Lulus Jurusan Pendidikan, Pemuda Ciamis Ini Sukses Jadi Pembuat Mesin Perontok Padi

Miftah saat menunjukkan mesin perontok padi yang diproduksi olehnya. Foto: Muhafid/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Seorang Pemuda asal Dusun Baregbeg, Desa Baregbeg, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat terbilang sukses sebagai pembuat mesin perontok padi. Pasalnya, produksi alat yang memudahkan saat panen petani di wilayah lumbungnya Kabupaten Ciamis tersebut terus kebanjiran order bukan hanya dari petani lokal saja, bahkan luar daerah hingga antar pulau di Indonesia.

Miftah (30), pemuda lulusan jurusan Pendidikan Islam (Tarbiyah) di STAINU Kebumen, Jawa Tengah ini mengaku berkecimpung di dunia mesin perontok padi ini sejak 4 tahun silam. Ia menyebutkan proses perjalanan hidupnya tidak tiba-tiba begitu saja. Sejak semester 5 saat kuliah, dia kerap memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar las di bengkel. Tak hanya itu, ketika di pesantren ia juga kerap diperintahkan untuk memanen padi dengan alat yang bisa mempercepat proses merontokkan padi dari tangkainya.

“Waktu itu saya sempat terpikir untuk mencoba membuat seperti ini, apalagi di Lakbok sendiri daerah lumbung padi yang mana banyak petani yang sawahnya di tengah. Bayangkan saja, sawahnya di tengah dan terik matahari sangat menyengat. Untuk datang saja sudah capek apalagi mengurus sawah. Ini menurut saya salah satu yang menyebabkan kenapa pemuda zaman sekarang jarang yang ke sawah,” jelasnya kepada HR Online di bengkelnya yang persis berada di belakang rumah, Senin (22/04/2019).

Miftah menambahkan, dengan kemampuan yang ia miliki, ia langsung bertekad membuat sebuah alat yang meringankan petani saat panen. Berawal dari mesin yang ia buat di Kebumen dan dibawa pulang ke Lakbok, ia terus memperbaiki berbagai kekurangan pada mesinnya. Bahkan, ia acapkali meminta pendapat dari para petani soal mesinnya tersebut.

Miftah saat mengerjakan pembuatan mesin perontok padi di bengkel yang berada di belakang rumahnya. Foto: Muhafid/HR

Saat mesin sudah jadi, Miftah melanjutkan, warga sekitar merespon baik apa yang sedang ia tekuni, yakni memberikan kepercayaan kepada dirinya untuk membuat mesin tersebut lebih banyak.

“Memang saat itu saya hanya bermodalkan sekitar Rp 5 juta, itu pun untuk membeli perlengkapan dan sebagainya. Beruntung yang pesan ke saya sudah kasih uang duluan, jadi saya lebih enak dalam produksi. Alhamdulillah sejak saat itu di wilayah Baregbeg sini, terutama di wilayah Lakbok, semakin banyak yang buat ke saya,” tutur pemuda yang juga lulusan MA Al Azhar Citangkolo Kota Banjar ini.

Soal kelebihan dari mesinnya itu, Miftah mengaku bobotnya hanya 25 kilogram untuk perontoknya dan 15 kilogram untuk mesinnya. Sementara itu, perontoknya sendiri ia menggunakan paku yang disusun sedemikian rupa. Ia beralasan menggunakan paku karena akan meringankan saat padi dimasukkan ke mesin tersebut, berbeda ketikan menggunakan besi yang ukurannya lebih besar dari paku, atau mesin rontok yang biasa dijual di toko pertanian.

“Sejak pertama hingga saat ini, alhamdulillah sudah lebih dari 100 unit terjual. Tak hanya di Lakbok saja, tapi sudah sampai ke Tegal, Yogyakarta, Cilacap, Brebes, Indramayu, Karawang, Blitar Jawa Timur, serta Sumatera Barat. Sedangkan untuk daerah Bali kemarin belum deal. Soal harga, kita jual mesin dan perontoknya di angka Rp 3 juta. Jika mau lihat-lihat dulu bisa dilihat di Youtube, atau sekedar tanya-tanya juga boleh, bisa juga mampir ke rumah juga bisa,” tambah Miftah yang juga mantan aktivis PMII ini.

Dalam pemasaran produknya tersebut, Miftah menggunakan media Youtube, Facebook serta jaringan organisasi kepemudaan di wilayahnya, yakni Ansor. Berkat sarana internet tersebut, produksinya terus mengalami peningkatan.

“Alhamdulillah juga dari 100 unit lebih yang saya buat ini tidak ada komplain dari pelanggan. Soal ketahanan, punya saya sudah 4 tahun dan sekarang masih lancar saja. Intinya, saya memproduksi ini untuk meringankan para petani atau buruh tani. Karena paradigma di sini berbeda, biasanya yang punya mesin hanya pemilik sawah, di sini justru buruh tani yang punya mesin. Ini menujukkan bahwa alat seperti ini sangat membantu mereka,” pungkasnya. (Muhafid/R6/HR-Online)

KOMENTAR ANDA