Senin, Mei 23, 2022
BerandaBerita CiamisBerita BanjarsariSekelumit Cerita Candi Ronggeng Ciamis

Sekelumit Cerita Candi Ronggeng Ciamis

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Cerita Candi Ronggeng Ciamis yang berlokasi di Dusun Kedungbangkong, Desa Sukajaya, Kecamatan Pamarican, Jawa Barat memiliki cerita yang hingga saat ini masih belum bisa terungkap secara jelas. Bahkan kini Balai Arkeologi Jawa Barat tengah melakukan penelitian di lokasi tersebut.

Dedi, warga sekitar, menuturkan, keberadaan Candi tersebut memang sudah lama. Namun masih menjadi misteri. Hal itu karena tidak ada warga yang mengetahui secara jelas soal sejarah berdirinya.

“Saya sendiri tidak begitu tahu secara jelas soal sejarah berdirinya candi ronggeng. Hal ini karena para sesepuh disini sudah pada meninggal dan tidak pernah menceritakan secara detil soal sejarahnya,” kata Dedi.

Pada tahun 1970an, lanjut Dedi, lokasinya sudah tertimbun oleh tanah. Hanya saja memang masih terlihat beberapa batu dan posisi arca “sapi gumarang”. Saat masa kecil dulu, dia mengaku sering bermain di lokasi tersebut.

Menurut Dedi, arca sapi gumarang yang kini sudah dipindahkan ke Karangkamulyan, dulunya berada di lokasi candi ronggeng. Bahkan ada beberapa batu yang berbentuk gamelan menyerupai bonang.

“Kata orang tua sih ada dua arca sapi gumarang disini. Untuk yang diamankan ke Karangkamulyan Ciamis itu jenis arca sapi betina. Untuk yang jantannya masih terpendam disini,” kata Dedi.

Warga memang mempercayai adanya candi tersebut. Hanya saja, Dedi menambahkan, mereka tidak mengetahui secara jelas terkait cerita sejarahnya. Dari cerita para orang tua terdahulu, warga sering melihat dan mendengar adanya suara gamelan ronggeng pada malam jumat kliwon.

Namun anehnya, Dedi mengungkapkan, meski suara itu terdengar secara jelas, warga sulit menentukan dimana posisi sumber suara sebenarnya. Karena saat dihampiri, suara itu selalu berpindah.

“Padahal warga sudah mendengar secara jelas suara itu ada di lokasi yang mereka tuju. Tapi saat dihampiri suara itu terus berpindah-pindah. Bahkan ada pula yang melihat kerumunan warga seperti sedang menikmati (ngibing/ nari). Namun itu dia tadi, ketika didekati wujud kerumunan itu selalu pindah,” terang Dedi.

Peninggalan Raja Prabu Wangsa Geni

Rahman, Juru Kunci, mengatakan, cerita Candi Ronggeng Ciamis yang ia ketahui merupakan bangunan sejarah yang diperkirakan berdiri pada abad ke tiga. Namun dirinya pun mengaku tidak mengetahui secara jelas terkait silsilah dan sejarah secara pastinya.

“Untuk sejarah secara detilnya terus terang saja saya kurang begitu tahu. Karena juru kunci sebelumnya tidak memberikan cerita apa-apa kepada saya. Hanya saja untuk sekilas sejarahnya ya agak sedikit tahu dari cerita-cerita orang tua terdahulu. Katanya sih itu merupakan sebuah candi yang masih berkaitan erat dengan sejarah Kawali, Ciung Wanara dan Kawasen,” katanya.

Dulu, kata Rahman, warga masih kental dengan kepercayaannya. Bahkan saat hendak memasuki bulan suci ramadhan (munggahan), warga selalu mendatangi lokasi candi. Mereka membawa tumpeng dan melakukan tawasul sebagai bentuk pensucian diri. Namun seiring berjalannya waktu, kegiatan seperti itu hilang.

Rahman menambahkan, pihaknya sangat meyakini jika candi ini merupakan peninggalan sejarah kerajaan, yakni peninggalan seorang raja bernama Prabu Wangsa Geni.

