Sejarah Pesantren Roudlotul Huda II Kota Banjar

Pendiri Pesantren Roudlotul Huda II Kota Banjar
Kyai Khoerudin, pendiri Pesantren Roudlotul Huda II Kota Banjar yang berlokasi di Bojongkantong, Kecamatan Langensari. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Di tengah keramaian waktu ngabuburit di sekitar Pasar Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, terdengar suara para santri pesantren Roudlotul Huda II Kota Banjar cukup keras melantunkan nadhoman ‘Imriti’, yakni sebuah kitab bidang nahwu karya Syekh Syarifuddin Yahya Al-Imrity asal Mesir.

Saat Koran HR menyambangi PPRH II di Lingkungan Margasari, Kelurahan Bojongkantong, Minggu (19/05/2019), ternyata santri melantunkan nadhom sambil menanti guru yang akan membacakan kitab kuning kilatan di bulan Ramadhan.

Ketika salah satu pengasuh sudah hadir di mushola yang dijadikan tempat mengaji, kegiatan ‘ngaji romadon’ pun dimulai. Sementara itu, pendiri PPRH II, Kyai Khoerudin, tampak sedang duduk santai di depan rumah. Sejak Subuh hingga pukul 15.00 WIB sebelum waktu Ashar.

Di sela-sela waktu santai itu, Kyai yang akrab dipanggil Pak Irun itu, mempersilakan Koran HR untuk silaturahim ke rumahnya yang masih satu komplek dengan mushola Pesantren Roudlotul Huda II Kota Banjar.

“Dulu saya mulai mengajar santri tahun 1987, setelah saya kedatangan 10 tamu utusan dari pesantren saya dulu di Roudlotul Huda Purworejo, Jawa Tengah,” kata Kyai Irun, kepada Koran HR, membuka percakapan.

Ia menuturkan, saat kedatangan 10 tamu itu merasa kebingungan. Pasalnya, ia diberikan amanat untuk mengajar oleh gurunya, KH Ibrahim Ya’kub, yang juga mertuanya sendiri. Kebingungan itu bukan tanpa alasan, selain tempat untuk mengajinya yang belum ada dan tempat menginap santri tersebut, juga ketika menolak mengajar ia takut dimarahi gurunya itu.

Singkat cerita pun ia mengambil keputusan menerima para santri itu mengaji ke dirinya, terutama di bidang Nahwu Sorof. Metode yang digunakan pun tidak jauh berbeda dengan yang ia pelajari selama di pesantren, yakni sorogan dan bandungan.

“Karena santrinya semakin bertambah, akhirnya saya membuat mushola kecil bersama masyarakat. Selain untuk ibadah, juga untuk mengaji. Alhamdulillah, lambat laun diberikan rezeki oleh Alloh bisa membangun kamar-kamar untuk santri. Bahkan, sejak sekitar tahun 2000-an semakin banyak kamar dan santrinya,” jelas Kyai Khoerudin.

Sebelum kedatangan 10 tamu itu, lanjut Kyai Khoerudin, dirinya sempat mengenyam pendidikan pesantren di Cangkring, Banjarsari, Kabupaten Ciamis, selama 3 tahun dan dilanjutkan ke Roudlotul Huda Purworejo selama 10 tahun.

Ia mengaku di keluarganya dikenal sebagai sosok yang kurang pandai dibanding yang lainnya. Namun, berkat ketekunan dan kesungguhannya itu, ia bisa dipercaya oleh gurunya untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Bahkan, ia dipercaya menjadi menantunya.

“Setelah pulang pondok dan berumah tangga, saya di sini tidak langsung mengajar, tapi sempat Fatroh (vakum), tidak mengajar mengaji. Namun, saya melakukan kegiatan sebagaimana para petani di desa, bahkan sempat menjadi buruh tani. Nah, setelah tamu itu datang, baru saya fokuskan mengajarkan ilmu soal ini,” tambahnya.

Meski awal mulanya dirinya sempat mendapatkan perlakuan tidak enak dari orang-orang sekitar, bahkan hingga mengalami muntah darah yang diduga diguna-guna, namun ia tetap berpikir positif dan mengajak warga serta para Kyai kampung di sana untuk bersama-sama menuntun umat belajar agama Islam.

“Saya itu sangat berterima kasih sekali adanya Kyai yang rela mengajarkan Al Qur’an ke anak-anak. Itu kalau di mushola-mushola. Kalau di sini belajarnya sampai maknanya juga, karena di sini nahwu shorof. Alhamdulillah, saya diberikan kemudahan pikiran oleh Alloh bisa membaca kitab apapun yang berbahasa Arab gundulan. Sebagai bentuk terima kasih itu, saya ajarkan ilmunya ke santri,” tuturnya lagi.

Berkaitan dengan pentingnya belajar agama, terutama nahwu shorof, kata Kyai yang biasa dipanggil Bapak oleh santrinya itu, ilmu tersebut merupakan alat untuk mengetahui makna serta isi dari bahasa Arab, terutama dari Al Qur’an, Hadist serta literatur Islam. Agar bisa mempelajari itu, ia berpesan agar santri harus memiliki cita-cita dan keseriusan dalam belajar.

“Pendakwah juga sangat perlu memiliki keilmuan tersebut agar tidak salah dalam menyampaikan ilmu Alloh. Aslinya saya takut sekali berceramah ke masyarakat soal agama Islam, kecuali masalah bab sholat. Saya hanya mau ceramah soal sholat saja, sebab sholat adalah ibadah yang dilakukan setiap hari. Menurut saya, sholat itu juga sangat sulit sekali,” kata Kyai Khoerudin.

Di temui terpisah, Maesur Ibrahim, pengasuh PPRH II, yang juga anak Kyai Khoerudin, mengatakan, saat ini pesantrennya memiliki puluhan santri yang berasal dari wilayah Kota Banjar, Ciamis dan Cilacap, Jawa Tengah.

Meskipun fokus pengajaran sebagaimana pesantren salaf, namun ia juga memberikan kesempatan kepada para santrinya untuk belajar di sekolah yang ada di sekitar pesantren, mulai sekolah tingkat SLTP maupun SLTA.

“Alhamdulillah, kita juga bekerjasama dengan MA Yaba Al Maarif. Jadi, siswa di sana sambil mesantren dan mengaji di sini bisa, ataupun santri sini sekolah di sana. Ataupun juga santri sekolah di tempat lainnya,” terangnya.

Selain mengaji, lanjut Maesur, ia juga berencana akan mengembangkan bidang wirausaha santri agar ke depannya bisa lebih mandiri. Karena, santri Pesantren Roudlotul Huda II Kota Banjar juga harus bisa segala bidang, mengajinya baik, usahanya juga baik. “Intinya kita harus siapkan mereka menjadi generasi yang handal,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)