Uang BUMDes di Pangandaran Ini Digasak Orang Dalam?

Ilustrasi. Foto: Net/Ist

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Salah satu Badan Usaha Milik Desa  atau BUMDes di Pangandaran yang tepatnya di Desa Padaherang, Kecamatan Padaherang diduga dibobol oleh oknum staf Desa. Uang puluhan juta rupiah yang hilang sampai saat ini masih belum tahu di mana rimbanya. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun, hilangnya sejumlah uang puluhan juta rupiah di rekening atas nama BUMDes Buana Mukti Desa Padaherang tersebut, diduga dicairkan oleh staf Desa Padaherang dengan memalsukan KTP-el menggunakan surat keterangan (Suket) Ketua BUMDes yang lama, yakni Wisnu Arya dan Bendaharanya Siti Anjar. 

Saat Koran HR konfirmasi perihal tersebut, Wisnu mengatakan dirinya merasa sangat dirugikan secara moral karena proses penarikan uang di rekening BUMDes tanpa sepengetahuannya, dan juga Bendahara tidak mengetahuinya. Setelah masa pergantian kepengurusan, kata Ia, baru terkuak ada yang hilang hingga puluhan juta rupiah setelah dicek di buku rekening BUMDes oleh pengurus yang baru. 

“Saya sangat dirugikan sekali. Ini menyangkut nama baik saya sebagai Ketua BUMDes yang lama,” jelas WA saat dikonfirmasi Koran HR, Senin (8/4/2019).

Wisnu menambahkan, pada Bulan November 2018 masa kepengurusan dirinya sudah habis, dan pada bulan maret 2019 lalu sudah dilakukan pergantian, tetapi spesimen penarikan uang di rekening BUMDes belum diubah. Namun setelah dicek buku rekening tersebut saldonya ada Rp. 17,5 juta, padahal dari awal Penerimaan dari Desa sebesar Rp. 100 juta belum pernah dilakukan penarikan. 

“Saya kaget informasi hilangnya uang di rekening BUMDes tersebut dari Pengurus yang baru, padahal saya bersama bendahara belum pernah melakukan penarikan sama sekali. Saya berharap pelaku yang memalsukan identitas dan tanda tangan saya dapat mempertanggungjawabkan, baik di masyarakat maupun secara hukum,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Desa Padaherang, Imron, mengatakan, pihaknya memastikan bahwa pada bulan Desember 2018 dari rekening Desa sudah mentransfer permodalan untuk BUMDes sebesar Rp. 100 juta. Karena masa jabatan pengurus BUMDes habis, maka dibentuklah kepengurusan yang baru.

“Saat spesimen yang baru akan dibuat oleh pengurus terpilih, Ketua, Sekretaris dan Bendahara mengadu ke saya bahwa saldo di rekening BUMDes tinggal Rp. 17 jutaan. Otomatis saya kaget dan tidak percaya, maka saya minta ke pengurus terpilih untuk mencari informasi ke pihak Bank,” jelas Imron saat dikonfirmasi Koran HR, Senin (8/4/2019).

Imron menambahkan, setelah dilakukan pengecekan ia menyatakan memang benar ada transaksi penarikan uang di Rekening BUMDes sebanyak tiga kali di Bank BJB Banjarsari, pertama tanggal 12/3/2019 sebesar Rp. 20 juta, pengambilan kedua tanggal 18/3/2019 dua kali Rp. 50 juta dan Rp. 10 juta. Sementara itu data pengambilan ada di dirinya. 

“Ternyata setelah dilakukan penelusuran, menanyakan ke pengurus yang lama, tidak mengetahui sama sekali. Bahkan ada dugaan pemalsuan identitas dan tanda tangan Ketua dan Bendahara. Upaya selanjutnya juga pernah dilakukan pengecekan CCTV Bank, kebetulan suami salah satu pengurus lama ada yang menjadi Satpam di Kantor BJB Banjarsari, tetapi belum diketahui secara pasti,” pungkas Imron seraya menjelaskan secara detail data-data ada pada dirinya. 

Sementara Kepala Desa Padaherang, Suryati, saat dikonfirmasi mengatakan, dirinya selama menjadi kepala Desa selama 11 tahun tidak pernah ada masalah, dan dirinya memastikan bahwa uang peruntukan permodalan BUMDes sebesar Rp. 100 juta sudah direkening BUMDes sudah di luar pengawasan dirinya. 

“Malah saya tahu dari pengurus BUMDes yang baru bahwa uang di rekening tersebut sisa saldonya Rp. 17,5 juta. Langsung saya lakukan pengecekan ke staf saya dan tidak ada yang mengaku,” kata Suryati saat dikonfirmasi via telpon, Senin (8/4/2019).

Suryati menambahkan, BUMDes tersebut dibawahi oleh Kesra dan Bendahara BUMDes yang lama yang merupakan staf di desa saat ini setelah adanya pergantian. Dan ketika dirinya menanyakan, tidak ada yang mengakui menggunakan uang tersebut. 

“Saya pernah menyuruh mengambil buku rekening dari pengurus lama untuk memastikan uang di rekening BUMDes aman. Karena pengurus lama sudah tidak aktif dan disimpan di Kesra bidang yang membawahi BUMDes, eh malah kejadian seperti ini,” tandas Suryati.

Suryati menjelaskan, hilangnya uang pada rekening salah satu BUMDes di Pangandaran tersebut dirinya sudah berusaha menyelesaikan secara baik-baik, dua stafnya, pengurus lama dan pengurus yang baru melakukan musyawarah, bahkan menghadirkan pihak kecamatan hingga akhirnya belum ada titik temu.

“Kasus hilangnya uang di rekening BUMDes tersebut belum ada titik temu, dan sampai saat ini seolah saling tuduh, tidak ada yang mengaku keterlibatan hilangnya uang tersebut,”pungkas Suryati. (Mad/Koran HR)

Loading...