Aksi Statis, Ratusan Buruh PT APL Kota Banjar Suarakan Aspirasi dan Tuntutan

Aksi statis, buruh PT APL Kota Banjar suarakan aspirasi dan tuntutan di lingkungan pabrik, Jum'at (17/5/2019). Foto : net/ist

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Ratusan buruh PT. Albasi Priangan Lestari (APL) Kota Banjar, melakukan aksi statis di lingkungan pabrik, Jum’at (17/5/2019). Aksi yang berjudul “Menolak Lupa, Awal Semula Perjuangan Nyata Untuk Terus Bergelora” ini, dilakukan untuk mengenang momen bersejarah buruh APL dalam memperjuangkan hak.

Beberapa aksi pernah dilakukan ratusan buruh pabrik kayu lapis tersebut, seperti aksi Bipartit I pada (27/03/2017), Bipartit II (30/03/2017), MAYDAY, Aksi Dua Belas Mei (ADM) dan Aksi Tujuh Belas Mei (ATM).

Aksi-aksi tersebut berawal pada kejadian 1700 buruh diliburkan (dirumahkan) tanpa kepastian. Saat itu buruh menuntut Status Kerja & Hak Upah Cuti Hamil/Melahirkan bagi buruh perempuan.

Ketua Serikat Irwan Herwanto menjelaskan, aksi statis dilakukan buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Sinar Baru Banjar (SPSBB), bertujuan untuk menyuarakan aspirasi dan tuntutan buruh.

Selain itu, lanjutnya, sekaligus mengingatkan kaum buruh khususnya buruh Albasi Priangan Lestari, untuk lebih semangat dalam memperjuangkan hak demi terciptanya Upah Layak, Kerja Layak, Hidup Layak dan kesejahteraan bagi buruh dan keluarga.

Mengingat masih banyaknya hak-hak yang belum diperoleh, baik itu terkait upah yang dinilai masih rendah, status kerja yang belum jelas, syarat-syarat kondisi kerja yang belum sesuai, jaminan sosial & kesehatan buruh dan keluarga, serta Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3) yang masih jauh dari harapan, disamping kewajiban sebagai buruh yang setiap hari dilaksanakan.

Selain itu yang menjadi sangat krusial saat ini terkait uang makan buruh yang hanya Rp 3500 /hari, yang jika dihitung untuk saat ini sama sekali jauh dari kata cukup, tidak seimbang dengan kebutuhan kalori buruh.

Tidak hanya itu, bahkan mendekati hari lebaran ini masih terjadi pelanggaran dan kesewenang-wenangan yang dilakukan pihak perusahaan, mulai dari aturan kerja yang dikompetisikan, peliburan sepihak, pemutusan hubungan kerja sepihak dan hak-hak pekerja yang lainnya yang tidak dipenuhi.

Irwan Herwanto mengatakan bahwa aksi statis kali ini lebih ke JASMERAH (Jangan Sesekali Melupakan Sejarah).

Menurutnya, perubahan bagi kaum buruh tentunya harus melalui perjuangan yang sangat keras oleh buruh itu sendiri. “Perusahaan tidak akan serta merta memberikan hak buruh begitu saja tanpa kita sendiri yang memperjuangkan,” katanya.

“Selain itu, beberapa pencapaian yang sudah kita raih sampai saat ini terutama tentang hak upah cuti hamil dan hak-hak lainnya, jelas-jelas didapat atas perjuangan kita sendiri kaum buruh,” ujarnya.

Ia berharap, buruh bisa lebih sadar dan lebih bersemangat membangun kekuatan memperjuangkan hak dan kesejahteraan.

“Buruh juga harus cerdas dalam menjalani pekerjaan dalam lingkup hubungan industrial ini,” pungkasnya. (Hermanto/R5/HR-Online)