Mitos “Poligami” di Astana Gede Kawali Ciamis

Astana Gede Kawali Ciamis
Batu Panyandungan dipercaya sebagai ukuran untuk orang yang mau melakukan Poligami. Foto : Eji Darsono/ HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Keberadaan Situs Astana Gede Kawali Ciamis bukan hanya sekedar tempat ditemukannya beragam tinggalan akreologi. Namun, masyarakat setempat mengenal beberapa kepercayaan yang bersifat mitos.

Ade Wirya, warga sekitar, Senin (17/06/2019), membenarkan, bagi masyarakat Ciamis, khususnya Kawali dan sekitarnya, keberadaan Situs Astana Gede tidak hanya sekedar tempat tinggalan budaya yang memiliki nilai penting.

Menurut Ade, pada tahun 70 an, keberadaan Batu Panyandungan dipercaya sebagai ukuran untuk orang yang mau melakukan Poligami. Poligami yang dimaksud bukan diartikan dalam arti sempit, yaitu laki-laki yang beristri dua. Namun, poligami yang dimaksud  termasuk rangkap jabatan dalam pekerjaan.

Lebih lanjut, Ade mengungkapkan, pada tahun 70 an, batu panyandungan selalu jadi ajang percobaan untuk mengukur kesanggupan diri untuk berpoligami. Yakni dengan cara mengelilinginya sambil menahan napas.

Endang, warga lainnya, Senin (17/06/2019), mengatakan, selain batu panyandungan, juga ada Batu Panglinggih yang terdiri dari dua batuan lempeng yang disusun menyerupai tempat duduk.

“Dulu batu tersebut kerap diangkat oleh para peziarah. Barang siapa yang kuat mengangkatnya, maka segala keinginannya akan terkabul,” kata Endang.

Menurut Endang, batu yang diduga tempat penobatan raja-raja Galuh di Kawali, juga memiliki mitos. Bahkan karena seringnya diangkat-angkat, batu tersebut pernah berantakan.

“Beruntung tidak berlangsung lama, sehingga batu kembali seperti sediakala,” ucapnya.

Eman, Jupel Astana  Gede Kawali, membenarkan, Batu Panyandungan yang berada di kawasan Situs menyimpan kepercayaan yang bersifat mitos. Namun, mitos tersebut hanya terjadi pada orang tua jaman dahulu.

Seiring dengan kemajuan jaman, lanjut Eman, mitos tersebut sudah mulai berkurang. Terlebih keberadaan batu panyandungan dipagar serta dalam keadaan terkunci. Sehingga tidak bisa sembarang orang bisa masuk.

Eman, bercerita, konon orang yang mau berpoligami harus mencoba dahulu mengelilingi batu tersebut sebanyak tujuh kali, dilakukan sambil menahan napas atau bersiul. Menurut certita, setiap orang yang mencobanya banyak yang tidak sangggup.

“Karena mereka merasa pusing,” katanya.

Rudi, Jupel lainnya, mengatakan, batu tersebut merupakan tempat disemayamkannya abu jasad Maha Prabu Lingga Buana yang gugur dalam perang bubat. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kepercayaan tersebut sudah mulai pudar.

“Meski menyimpan mitos, masyarakat saat ini lebih meyakininya sebagai Prasasti, tinggalan budaya bekas kabuyutan kerajaan Galuh,” katanya. (Dji/Koran HR)