Batu Nangtung di Pangandaran Diduga Peninggalan Zaman Sebelum Masehi

batu nangtung
Batu Nangtung atau Batu Tegak yang berada di Dusun Cijalu, Desa Langkaplancar, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran. Foto: Asep Kartiwa/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-Batu Nangtung atau Batu Tegak yang berada di Dusun Cijalu, Desa Langkaplancar, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, diduga menyimpan sejarah ribuan tahun yang lalu atau zaman magalitikum tepatnya pada masa sebelum masehi.

Batu yang diduga benda purbakala itu diteliti oleh kelompok Pecinta Cagar Budaya Pangandaran, Minggu (28/07/2019). Kini, batu yang disebut-sebut benda purbakala Menhir ini berada di halaman rumah milik Ahmad Sidik.

Saat ditemui di rumahnya, Ahmad Sidik, mengatakan, sebelumnya batu nangtung itu berada di areal pesawahan atau berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya. Kini kawasan persawahan itu dikenal dengan sebutan blok Batu Nangtung.

“Makanya, daerah persawahan itu disebut blok Batu Nangtung, karena batu ini awalnya ditemukan di sana,” katanya.

Ahmad mengaku dirinya sengaja memindahkan batu unik itu ke halaman rumahnya. Hal itu untuk melindungi dari kerusakan dan mencegah terjadi penyimpangan kepercayaan.

“Saya juga yakin batu ini memiliki segudang sejarah masa lalu dan pantas untuk dilestarikan. Tapi jangan sampai batu ini dianggap seperti dewa atau dituhankan. Jelas hal itu musrik dan tidak dibenarkan oleh agama,” ungkapnya.

Ahmad mengatakan batu nangtung sudah sekitar 7 tahun berada di halaman rumahnya. “Sekitar bulan haji tahun 2012 lalu. Batu ini dipindahkan ke halaman rumah saya,” katanya.

Pamong Budaya Direktorat Jenderaal Kebudayaan Kemdikbud Tahun 2013-2016, Agus Mulyana, yang ikut melakukan penelitian, mengungkapkan, batu nangtung itu diduga kuat merupakan batu menhir.

Apabila menilik pada sejarah, lanjut Agus, menhir dikenal pada masa megalitikum. Masa itu diperkirakan sekitar tahun 1500 sampai dengan 2500 sebelum masehi.

“Dalam sejarah purbakala dikenal zaman menhir. Zaman itu pada masa megalitikum. Batu ini digunakan untuk ritual keagamaan pada zaman Menhir,” ujarnya.

Dari hasil penelitian pihaknya, lanjut Agus, batu yang diduga benda purbakala ini memiliki tinggi 163 cm, lebar bagian bawah 60 cm, lebar bagian atas 30 cm dan tebal batu di bagian atas 20 cm.

“Menhir ini dibuat dari jenis batuan andesit. Dan batuan ini sekarang langka ditemukan,” ujarnya.

Di Kecamatan Langkaplacar, kata Agus, banyak ditemukan benda purbakala. Namun sayangnya, benda-benda purbakala itu belum pernah diteliti oleh ahli arkeologi secara komperhensif.

“Akhirnya, benda-benda purbakala di Langkaplancar hanya sebuah cerita legenda yang turun-temurun. Padahal, apabila diteliti, benda-benda itu bukan sekedar legenda, tetapi kuat dugaan asli benda purbakala,” ungkapnya.

Selain batu menhir, di Kecamatan Langkalancar juga ditemukan artefak keramik Cina atau fragmen mangkok Cina. Keramik ini diperkirakan buatan sekitar abad 16-17 Masehi.

Lokasi penemuan artifek keramik Cina di Dusun Cijalu, Desa Pangkalan, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran. Foto: Asep Kartiwa/HR

“Keramik itu diduga berasal dari negeri Cina atau pada masa Dinasti Ming. Selain itu di Langkaplancar juga ditemukan artefak keramik Eropa berupa fragmen piring pecah buatan Eropa. Diduga keramik itu peningggalan masa kolonial atau pada abad ke-19,” katanya.

Menurut Agus, keramik mangkok Cina itu ditemukan di Dusun Cijalu, Desa Pangkalan, Kecamatan Langkaplancar.

Serpihan artifek keramik Cina. Foto: Asep Kartiwa/HR

Selain dua temuan benda purbakala, terang Agus, pihaknya pun menemukan areal kebun duku yang tertata rapih di wilayah Langkaplancar. “Kami menduga areal kebun itupun memiliki sejarah panjang yang layak diungkap,” ujarnya.

Agus mengatakan keberadaan areal kebun duku itu masih misteri. Namun, dia menduga bahwa areal kebun itu dulunya kawasan perkampungan manusia masa lalu.

“Sayangnya kami belum mengeksplore areal kebun duku tersebut. Karena waktu yang kami punya sangat mepet. Mungkin di lain kesempatan kami akan kembali ke sini,” ujarnya.

Agus mengatakan setelah pihaknya menemukan batu nangtung yang diduga menhir dan artifek keramik Cina, berkesimpulan bahwa di daerah Langkaplancar dari masa sebelum masehi diduga kuat sudah mengenal tatanan pemerintahan. (Askar/R2/HR-Online)