terbuat dari kayu. Ia juga sangat teliti dalam mengukir helai demi helai rambut Bimasena.

“Saya senang sama wayang itu sejak mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar. Malahan dari beres sekolah sampai sekarang masih menekuni ini, mungkin sudah menjadi syariat sumber rejeki,” kata Enju kepada wartawan belum lama ini. 

Awalnya, kata Enju, membuat wayang itu hanya iseng saja dan karena ia juga suka nonton. Ia mengaku pertama kali membuat di tahun 1963. Jadi, jumlah karyanya pun sudah tak terhitung berapa banyaknya.

Ia menuturkan, saat kecil sering mencoba membuat wayang sambil ngangon (Nunggu) domba di kebun dengan anak-anak lain seusianya. Karena gembira, hobinya pun terus dikembangkan, bahkan selama ia menetap lama di Yogyakarta.

“Pulang dari Jogja, saya pindah ke Kota Banjar. Di sana juga masih membuat wayang, namun kadang kadang jadi kondektur pentas bareng dalang Mingun,” kata Enju.

Dalang Mingun, ucap Enju, adalah salah satu guru yang mengajarkan pentas wayang bersamaan dengan Dalang Jeje dan Dalang Yamin.

“Sebetulnya yang menjadi kiblat saya belajar adalah Dalang Jeje. Namun karena ia meninggal, saya tidak tuntas belajar mendalangnya,” paparnya.

Sejak tahun 1995, Enju mulai mencoba mendalang sendiri dan pertama manggung ia mengaku terpaksa karena ada tetangga yang punya nadzar.

“Ki Usdi dulu yang memaksa saya untuk manggung di Desa Bojong dengan bayaran Rp 250 ribu, karena tidak punya wayang dan gamelan, saya terpaksa menyewa ke Dalang Jeje. Sejak saat itu, tawaran manggung terus berdatangan, mulai dari kampung hingga manggung bareng bersama anak maestro Dalang Ade Kosasih dan Dede Amung di Bandung. Pak Dede Amung sama Pak Ade Kosasih sering main ke rumah, malah sebelum meninggal ia memesan wayang ke saya. Baru dapat 40 Pak Ade dikabarkan wafat,” jelasnya lagi.

Enju mengungkapkan, beberapa pejabat di Pangandaran juga banyak yang menjadi pelanggannya, bahkan mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi juga pernah membeli patung wayang di rumahnya.

“Walaupun belum pernah dapat penghargaan, saya tetap bahagia dengan  hidup seperti ini. Saya juga sudah menularkan kepada dua anak saya dan beberapa anak yang belajar di sini. Jadi, yang mau belajar di sini silakan, saya tidak pelit ilmu kok, apalagi meminta imbalan. Paling penting saya sudah merasa senang dengan seperti ini,” pungkasnya. (Mad/Koran HR)

KOMENTAR ANDA