Terjebak Penipuan dan Pinjaman Online? Begini Solusinya

SMS yang dikirim secara acak oleh pelaku untuk mengelabui korban. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Kemajuan teknologi rupanya justru dimanfaatkan oknum tertentu untuk melakukan penipuan dengan berbagai cara, baik dengan cara mengirimkan SMS secara random, menelpon langsung ke korban hingga iming-iming pinjaman online atau dana cepat melalui aplikasi yang bisa didownload di play store.

Salah satu korban asal Kota Banjar yang enggan disebutkan namanya, mengatakan kepada Koran HR, bahwa dirinya pernah menjadi korban penipuan berkedok meminta pulsa lantaran kondisi darurat. Tak tanggung-tanggung, selain mengaku sebagai salah satu keluarganya, pelaku pun memeras korban dengan mengirimkan pulsa hingga Rp 1 juta.

“Memang pelaku cukup lihai memainkan kata-kata hingga seolah-olah saya langsung mau mengikuti apa saja yang ia inginkan. Setelah saya tersadar bahwa saya sudah mengeluarkan uang cukup banyak, ternyata seperti yang dialami orang lain bahwa saya tertipu,” ujarnya kepada Koran HR, Senin (08/04/2019).

Pasca kejadian tersebut, dirinya otomatis merasa kesal dan panik. Tak hanya uang yang lenyap, ia juga mengaku menjual sejumlah barang berharga yang dijadikan pulsa dan dikirimkan ke pelaku.

“Pokoknya, ke depan saya tidak mau lagi kalau ada nomor tidak jelas masuk ke handphone saya. Dan masyarakat lain juga jangan sampai tergoda dan lalai ketika ada orang tak dikenal tiba-tiba minta tolong, biasanya itu penipuan. Jadi kalau komunikasi jarak jauh, harus jelas dulu,” pungkasnya.

Berbeda dengan kasus yang dialami warga Banjar lainnya. Sebut saja Dani (bukan nama asli), ia mengaku tengah bingung untuk mencari hutangan. Namun tiba-tiba ia mendapatkan sms yang mengatasnamana koperasi yang siap memberikan pinjaman secara online. Syaratnya pun cukup mudah, mulai foto KTP hingga Kartu Keluarga.

“Tapi pada saat saya sudah mengirimkan syarat itu, pelaku meminta saya mengirimkan uang sebesar Rp 500 ribu untuk mengurus administrasi, bahkan minta tambahan uang hingga Rp 1,5 juta. Setelah saya pikir-pikir, ternyata itu hanya modus penipuan saja dan saya kontak lagi sudah tidak bisa. Saya menyesal dan tidak akan tergiur dengan hal-hal seperti itu,” katanya kepada Koran HR, Selasa (09/04/2019).

Menanggapi fenomena pinjaman online dan penipuan di dunia maya, salah satu praktisi bisnis online, A. Ma’ruf, mengatakan, bahwa saat ini ada beberapa kasus yang semakin marak di tanah air, baik itu penipuan berkedok meminta bantuan dengan mengirim sms secara random (acak), pinjaman berkedok koperasi yang berbasis online, hingga pinjaman uang yang berbasis online, atau biasa disebut Fintech.

“Sebetulanya fintech adalah singkatan dari financial dan technology, yang artinya inovasi di bidang keuangan yang saat ini memanfaatkan kecanggihan teknologi, seperti halnya renternir, saat ini juga sudah punya aplikasi online-nya. Keren kan saat ini, banyak yang berubah,” kata Ma’ruf sambil tersenyum.

Sebelum pada penjelasan soal penipuan, Ma’ruf memaparkan masalah pinjama online (pinjol) yang saat ini kian marak, bahkan sudah banyak korban yang tergiur dengan proses pencairannya yang cukup cepat.

Ia mengibaratkan, pinjol seperti sirup yang tersedia di tengah gurun pasir, ketika sirup itu diminum, maka setelah melangkah ke depan akan haus lagi, dan begitu seterusnya. Jadi, ketika seseorang sudah terlanjur memanfaatkan pinjol untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, ia menyamakan dengan “menggali kuburannya sendiri”.

Menurutnya, pinjol yang berkedok fintech dan memiliki legalitas, biasanya memiliki bunga besar bagi peminjamnya. Apalagi yang illegal, tentu saja akan mematok bunga semaunya sendiri hingga tak masuk di akal.

Dari kondisi banyaknya pinjol ini, ada beberapa oknum yang memanfaatkan untuk meraup keuntungan dengan kedok koperasi, seperti menggunakan koperasi nasari. Koperasi ini memang ada di beberapa kota-kota besar di Indonesia, tapi digunakan oleh oknum tertentu untuk meraup keuntungan, seperti penipuan pinjaman melalui online.

“Tak hanya itu, masih banyak lagi kasusnya. Biasanya oknum seperti ini selain memanfaatkan aplikasi, juga menyediakan chat langsung via WhatsApp. Jika korban tertarik, maka akan langsung kontak via nomor yang tersedia itu,” jelasnya.

Supaya tidak terjebak pada pinjaman online seperti itu, ia menyarankan agar meminjam ke bank yang sudah jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Apabila tetap menggunakan pinjol, ia mengimbau untuk memastikan terlebih dahulu pinjol tersebut kredibel dan bermitra dengan lembaga keuangan yang jelas.

“Sebaiknya jangan sekali-kali ke pinjol, kalau sudah terlanjur jangan diulang, tutup saja kekurangannya secepat mungkin. Paling mentok, Anda bisa negosiasi supaya bayar pokoknya saja, jangan sama bunganya meski setelahnya itu kita terus diteror, setelah itu jauhi saja. Apakah nanti akan menagih secara langsung. Tentu saja tidak, karena adanya pinjol itu ada di kota-kota besar saja, di Bandung saja masih tahap proses. Jadi, jangan takut ditagih secara langsung, tapi harus Anda jauhi,” tegasnya.

Kaitannya dengan penipuan berkedok koperasi, kata Ma’ruf, pada prinsipnya koperasi berdiri di suatu wilayah dan tidak mencangkup skala nasional. Bahkan, bank saja yang sudah sangat kredibel dan baik tidak mungkin hanya satu di pusat saja, tapi juga ada di daerah hingga ke pelosok kecamatan.

“Jadi prinsipnya, jangan mudah percaya dengan yang model seperti itu, apalagi kita harus mengeluarkan sejumlah uang untuk masalah administrasi. Di bank saja tidak begitu, masa kita mau hutang justru mengeluarkan uang, itu kan aneh,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)