Pemberian Izin Pasar Malam di Alun-alun Langensari Banjar Diprotes

Puluhan warga dari perwakilan pengurus dan anggota Karang Taruna, LPM Desa Langensari, PKL Alun-alun Langensari dan perwakilan pedagang Pasar Langensari, serta sejumlah OKP, saat mendatangi Kantor Kecamatan Langensari, Senin (13/05/2019). Photo : Nanang Supendi/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-Pelaksanaan pasar malam atau Pasar Ramadhan yang digelar di Alun-alun Langensari, Kota Banjar sejak 10 Mei dan rencananya akan berakhir 12 Juni 2019 mendatang, diprotes masyarakat setempat.

Setelah sempat menjadi gunjingan di media sosial, puluhan warga yang terdiri dari perwakilan pengurus dan anggota Karang Taruna, LPM Desa Langensari, PKL Alun-alun Langensari dan perwakilan pedagang pasar Langensari, serta sejumlah OKP, akhirnya mendatangi Kantor Kecamatan Langensari, Senin (13/05/2019).

Kedatangan sejumlah warga pun diterima di pendopo kantor kecamatan oleh Camat Langensari, Asno Sutarno, dan Pjs. Kepala Desa Langensari, Angga. Termasuk hadir pula pengelola Bazar Ramadhan yang dimotori PAC Pemuda Pancasila Langensari, dan disaksikan Kapolsek Langensari, AKP. Aah Hermawan.

Dalam kesempatan itu, warga memprotes dan keberataan atas digelarnya pasar malam karena dinilai mematikan pelaku usaha lokal, baik PKL Alun-alun maupun pedagang pasar. Selain itu, warga juga mempertanyakan soal perizinan yang dikeluarkan segenap lembaga terkait.

Ketua Karang Taruna Setia Karya Desa Langensari, Intan Eka Wibawa, mengungkapkan, banyak masyarakat maupun pedagang kecil yang berada di sekitar Alun-alun Langensari dan pedagang Pasar Langensari mengeluh. Mereka mengaku pendapatan usahanya menurun imbas dari adanya Pasar Ramadhan.

“Keluhan ini saya dengar langsung dari masyarakat, terutama pedagang mainan dan pedagang pakaian di pasar. Ini bentuk memperjuangkan atas mereka merasa keberatan dengan hadirnya pasar malam yang rencananya digelar hingga sebulan penuh,” ucapnya, saat berdialog dengan pemerintah setempat.

Dia pun menyebutkan, bahwa dasar protes tidak hanya dari sektor pendapatan ekonomi pedagang lokal, tapi juga mengenai akses pelayanan publik menuju kantor kecamatan, kantor desa serta SDN 3 Langensari yang menjadi terganggu.

“Ini sangat mengganggu. Kami pun pertanyakan rekomendasi perizinan yang diberikan kecamatan dan Desa Langensari. Yang kita tahu proposal pengajuan dari panitia itu lokasinya di jalan depan desa menuju ke arah Utara. Tapi nyatanya deretan stand terpasang sampai ke arah Barat,” kata Intan.

Hal serupa dikatakan Wakil Ketua Karta Langensari, Sugeng. Dirinya merasa heran atas ketidak konsistenan pihak pemerintah kecamatan dan desa yang tidak akan memberikan izin, jika di tahun mendatang ada lagi penyelenggaraan pasar malam/pasar Ramadhan di Alun-alun Langensari.

“Waktu tahun lalu sudah ada komitmen pemerintah dan segenap komponen masyarakat, bahwa tidak akan lagi memberikan izin pasar malam di Alun-alun Langensari. Itu imbas karena memang dua tahun berturut warga sekitar protes. Nyatanya ini terulang kembali diizinkan. Makanya kami tagih komitmennya, dan mestinya bisa menghargai kesepakatan bersama waktu itu kala tahun 2016,” tuturnya.

