Tanggul Sungai Cirapuan Jebol, Banjir di Pangandaran Makin Meluas

tanggul sungai jebol
Sawah terendam banjir di Pangandaran akibat tanggul sungai Cirapuan jebol. Foto: Entang/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),– Banjir akibat tanggul sungai Cirapuan jebol di Desa Tunggilis, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, meluas hingga ke Blok Liposos, Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang.

Akibatnya banyak petani yang memiliki areal pesawahan di daerah tersebut khawatir banjir akan membuat tanaman padi mereka busuk jika air tak kunjung surut.

“Padinya dalam masa tanggung berbuah, kalau lihat kondisi sekarang padi bisa busuk dan mati karena terendam air,” kata Tatang Heryadi, salah seorang pateni yang memiliki sawah di Blok Ciganjeung.

Menurut Tatang banjir tersebut merupakan banjir biasa yang selalu terjadi di setiap musim penghujan. Terlebih lagi saat ini intensitas curah hujan cukup tinggi, tidak hanya di Pangandaran, namun juga hujan terjadi di beberapa daerah.

“Karena hujan terus menerus, akibatnya debit sungai naik dan tidak lagi mampu menampung air kiriman dari berbagai hulu sungai,” ungkapnya.

Sementara para petani yang memiliki sawah di Blok Liposos Ciganjeung sebagian besar panen lebih awal. Hal tersebut untuk menyelamatkan padi mereka yang terancam busuk dan mati akibat terendam banjir.

Seperti halnya petani di Blok Liposos Ciganjeung, para petani di Desa Tunggilis, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran juga terpaksa panen lebih awal. Pasalnya, padi yang sebentar lagi panen justru diterjang banjir setelah tanggul Sungai Cirapuan sepanjang 12 meter jebol.

Dadan Kurnia, salah satu petani, mengatakan, sawah miliknya seluas 200 bata seluruhnya tergenang air banjir. Untuk meminimalisir kerugian, ia terpaksa memanen lebih awal.

“Padahal punya saya dua minggu lagi panen, tapi ya ini kena banjir. Kalau tidak segera dipanen lebih awal, bisa-bisa malah busuk padinya. Jadi ini sangat terpaksa sekali,” katanya kepada HR Online, Rabu (10/04/2019).

Hal senada juga dikatakan petani lainnya, Yanti. Ia mengaku terpaksa panen lebih awal lantaran padinya tersebut sudah tidak terlihat sama sekali. Karena itu, ia terpaksa menghindari kerugian lebih besar dengan hal memanennya.

“Untuk mengangkut padi ke daratan saya pakai pohon pisang yang disusun seperti rakit. Saya harap ke depan jangan terjadi seperti ini lagi, para petani pastinya merugi,” pungkasnya.

Pantauan HR Online di lapangan, ketingian banjir di areal sawah seluas 135 hektar tersebut cukup variatif, mulai dari 1 meter hingga 2 meter. 

Pada berita sebelumnya, tanggul Sungai Cirapuan sepanjang 12 meter jebol. Akibatnya, areal pesawahan di Dusun Sukamaju, Desa Tunggilis, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran terendam banjir.

“Sungai Cirapuan airnya berasal dari Ciseel. Karena sekarang sedang cukup tinggi debit airnya, sehingga banjir pun di sini tidak bisa dihindari, apalagi sekarang Sungai Citanduy sedang penuh,” kata Ilan, Kepala Desa Tunggilis.

Ia menambahkan, sebanyak 135 hektar sawah di wilayahnya tersebut terendam banjir. “Harapannya BBWS segera menangani persoalan ini agar petani tidak merugi,” pungkasnya. (Entang/R7/HR-Online)

KOMENTAR ANDA