Curug Tilu Pangandaran Tawarkan Spot Langka

Curug Tilu
Curug Tilu di Desa Langkaplancar, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran. Foto: Istimewa

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Destinasi wisata di Kabupaten Pangandaran ternyata bukan hanya Pantai saja. Pasca mekar dari Ciamis, berbagai destinasi wisata baru muncul, seperti Curug Tilu Pangandaran. Sebelumnya, banyak yang ditemukan, mulai ratusan hingga ribuan goa, ratusan air terjun hingga pemandangan sawah terasering.

Air terjun yang bernama Curug Tilu Pangandaran ini dibuka oleh warga Desa Langkaplancar, Kecamatan Langkaplancar. Curug yang memiliki 3 spot itu tidak sulit ditemukan meski belum ada petunjuk jalan. Pasalnya, di wilayah tersebut hampir semua orang mengenalnya.

Bila akan mengunjungi, butuh waktu sekitar 30 hingga 45 menit yang menempuh jarak sekitar 25 km dari Pusat Perkotaan Pangandaran. Dengan jalan yang sudah mulus, pengunjung bisa bertanya ketika sudah tiba di Dusun Cipancur, Desa Langkaplancar. Untuk mencapai lokasi, membutuhkan waktu sekitar 10 menit menggunakan sepeda motor. Akses ke sini sayangnya belum dicor. Sehingga saat hujan tidak memungkinkan bisa dilewati, kecuali menggunakan jenis motor trail.

Diketahui, Curug ini masih berada di wilayah Perum Perhutani yang kini dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat. Jika dilihat, ngarai begitu indah, aliran sungan Cimandala yang berkelok-kelok menambah lengkap pemandangan asri khas pedesaaan.

Sementara untuk bisa turun ke bawah, pengunjung perlu berjalan kaki. Sedangkan tidak jauh dari lokasi parkir motor terdapat bukit bebatuan yang dikenal  Haur Rangrang.

Keunikan Curug Tilu Pangandaran

Menurut Sudir (58), salah satu anggota BPD Desa Langkaplancar, Haur Rangrang memiliki cerita yang cukup unik, yakni bukit ini ditumbuhi oleh bambu kecil atau disebut tamiang. Jika di bukit ini daun-daun pohon di sekitarnya rontok hingga hanya kelihatan batuannya saja, itu pertanda akan ada musim kemarau panjang.

“Di sana juga masih terdapat binatang langka, seperti Elang Jawa, Lutung, Kera, dan Harimau. Saya kira Potensi di sini tidak kalah dengan tempat lainnya, seperti peninggalan geologi, peninggalan budaya langkaplancar, flora, fauna, produk pertanian langkaplancar, sosial masyarakat yang agamis,” katanya, Senin (20/05/2019).

Perlu diketahui, lanjut Sudir, Salah satu hasil pertanian dari wilayahnya tersebut  adalah Gula Aren, Kolang-kaling, Kapol, Pala dan Kopi. Gula Aren Langkaplancar, kata Sudir, memang sudah terkenal sejak dulu.

Saat berkunjung ke lokasi tersebut, sambungnya, para pengelola sudah menyiapkan makan siang berupa Nasi Leumeng, tetapi syaratnya harus memesan dulu.

“Nasi Leumeung adalah nasi liwet yang dimasak dengan bambu khusus, sehingga tidak memerlukan waktu yang terlalu lama untuk masak.  Saya berharap agar akses jalan menuju ke Curug Tilu segera bisa dicor karena saya yakin walau di Pangandaran banyak, tapi ini berbeda,” pungkasnya. (Askar/Koran HR)

KOMENTAR ANDA