Sabtu, Januari 29, 2022
BerandaBerita TerbaruGas Tawa Sedang Diuji Coba untuk Atasi Stress

Gas Tawa Sedang Diuji Coba untuk Atasi Stress

Berita Gaya Hidup, (harapanrakyat.com),– Gas tawa merupakan gas dengan rumus senyawa kimia N20 atau dikenal juga dengan sebutan dinitrogen monoksida. Dalam suhu ruangan dinitrogen monoksida berwujud gas yang tidak berwarna dan tidak mudah terbakar.

Profesor Paul Myles, salah seorang peneliti di Rumah Sakit Malbourne, Australia bersama timnya mencoba meneliti kemungkinan untuk menggunakan gas tawa untuk atasi gejala depresi, termasuk salah satunya stress.

Pada penelitian tersebut, beberapa responden diundang untuk ikut dalam uji coba medis ini. Beberapa responden diberi dinitrogen monoksida, tujuannya agar obat ini dapat mempengaruhi jalur saraf sehingga bisa lebih efektif jika dibandingkan dengan obat depresi biasa.

Jika percobaan ini berhasil, diharapkan dinitrogen monoksida mampu meringankan pasien penderita depresi klinis. Seperti dikutip HR Online dari wawancara Menurut Profesor Myles di Fairfax, uji coba tersebut sangat potensial.

“Dinitrogen monoksida ini aman, selain itu efek sampingnya juga minimal,” ungkap professor Myles, seperti dikutip dari Fairfax, Selasa (23/4/2019).

Dalam uji coba dinitrogen monoksida untuk atasi depresi ini, Profesor Myles mengatakan sejumlah responden akan mengisap dinitrogen monoksida satu minggu sekali, durasinya selama satu jam. Hal ini akan dilakukan satu bulan lamanya.

“Peserta uji coba tinggal duduk di kursi, santai, sambil mendengarkan musik yang easy listening sambil menghirup gas tawa. Setelah itu, harapannya mereka akan merasa ringan, tapi sedikit pusing mungkin. Namun saya jamin suasana hati mereka pasti langsung berubah,” kata Paul.

Setelah menghirup gas tersebut, para responden uji coba medis ini diperbolehkan pulang dalam waktu setengah jam setelah efek gas tawa mulai terasa.

Sayangnya, setelah dihirup gas tawa tidak akan bertahan lama dan akan lenyap dari aliran darah di tubuh. Hal ini berarti pengaruh gas tawa tidak akan lama. Namun, ada indikasi yang menunjukkan efek positif dari dinitrogen monoksida terhadap suasana hati seseorang bisa bertahan selama satu minggu.

Profesor Myles berharap dinitrogen monoksida bisa digunakan sebagai perawatan jangka pendek untuk pasien penderita depresi klinis, selama mereka masih menunggu hingga obat depresi biasa mulai berfungsi pada mereka.

Sementara untuk pasien penderita depresi yang berisiko melakukan bunuh diri, perawatan dengan memberi gas tawa pada pasien ini berpotensi memberi hasil memuaskan.

Para peneliti juga percaya gas ini bisa dijadikan sebagai alternatif untuk pasien yang mengonsumsi obat depresi biasa, tapi obat depresi tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan.

Seperti dikatakan Jayashi Kulkarni, Direktur Pusat Psikiatri RS Alfred Monash, bahwa tipe-tipe depresi akan mempengaruhi bagian otak yang berbeda. Karena itu perawatan yang dijalankan untuk pasien juga harus disesuaikan dengan tipe depresi yang spesifik.

“Obat biasa tidak selalu efektif untuk semua orang,” katanya.

Sementara Profesor Myles kembali menjelaskan penyebab gas tawa yang lebih efektif untuk meredakan gejala depresi. “Gas tawa ini mempengaruhi jaringan otak yang efeknya berbeda jika menggunakan obat antidepresi biasa,” ujarnya.

Menurutnya, berbagai obat antidepresi yang sudah digunakan selama 50 tahun terakhir tersebut beredar dalam tubuh melalui jalur serotonin. “Sementara perawatan dengan menggunakan gas tawa bekerja melalui jaringan yang disebut dengan jalur NMDA,” terangnya.

Penelitian yang dilakukan Profesor Myles bersama timnya dari Rumah Sakit The Alfred, Melbourne, Australia ini akan mengikuti jejak penelitian sejenis yang pernah dilaksanakan di negara lain. Diantaranya, penelitian efek gas tawa untuk masalah psikiatri atau kejiwaan pernah dilakukan di Universitas Washington pada 2014.

Pada penelitian tersebut, hasilnya disebutkan dua pertiga peserta uji coba mengalami pengurangan gejala depresi setelah dirawat dengan menggunakan gas tawa secara intensif.

Kabar baiknya, tidak ada pasien yang mengalami peningkatan gejala depresi setelah dirawat dengan menggunakan gas tawa tersebut.

“Penemuan kami ini perlu diujicoba lagi oleh berbagai lembaga kesehatan lain. Sebab, kami percaya terapi dinitrogen monoksida nanti dapat membantu meringankan penderitaan banyak pasien depresi,” kata Peter Nagele, salah seorang guru besar anestesiologi di Fakultas Kedokteran, University of Washington.

Nagele sempat mengatakan bahwa ia cukup terkejut setelah menyadari tidak banyak Fakultas Kedokteran yang sama sekali belum menguji zat kimia yang jelas-jelas membuat orang tertawa. “Padahal gejala utama depresi itu adalah kesedihan,” pungkasnya.

Nah, kita tunggu saja sampai penelitian tentang gas tawa ini benar-benar bisa dilakukan pada manusia, terutama untuk mengurangi gejala depresi yang dirasakan oleh seseorang, salah satunya stress. (Ndu/R7/HR-Online)

- Advertisment -