DKUKMP Kota Banjar Rilis Perkembangan Harga Kebutuhan Pokok

DKUKMP Kota Banjar
Kepala Bidang Perdagangan DISKUKMP Kota Banjar, Mamat Rahmat. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (DKUKMP) Kota Banjar, merilis perkembangan harga barang kebutuhan pokok pada waktu Lebaran, yakni periode 31 Mei hingga 10 Juni 2019 lalu. Dari daftar yang ada, tidak ada lonjakan harga signifikan selama waktu Lebaran.

Seperti halnya beras premium bertahan di harga Rp 11.000 perkilogram, beras medium naik Rp 1.000 dari harga Rp 8.000 perkilogram, gula pasir bertahan di angka Rp 13.000 dan minyak curah bertahan di harga Rp 10.000 perkilogramnya.

Sementara itu, daging sapi bertahan di harga Rp 120.000, daging ayam broiler turun Rp. 2.000 dari harga Rp 35.000 perkilogramnya. Begitu juga telur ayam broiler mengalami penurunan Rp 1.000 dari harga Rp 23.000.

Adapun harga cabe merah kriting bertahan di harga Rp 50.000,  cabe merah biasa turun Rp 10.000 dari harga Rp 60.000. adapun cabe rawit hijau naik Rp 16.000 dari harga awal Rp. 10.000 serta cabe  rawit merah naik Rp 11.000 dari harga Rp 14.000 perkilogramnya. Kemudian bawang putih turun Rp 5.000 dari harga Rp 35.000 serta bawang merah turun Rp 4.000 dari harga awal Rp 32.000.

Menurut Kepala Bidang Perdagangan DIKUKMP Kota Banjar, Mamat Rahmat, harga selama waktu lebaran 2019 ini relatif stabil. Meski ada kenaikan, namun terbilang wajar.

Ia mengungkapkan, bila terkendalinya harga di pasaran tersebut tidak lepas dari koordinasi semua pihak, baik tim pemantau harga di dinasnya, Dinas Pertanian serta elemen terkait lainnya.

“Kemarin kita sempat khawatir pada bawang putih, tapi setelah kita melakukan sidak harganya stabil, bahkan turun Rp 5.000 perkilogramnya,” jelasnya kepada Koran HR, Selasa (11/06/2019).

Mamat menambahkan, keberhasilan dalam mengontrol harga di pasaran tersebut agar tetap stabil tidak lepas dari upaya pihaknya dalam merangkul pedagang. Salah satu contohnya pedagang daging, pihaknya sengaja membentuk asosiasi pedagang daging. Dengan begitu, pengendalian harga akan lebih mudah karena mereka sudah masuk dalam satu wadah. Selain membuat wadah, jelas Mamat, pihaknya pun juga melakukan pembinaan terhadap pedagang sebagai salah satu upaya dialogis.

“Melalui upaya persuasif itu ternyata lebih manjur. Jadi, kita menekan harga di pasaran lebih enak dan humanis.  Alhamdulillah ini sudah berjalan sejak 3 tahun terakhir dan harga selama waktu itu tetap stabil, terutama pada waktu lebaran,” paparnya.

PAD Pasar Banjar

Mamat mengungkapkan, PAD tahun 2019 dari Pasar Banjar sebesar Rp. 1,9 miliar. Besaran jumlah ini sama dengan tahun 2018 sebesar Rp 1,9 miliar. Namun jika dihitung dari angka realisasinya,  tahun 2018 mengalami ketidaktercapaian target sebesar 10 persen.

“Meski tidak tercapai 10 persen dari target di tahun 2018, namun secara pendapatan real-nya justru mengalami peningkatan. Nah dari data itu, kita berharap di tahun 2019 ini bisa tercapai,” ungkap Mamat.

Guna menggenjot pendapatan dari sektor retribusi pasar Banjar tersebut, lanjut Mamat, pihaknya pun tak tinggal diam, akan tetapi terus melakukan inovasi agar para pedagang semakin taat dalam membayarkan retribusinya.

“Kita tingkatkan dalam hal kebersihan pasar dan keamanannya. Ini dua hal penting yang biasanya jadi alasan mereka telat bayar. Kalau pasarnya bersih dan aman otomatis mereka juga melihat dan merasakan bahwa retribusinya itu bermanfaat juga bagi keberlangsungan usaha mereka. Jadi, agar target PAD tercapai perlu adanya inovasi,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)