Menurut Sugeng, pelaksanaan di kawasan tersebut tidak elok dan tidak memperhatikan keindahan lingkungan, yang mana kantor kecamatan dan Kantor Desa Langensari menjadi tertutup oleh stand-stand pameran. Atas kondisi tersebut, dirinya pun mempertanyakan mengenai kajian lingkungannya. Karena, akses pelayanan publik menjadi terganggu akibat Jalan Pelita II ditutup.

Untuk itu, pihaknya dan perwakilan masyarakat yang datang ke kantor kecamatan ini meminta agar lokasi pasar malam harus dipindahkan sekarang juga ke area depan Sport Center Langensari, atau diberikan kebijakan pasar malam tetap di Alun-alun, namun stand-stand yang ada digeser.

“Jika tak mau dipindahkan, ya kita beri solusi kebijakan lain, yaitu untuk stand-stand yang ada di depan kantor kecamatan dan kantor desa digeser atau dihilangkan. Kami pun meminta ada keputusan yang dituangkan dalam surat pernyataan di tahun berikutnya supaya tidak lagi memberikan izin lokasi Alun-alun digunakan pasar malam,” tandas Sugeng.

Ketua Forum Karangtaruna Kecamatan  Langensari, H. Ahmad Nursodiq, menambahkan, sekalipun sudah mengantongi izin dan tanda tangan dari Ketua RT/RW setempat, dan juga sebagian PKL, akan tetapi masyarakat sekitar tidak mendapatkan konfirmasi tentang hal ini.

“Kami tetap lebih mendengar aspirasi dari advokasi yang dihimpun dari masyarakat atas keberatan dengan adanya aktiftas tersebut. Karena dirasa merugikan pedagang  pasar setempat dan pedagan kaki lima. Kita tetap ada di pihak masyarakat dan akan tetap mengawal aspirasi keberatan ini,” kata Ahmad.

Salah satu pengurus LPM Desa Langensari, Gun Gun, juga mempertanyakan aturan lalu lintas jalan sekitar Alun-alun, mengenai boleh atau atau tidaknya lokasi tersebut digunakan untuk kegiatan pasar malam, terlebih izin pelaksanaannya hingga satu bulan.

“Bagaimana kajian lalu lintasnya, apakah diperbolehkan. Sebab ini mengganggu akses jalan warga dan pelayanan publik. Coba lihat, tak pantas lah,” ujarnya.

Lanjut Gun Gun, belum lagi halaman Gedung Dakwah dipakai menjadi arena bermain pasar malam. Begitu pula juga lahan parkir Masjid Agung Assalam Langensari yang dipakai menjadi area parkir pengunjung, sehingga mengganggu jama’ah yang melaksanakan aktifitas ibadah.

“Kita melihat ini menggangu kegiataan dan aktifitas masyarakat, terlebih saat ini merupakan bulan Ramadhan yang sudah barang tentu kegiatan keagamaan di mesjid padat dilaksanakan,” tandas Gun Gun.

Pernyataan protes pun datang dari Pengurus Paguyuban Pasar Langensari, Dadi Rusmayadi, yang merasa terganggu dengan adanya Bazar Ramadhan. Menurutnya, bulan Ramadhan mereka tunggu setiap tahunnya. Karena, bulan Ramadhan merupakan waktu bagi pedagang pasar yang rutin berjualan untuk bisa memanen rejeki. Tapi ada pasar malam, akhirnya omzet jadi berkurang.

“Bukannya kami menghalangi orang lain berusaha, tapi tolong pasar malam jika bisa dipindahkan lokasinya jangan di Alun-alun Langensari,” harap Dadi.

Di akhir pertemuan, pihak pengelola atau panitia pasar malam memilih opsi siap menggeser sejumlah stand, khususnya yang terpasang di jalan depan kantor kecamatan dan Desa Langensari digeser atau dipindahkan, namun masih dalam areal Alun-alun Langensari.

Pada pertemuan tersebut, terlihat belasan anggota OKP Pemuda Pancasila Kecamatan Langensari hadir, namun di luar pendopo. Bersyukur, meski sedikit memanas tapi semuanya masih dapat terkendali dan tidak sampai terjadi hal-hal yang tak diharapkan. (Nanks/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA