Warga Kota Banjar Sulap Limbah Alpukat Jadi Rupiah

Warga Kota Banjar Sulap Limbah Alpukat
Tatang saat memantau tanaman alpukat yang sedang dikembangkan. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Tatang, salah satu pegawai di UPTD Balai Benih Padi Dinas Pertanian Kota Banjar, menangkap peluang yang begitu besar dari limbah alpukat, yakni memanfaatkan bijinya. Ia mengubah biji yang dibuang begitu saja menjadi pundi-pundi rupiah.

Saat ditemui Koran HR di sela-sela kesibukannya, Tatang menjelaskan bila ia bersama pegawai lainnya tengah mengembangkan biji alpukat yang disambung pucuk (dikawinkan) dengan berbagai jenis alpukat unggulan, seperti miki, kendil, aligator serta jenis lainnya.

“Yang kita cari limbah alpukat dari penjual jus buah. Kita ambilnya itu bebas, jenis apapun kita ambil. Ada yang dikasih cuma-cuma, ada juga yang dibeli. Harganya variatif, ada yang sekarung Rp 30 ribu. Nah dari ini saja kita sudah terbayang untungnya kan,” katanya, kepada Koran HR, Selasa (21/05/2019).

Ia menambahkan, teknik sambung pucuk yang ia lakukan pada biji alpukat yang sudah tumbuh sekitar 2 hingga 3 bulan. Ia menyambungnya dengan jenis alpukat dari batang yang berasal dari bibit yang baik, seperti miki, kendil, aligator dan sebagainya.

“Bijinya bebas, tapi atasnya yang kita sambung bisa kita tentukan sesuai dengan kebutuhan, misal kita sambung dengan jenis miki. Jadi, ini sangat bagus sekali bila kita kembangkan. Dari tiap bibit yang sudah jadi dan siap jual, kita jual dengan harga yang cukup variatif, seperti ada yang harga Rp 25 ribu per batangnya,” terangnya lagi.

Gagasan memanfaatkan limbah itu, lanjut Tatang, merupakan kegiatan untuk mengisi kekosongan saat tidak ada pekerjaan di Balai Benih dengan teman-temannya itu. Sejak digeluti pada 8 bulan yang lalu, ia mengaku mendapatkan banyak keuntungan secara finansial.

“Saya sudah kirim ke Ciamis, Tasikmalaya, hingga Cilacap. Alhamdulillah respon sangat luar biasa sekali. Kita pakai Facebook untuk menjual ini, termasuk berkat ikut forum di medsos ini,” tambahnya.

Soal alpukat, lanjut Tatang, memiliki karakter yang tidak mudah tumbang di pasaran alias harganya selalu stabil. Peluang lainnya di Kota Banjar belum ada yang fokus pada budidaya alpukat, sehingga bisnis tersebut sangat menggiurkan.

“Tidak ada salahnya kita mulai untuk mengembangkan sejak saat ini. Teknis sambung pucuk ini sengaja dilakukan karena akan mempercepat pertumbuhan dan buahnya, yakni 3 tahun sudah mulai ada buahnya. Berbeda ketika bijinya dibiarkan tumbuh sembarangan yang bisa berbuah mulai umur 10 tahun ke atas,” katanya lagi.

Dari kegiatan yang tengah dikembangkannya itu, ia harap ke depan semakin lebih baik lagi dan Kota Banjar bisa memiliki bibit unggul, serta menjadi pemasok buah alpukat ke daerah lain.

“Kita jangan ambil dari luar terus, harusnya kita juga bisa dong memasok ke daerah lain. Ya dari pemanfaatan limbah alpukat ini saja semoga budidaya alpukat semakin berkembang,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)