Kelelahan Pasca Pemilu, Sejumlah KPPS & PTPS di Banjar Tumbang

Ketua KPU Kota Banjar, Dani Danial Muklis, saat menjenguk Adang, Ketua KPPS 11, Dusun Rancabulus, Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, yang tengah dirawat di RS Mitra Idaman, Selasa (23/04/2019). Photo : Istimewa.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Pemilu serentak 2019 telah usai, namun sejumlah anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Kota Banjar yang bertugas mensukseskan pelaksanaan Pemilu, satu persatu tumbang. Mereka mengalami sakit akibat kelelahan.

Beruntung tak sampai ada yang meninggal dunia seperti halnya di daerah lain. Di Kota Banjar sendiri, sejumlah petugas KPPS yang mengalami sakit pasca Pemilu itu terjadi di wilayah Kecamatan Langensari. Bahkan ada yang sampai dirawat di rumah sakit.

“Ya memang, sejauh ini banyak petugas KPPS di wilayah Langensari yang sakit karena kelelahan usai bertugas di hari pencoblosan. Bahkan, ada satu orang yang dirujuk atau dirawat di RS Banjar Patroman,” kata Ketua PPK Langensari, Eman Sulaeman, ketika dikonfirmasi Koran HR, Selasa (23/04/2019), terkait banyaknya petugas KPPS di Langensari yang jatuh sakit pasca Pemilu Rabu pekan lalu.

Ia menyebutkan, satu orang yang dirawat di RS Banjar Patroman itu bernama Adang, selaku Ketua KPPS yang bertugas di TPS 11, Dusun Rancabulus, RT.03, RW.03, Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar.

“Dia yang juga sebagai guru ASN di MTSN 2 Langensari itu, dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya sejak hari Minggu kemarin. Hasil pemeriksaan medis, Pak Adang menderita demam tinggi. Cuma saya tidak tahu sakit persisnya apa, yang jelas dia itu kelelahan dan mengalami penurunan stamina saat bertugas,” terangnya.

Lanjut Eman, pihaknya sendiri selaku PPK belum sempat menjenguknya karena masih disibukkan dengan rekapitulasi penghitungan suara. Namun, dari KPU Kota Banjar sudah ada menjenguk ke RS Banjar Patroman.

Eman pun memprediksi masih banyak lagi petugas KPPS lainnya yang jatuh sakit, termasuk di wilayah kecamatan atau daerah pemilihan (dapil) lain. Hanya saja jumlahnya belum diketahui pasti berapa orang.

“Ya, saya sendiri dan rekan PPK dan PPS, terus terang lelah dan capek. Tentu sebenarnya kondisi kesehatan juga menurun. Tapi, alhamdulilah sampai hari ini masih kuat bekerja melakukan rekapitulasi suara,” ungkapnya.

Disinggung bagaimana bentuk kesosialan atau bantuan yang diberikan kepada anggota KPPS yang sakit pasca Pemilu, Eman mengaku pihaknya tidak mengetahui persis, karena hal itu ranahnya KPU.

“Kalau di daerah lain, informasinya petugas yang meninggal itu diberikan santunan oleh KPU. Tapi entah ini kalau yang hanya sakit, apakah ada atau tidak bantuan yang diberikan untuk meringankan bebannya, misal untuk biaya berobatannya. Harapan saya sih ada, karena mereka adalah pejuang demokrasi yang telah ikut mensukseskan perhelatan Pemilu serantak 2019,” ujarnya.

Ia menilai, banyaknya masalah yang timbul dari pelaksanaan Pemilu serentak ini, terlebih sampai ada KPPS atau pihak keamanan yang meninggal dunia, semestinya harus jadi bahan evaluasi menyeluruh karena banyak memakan korban.

Dalam hal ini, harus ada perbaikan sistem dan revisi regulasi kepemiluan dalam evaluasi pemerintah, baik legislatif maupun eksekutif. Diharapkan untuk Pemilu ke depannya jangan sampai hal seperti ini kembali terulang.

Di tempat terpisah, Ketua KPU Kota Banjar, Dani Danial Mukhlis, menyebutkan, enam petugas KPPS Kota Banjar terbaring sakit pasca pencoblosan. Empat diantaranya menjalani perawatan di rumah sakit, dan dua lainnya menjalani rawat jalan di rumah.

