Musim Kemarau, Sejumlah Wilayah di Kota Banjar Kesulitan Air Bersih

Banjar Kesulitan Air Bersih
Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjar. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),– Musim kemarau yang terjadi beberapa bulan ini menyebabkan sejumlah wilayah di Kota Banjar kesulitan air bersih karena mengalami kekeringan.

Hal itu dikatakan Kuslan, S.IP,  kepala seksi urusan darurat dan logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjar, Selasa (25/6/19).

“Memang ada beberapa daerah mengalami kesulitan air bersih, sementara ini baru ada dua desa yang melaporkan yaitu Desa Cibeureum dan Kelurahan Situbatu,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kuslan menambahkan, selain desa Cibeureum dan kelurahan Situbatu, beberapa daerah lain juga berpotensi kesulitan air bersih, yakni Desa Batulawang, Desa Neglasari, Desa Pasir Nagara dan Desa Cibodas. Menanggapi hal itu, Kuslan mengaku akan segera melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

“Hanya saja kami terkendala dengan ketersediaan mobil tangki air yang jumlahnya terbatas,” katanya.

Namun demikian, Kuslan mengatakan pihaknya siap melayani masyarakat walaupun terkendala sejumlah masalah, seperti terbatasnya jumlah mobil tangki air.

“Untuk kesiapan kami segera koordinasi, keterbatasan mobil tangki air juga bukan kendala besar, yang terpenting masyarakat bisa terlayani,” jelasnya.

Kota Banjar kesulitan air bersih, bukan satu-satunya daerah di Jawa Barat yang mengalami kekeringan saat musim kemarau tahun ini. Kekeringan juga melanda ratusan hektar sawah di Ciamis yang berada wilayah Kecamatan Pamarican, Kabupaten. Hal itu terjadi akibat curah hujan beberapa waktu belakangan ini terbilang sangat rendah.

Baca Juga: Hektaran Sawah di Ciamis Kekeringan

Ketua Poktan Desa Sukamukti, Hamid, menuturkan, kekeringan saat ini diakibatkan tidak adanya curah hujan sejak Bulan Mei 2019. Pihaknya mengaku akan terus berupaya untuk memperjuangkan nasib para petani.

“Karena kondisi saat ini sangat memprihatinkan, maka sejak tadi malam saya menurunkan pompanisasi untuk menanggulangi masalah ini. Terus-terang saja masalah ini sangat merepotkan bagi kami selaku petani,” katanya.

Menurut Hamid, pompanisasi yang dilakukan saat ini untuk menyelamatkan area demplot yang sudah menjadi program andalan petani di Sukamukti.

“Target kami adalah menyelamatkan dulu area demplot seluas satu hektar. Meski pompanisasi yang kami lakukan tidak akan mampu untuk mengairi semuanya, namun setidaknya ada sebagian wilayah demplot yang bisa diselamatkan,” katanya. (Muhlisin/R7/HR-Online)