Jaga Tradisi, IAID Darussalam Gelar Halalbihalal Kebangsaan

IAID Darussalam
Andang Firman, Kepala Kesbangpol Ciamis sedang memaparkan materi di acara Halalbihalal Kebangsaan IAID Darussalam, Senin (24/6/2019). Foto: Fahmi/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),– Halalbihalal dianggap sebagai tradisi Indonesia yang harus dijaga. Hal itu dijadikan dasar bagi Institut Agama Islam Darusalam (IAID) untuk menyelenggarakan Halalbihalal Kebangsaan dengan tema ‘Meneguhkan Kebangsaan dalam Menjalin Harmonisasi Ukhuwah Umat,’ di aula kampus IAID Darussalam, Senin (24/06/2019).  

Halalbihalal Kebangsaan dihadiri 100 peserta yang berasal dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAID dan Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M). Narasumber yang mengisi acara tersebut adalah Kepala Dinas Kesbangpol Ciamis, Drs.Andang Firman, T.MT, Biro Kemahasiswaan IAID Darussalam, Drs. Sumadi M.Ag dan  dan Nuhadi LC.M.A yang dikenal sebagai budayawan. 

Dalam sambutannya, Ilham Nu Suryana, Presiden BEM IAID Darussalam mengatakan, halalbihalal merupakan budaya asli Indonesia yang dikolaborasikan dengan nilai keagamaan. Menurutnya, kegiatan halalbihalal sudah dimulai sejak era KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Meskipun saat itu belum memakai istilah halalbihalal.

“Hal ini perlu dilestarikan sebagai refleksi budaya yang berawal sejak Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu meja.” katanya . 

Hal tersebut, kata Ilham, mendorong presiden Soekarno untuk memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara. KH Wahab dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat tersebut.

“Pada waktu itu, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Supaya mereka tidak punya dosa, maka harus dimaafkan atau dihalalkan. Para elit politik yang saling bertengkar itu harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga istilah silaturrahmi itu diubah menjadi istilah halalbihalal,” terang Ilham.

Sejak saat itu, Presiden Soekarno setiap Hari Raya Idul Fitri, mengundang semua tokoh politik agar datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi. Saat itu, istilah ‘halalbibihalal’ sudah digunakan. Akhirnya para elit politik bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

“Berangkat dari sejarah tersebut saya kira sangat stategis kita selaku mahasiswa menyelengarakan kegiatan ‘Halalbihalal Kebangsaan yang tujuannya untuk mempertegas koridor mahasiswa di poros tengah dalam rangka merajut harmonisasi Ukhuwah Wathoniah kita dalam porsi akademis. Dengan berbekalkan Adab dan Etika serta pengelolaan ilmu pengetahuan untuk mencegah hal-hal negatif yang berpotensi merusak nilai-nilai kebangsaan NKRI kita,” pungkasnya. 

Sementara, Kepala Kesbangpol Ciamis, Andang  Firman mengatakan pendidikan harus terus menerus digelorakan, agar moraliras bangsa tetap terjaga dengan pedoman bangsa UUD 1945. UUD 1945 ini, kata Andang, meruapakan kesepakatan para pendiri bangsa.

“Apalagi ancaman narkoba, budaya, separatis masih ada dan kita harus waspada seriap saat, agar bentuk-bentuk ancaman tersebut bisa diminimalkan, bahkan dihilangkan” tuturnya.

Lanjut Andang, tujuan pembangunan Indonesia tertera dalam pembukaan UUD 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. 

“Segenap mahasiswa diharapkan memperkaya diri dengan wawasan nusantara yang merupakan cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya. Apalagi kita punya kearifan lokal, dan kearifan lokal merupakan modal sosial yang potensial untuk menata kerukunan berbangsa dan bernegara,” paparnya. (Fahmi/R7/HR-Online) 

Loading...