Mereka adalah Adang (Ketua KPPS 11, Desa Rejasari), Dedi Sunendar (KPPS 47, Kelurahan Mekarsari), Memet Abas, (KPPS 2), Angga (KPPS 12 Binangun), Sri Mulyani (Ketua KPPS 19 Kelurahan Pataruman), dan Ade Suryana (KPPS 45 Pangadegan).

“Kami memberikan bantuan biaya pengobatan bagi para pejuang demokrasi yang tengah sakit. Namun, kami belum mendapatkan intruksi dari KPU RI, terkait penanganan dan tindak lanjut penyelenggara Pemilu tingkat bawah yang mengalami sakit. KPU RI hingga kini masih merumuskan hal tersebut,” ujar Danial, kepada wartawan, Selasa (23/04/2019), usai membesuk para anggota KPPS yang sakit.

Pihaknya pun berharap, seluruh KPPS yang sekarang ini masih menjalankan tugas bisa menjaga kesehatannya dengan baik.

Sementara itu, salah satu anggota KPPS 47 Mekarsari, Dedi Sunendar, terpaksa harus masuk ruang Maranti RS Mitra Idaman, Kota Banjar. Menurut Yani, istrinya, bahwa suaminya itu pada hari Sabtu (20/04/2019), mengalami gejala stroke, kemudian terjatuh.

“Bapak pulang dari masjid, lalu ia minta makan dan minum. Namun, tiba-tiba saat pegang piring, piringnya malah terjatuh. Bapak mengalami gejala stroke ringan dan kami langsung membawanya ke rumah sakit,” terang Yani, kepada Koran HR.

Senada dikatakan Angga (anggota KPPS 12 Binangun), yang juga sedang dirawat di RS Banjar Patroman. Ia mengaku mengalami sakit pada lambung hingga akhirnya harus dirawat di rumah sakit. “Lambung saya sakit sekali, selain lelah, juga akibat telat makan,” ujar Angga.

Pasca Pemilu Petugas PTPS Dirawat Intensif di RSUD

Bawaslu Kota Banjar, juga menjenguk salah satu Pengawas TPS (PTPS) Desa Binangun, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, yang mengalami sakit karena kelelahan saat bertugas mengawasi proses penghitungan surat suara. PTPS yang bernama Angga itu kini sedang mendapatkan perawatan intensif di RSUD Kota Banjar.

Ketua Bawaslu Kota Banjar, Irfan Saeful Rohman, mengatakan, bahwa salah satu anggotanya tersebut mengalami kelelahan saat bertugas hingga harus mendapatkan perawatan medis.

“Saudara Angga padahal tidak memiliki riwayat sakit apa-apa, dan terbilang jarang sakit. Namun baru kali ini ia mengaku kelelahan saat bertugas mengawasi proses Pemilu tahun ini,” jelasnya, Selasa (23/04/2019).

Tak hanya Angga, lanjut Irfan, salah satu Pengawas Pemilu Lapangan (PPL) Desa Mulyasari juga dikabarkan mengalami pingsan di tempat rekapitulasi. Sementara itu, satu pengawas lainnya juga dikabarkan mengalmi sakit karena kelelahan. Ia mengaku turut prihatin atas apa yang menimpa 3 petugas pengawas pemilu ini.

“Semoga saja lekas sembuh. Kami Insya Alloh akan membantu mereka, bisa juga dengan pemerintah agar mendapatkan penanganan lebih lanjut, termasuk masalah pembiayaan juga dibantu. Sebab, mau tidak mau mereka begitu saat menjalankan tugas Negara, jadi sepatutnya mendapatkan perhatian juga dari Negara,” imbuh Irfan.

Dalam pemilu 2019 khusus di Jawa Barat ini, Irfan melanjutkan, sebanyak 43 KPPS dikabarkan meninggal dunia, dan pengawas sebanyak 10 orang dikabarkan meninggal dunia. Dari jumlah tersebut didominasi karena faktor kelelahan.

“Ini menjadi duka kita semua. Kita harap masyarakat bisa menghormati kinerja para pejuang demokrasi ini yang bekerja secara maksimal untuk pemilu ini,” pungkasnya. (Tim HR)

KOMENTAR ANDA