Perlindungan Anak di Internet, Ini yang Harus Dilakukan Orang Tua

Perlindungan Anak di Internet, Ini yang Harus Dilakukan Orang Tua. Photo : Istimewa.

Berita Teknologi (harapanrakyat.com),- Perlindungan anak di internet perlu dilakukan orang tua. Pasalnya, Facebook, Instagram, YouTube, Twitter, Snapchat adalah sebagian dari daftar platform media sosial terus bertambah setiap waktu.

Dengan ketersediaan smartphone, tablet, laptop, dan desktop yang mudah, maka tidak mengherankan akhir-akhir ini banyak anak-anak yang menghabiskan waktu mereka untuk kegiatan online.

Jika anak semakin intens beraktivitas di internet, maka akan makin besar pula kemungkinan si anak mengakses konten-konten yang tak pantas, dari konten pornografi hingga konten berbahaya lain yang mengandung radikalisme. Bahkan, konten yang berhubungan dengan privasi dan keamanan finansial keluarganya.

Atas kondisi itulah perlindungan anak di internet harus diperketat oleh para orang tua. Pencegahan selalu menjadi konsep utama dalam memberikan perlindungan terhadap anak, dan konsep ini yang menjadi poin penting dalam Parental Control.

Berbicara mengenai Parental Control berarti bicara mengenai peran orang tua berinteraksi dalam kehidupan dunia maya anak-anaknya. Orang tua harus berperan untuk lebih pro-aktif melindungi anak ketika beraktivitas di internet tanpa anak merasa diintervensi oleh orangtuanya.

Karena, tanpa pengawasan yang tepat, maka anak-anak bisa menempatkan diri mereka sendiri dan keluarga mereka dalam bahaya. Masalahnya kesadaran orang tua untuk memberikan proteksi yang layak pada anaknya tidak dilakukan dengan maksimal.

Hal ini diketahui dari studi yang dilakukan ESET di kawasan APAC (Asia Pasifik). Dari temuan survei ESET mengungkapkan, hanya 29 persen responden yang menerapkan Parental Control pada perangkat yang digunakan oleh anak-anak mereka.

Temuan ini juga mengungkapkan bahwa 29 persen responden juga memberikan izin kepada anak-anak mereka untuk mengunduh program dan aplikasi sendiri.

Peneliti Senior ESET, FitzGereald, mengatakan, peran Parental Control harus lebih diperkuat, terutama dengan munculnya keterlibatan sosial atau platform konten. Saat usia muda, keingintahuan seorang anak perlu dipupuk sekaligus dilindungi.

Perlindungan anak di internet merupakan kontrol orang tua memfilter aksesibilitas ke kemungkinan konten terlarang yang bisa berdampak negatif pada anak-anak. Kontrol orang tua juga secara tidak langsung mengajarkan anak-anak nilai uang saat membeli barang secara online.

“Ini adalah pelajaran berharga bagi anak-anak untuk dipelajari di usia muda guna memastikan bahwa mereka tidak menerima pembelian online,” kata FitzGerald.

FitzGereald juga menegaskan, usia muda adalah usia yang sangat krusial. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Indonesia, atau responden yang mengikuti survei sebanyak 72 persen sepakat jika mereka harus mengawasi aktivitas online anak.

Dengan demikian orang tua di Indonesia adalah yang paling protektif terhadap keamanan anak di kawasan Asia Pasifik. Selaras dengan temuan sebelumnya di mana 56% responden Indonesia menggunakan Parental Control untuk perangkat anak.

Sebagai orang tua sudah seharusnya menggunakan perangkat pintar sebagai sarana mendidik dan menghibur anak-anak. Hal ini penting untuk memastikan bahwa konten, platform, dan pengguna lain yang mereka terlibat dan terhubung dengan anak, aman.

“Seperti kita ketahui bahwa penjahat dunia maya sering mengambil keuntungan dari keluguan anak, dari sifat mudah percaya anak untuk mendapatkan informasi pribadi, atau finansial yang bakal mengarahkan pada penipuan atau pencurian identitas,” tandas FitzGereald.

IT Security Consultant PT Prosperita – ESET Indonesia, Yudhi Kukuh,  mengatakan, anak-anak hanya tahu internet adalah entitas ajaib yang mampu menjawab semua pertanyaan dan keingintahuan mereka.

“Yang tidak mereka tahu adalah tentang virus atau malware, privasi online, phising, etika jejaring sosial dan masalah internet lainnya. Di sini orangtua punya kewajiban untuk hadir sebagai jembatan penghubung yang mangarahkan anak agar sampai di seberang dengan aman, tanpa harus mengekang aktivitas anak, ” jelasnya.

Menurut Yudhi, memantau aktivitas anak-anak secara online diperlukan, terutama jika orang tua ingin anak-anaknya belajar dan aman secara online. Menjadi orang baru di internet bisa menjadi pengalaman yang memuaskan atau menakutkan bagi mereka.

Oleh karena itu, penting untuk mengurangi risiko anak-anak menghadapi kejahatan siber dunia maya guna mengurangi dampak dari pengalaman internet mereka. Selain itu, perlindungan anak di internet juga untuk memastikan bahwa mereka tidak melakukan kebiasaan buruk, seperti cyberbullying.

“Pada intinya, poin utama yang ingin ESET bangun pada anak-anak adalah agar mereka mampu mengembangkan kebiasaan dan etika yang baik secara online dan offline,” kata Yudhi.

Untuk melengkapi paparan ESET tentang pentingnya Parental Control dan kesadaran orang tua dalam melindungi anak, berikut ini beberapa tips yang dapat membantu orang tua memberikan perlindungan anak di internet;

Pertama, hindari memberikan kebebasan penggunaan perangkat pintar Anda kepada anak-anak, karena mereka mungkin belum tentu tahu cara memastikan keamanan situs web tempat mereka berselancar.

Kedua, Parental Control harus menjadi pertimbangan utama jika orang tua ingin memberi anak-anak akses ke perangkat pintar mereka. Parental Control pada laptop sangat penting karena dirancang untuk memblokir situs web yang tidak pantas atau berbahaya.

Dan ketiga, orang tua harus berusaha membatasi aktivitas transaksi online yang dilakukan anak,  terutama transaksi online dengan kartu kredit karena mereka mungkin secara tidak sengaja berbagi kredensial di situs yang tidak aman, atau menerima begitu saja pengeluaran. (Eva/R3/HR-Online)