Hektaran Sawah di Ciamis Terancam Gagal Tanam

Sawah terancam gagal tanam
Cuaca kemarau melanda sebagian wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Akibatnya, ratusan hektar sawah di wilayah Kecamatan Pamarican, dilanda kekeringan dan terancam gagal tanam. Foto : Suherman/ HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Cuaca kemarau melanda sebagian wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Akibatnya, ratusan hektar sawah di wilayah Kecamatan Pamarican, dilanda kekeringan dan terancam gagal tanam.

Dari pantauan Koran HR di lapangan, sejumlah wilayah pertanian kondisinya kini mengering dan tidak bisa diolah. Sepertihalya wilayah pertanian di Desa Sukamukti dan Sukajadi. Ratusan hektar sawah di dua desa tersebut kini kondisinya tandus, sehingga petani kesulitan untuk mengolah sawah tersebut.

Ketua Poktan Desa Sukamukti, Hamid, menuturkan, lokasi pertanian di wilayah Desa Sukamukti dalam kondisi darurat air. Pihaknya mengaku tidak bisa mengelola lahan akibat kekeringan yang melanda.

“Ada sekitar 95 hektar yang total tidak bisa dikelola. Semua areal sawah kering. Jika dalam waktu dekat ini tidak turun hujan, saya yakin petani akan merugi dan gagal tanam. semua persemaian pasti akan mati,” kata Hamid, Senin (20/05/2019).

Menurut Hamid, untuk mengantisipasi terjadinya gagal tanam, pihaknya masih berusaha berkoordinasi dengan anggota Poktan. Kordinasi tersebut dilakukan untuk memecahkan permasalahan yang terjadi.

“Kendala petani adalah sumber mata air yang tidak ada. Selokan yang ada tidak mungkin mampu mengkafer semua area. Jangankan untuk mengairi 95 hektar yang kini kekeringan, untuk mengairi lahan demplot saja bingung,” katanya.

Selain 95 hektar sawah di Desa Sukamukti, ratusan hektar sawah di Desa Sukajadi pun kondisinya sama. Semua sawah kering dan tidak bisa dikelola. Ketua Poktan Sri Rahayu 4 Desa Sidaharja Pamarican, Ismanudin, membenarkan hal itu.

Menurut Ismanudin, kendati sebagian wilayah pesawahan di Desa Sudaharja sudah bisa ditanami, namun kondisi kemarau saat ini tetap saja mengancam terhadap pertumbuhan tanaman padi.

“Sebagian wilayah belum bisa ditanami. Sebagian lagi sudah bisa ditanami. Namun tidak menutup kemungkinan, kemarau ini akan berimbas juga terhadap pertumbuhan padi yang baru ditanam. Untuk antisipasi, jalan satu-satunya paling kita akan menurunkan pompa air,” katanya, Senin (20/05/2019).

Kekeringan juga melanda area pesawahan di Desa Pasirnagara, Kecamatan Pamarican. Kepala Desa Pasirnagara, Kusmana, Selasa (21/05/2019), menyebutkan, sekitar 65 hektar lahan terancam kekeringan.

“Dari catatan saya, sudah ada 65 hektar yang terancam kekeringan. Untuk sebagian wilayah memang masih tertolong denga pompanisasi dari Sungai Cikembang. Namun untuk wilayah lainnya, kini sudah mengalami kekeringan,” katanya.

Di termpat terpisah, Kepala Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pamarican, Ani Alviah, membenarkan kondisi kekeringan yang melanda wilayah pertanian di Pamarican saat ini.

“Sebagian wilayah di Pamarican sedang dilanda kekeringan. Namun kategorinya baru sebatas ancaman kekeringan. Belum fatal dan masih bisa ditanggulangi dengan cara pompanisasi. Kecuali area tadah hujan. Maka dari itu, mulai sekarang saya intruksikan seluruh petani agar bergerak cepat menurunkan pompa air,” katanya.

Lebih lanjut, Ani menjelaskan bahwa cuaca memang bisa berubah dan tidak bisa diprediksi dengan cara hitungan Jawa. Tidak menutup kemungkinan, jika cuaca kemarau berlanjut, petani harus secepatnya merubah pola tanam ke komoditi lain.

“Tapi mudah-mudahan hujan masih ada,” katanya. 

Selain kekeringan yang melanda wilayah Kecamatan Pamarican, sejumlah area pesawahan di Kecamatan Purwadadi pun kondisinya sama. Salah satunya terjadi di Desa Kutawaringin, di desa ini, ratusan hektar sawah tidak bisa dikelola akibat tidak adanya air. Terlebih pesawahan ini adalah lokasi tadah hujan, sehingga potensi terancam gagal tanam cukup besar. (Suherman/Koran HR)