Dulu ada yang namanya raja besar dan raja kecil. Nah Prabu Wangsa Geni kemungkinan seorang raja kecil. Kalau sekarang camat. Dan untuk Raja Besar mungkin dulunya ibarat Bupati. Dan untuk wilayah ini masih kawengku kerajaan Prabu Siliwangi. Tempat ini juga dinamakan tempat “Supataan”. Makanya di wilayah ini sangat kuat dengan nama Pamali. Supataan serta pamali sendiri mempunyai cerita sejarah. Pada waktu itu diceritakan ada sepasang remaja yang melakukan pernikahan. Pasangan tersebut berbeda wilayah yang dibatasi oleh Sungai Cipamali yang saat ini bernama Sungai Ciseel.

Ketika itu, antara utara kini dinamakan Kedung bangkong, dan selatan kini dinamakan Ciparay, (dua wilayah yang di batasi sungai) memiliki perbedaan adat. Sehingga kedua wilayah tersebut selalu bertolak belakang. Nah pada jaman itu, sepasang remaja itu tetap melangsungkan pernikahan, meski kedua wilayah tersebut selalu bertentangan.

Hingga tiba waktunya, saat hari pernikahan sudah ditentukan dan menunggu hitungan hari, calon pengantin laki-laki, warga Kedungbangkong, meninggal tanpa sebab. Akhirnya si calon pengantin perempuan, warga Ciparay utara, meminta denda kepada keluarga calon pengantin laki-laki.

Denda itu berupa sepasang kerbau dan “saleuit” padi sebagai ganti rugi lantaran pesta pernikahannya batal. Dan sejak itulah keluar sumpah. Jika warga selatan tidak akan pernah menikahkan anaknya kepada orang utara.

Saat denda tersebut akan dikirim melalui rakit, tiba-tiba di tengah perjalanan, rakit itu karam bersamaan dengan barang bawaannya. Nah mungkin sepasang kerbau itulah yang menjadi simbol di candi ronggeng. Makanya ada arca sepasang sapi atau kerbaunya. Dan sejak kejadian itulah muncul kata “Pamali” dan larangan keras antara wilayah utara dan selatan sungai untuk menikah.

Bahkan sumpah tersebut hingga saat ini masih diyakini sebagian orang sini. Makanya jika ada orang Kedungbangkong menikah dengan orang Ciparay, mereka itu harus menebus sumpah “pamali” dengan cara melemparkan uang ke sungai saat menyeberangi jembatan.

Jumlah uang yang harus dibuang itu nilai SA yang artinya, Sasen, (Sarebu atau Saratus Rebu kalau sekarang). Pamali itu sendiri berlaku untuk wilayah yang terlingkari oleh sungai Cipamali (ciseel-red)”. Seperti halnya wilayah kawasen, kalau sekarang itu antara Kecamatan Pamarican hingga ke sebelah timur sampai Sungai Ciseel itu bertemu Sungai Citanduy.

“Sementara untuk di seberang sungainya, seperti Banjar dan Ciamis ke utara dan barat, kata pamali itu tidak berlaku,” kata Rahman.

Cipamali sendiri berganti nama menjadi Sungai Ciseel ini juga ada cerita sejarahnya. Dimana pada jaman itu ada dua pendekar dari dua wilayah yang unjuk kekuatan. Dimana pendekar disini bernama Ki Kedu (yang mana kini menjadi nama wilayah Kedung Bangkong), sementara pendekar satunya lagi bernama ki Tambak (dari wilayah Tambaksari-red).

Dalam unjuk kekuatannya tersebut, ki Kedu saat itu tengah mengambil ikan di Sungai Cipamali, (karena ki Kedu itu pencahariannya pencari ikan), tiba-tiba ki Tambak menunjukan kehebatannya. Ki Tambak ngajegangan (melangkahi) Sungai Cipamali hingga air di Sungai Cipamali tersebut kering dan ikan pun hilang.

Sementara ki Kedu berupaya untuk memberikan perlawanan dengan menujukan kekuatan ilmunya. Namun kekuatan ilmu ki Tambak tidak mampu untuk dia lawan. Hingga akhirnya ki Tambak tertawa terbahak (seeleun). Nah dari kata Seeleun itulah akhirnya Sungai Cipamali ini berganti nama menjadi sungai Ciseel.

Diketahui, lokasi candi ronggeng saat ini berada di pinggir Sungai Ciseel, dimana tempat itulah dahulunya yang dijadikan lokasi adu kekuatan antara ki Kedu dan ki Tambak.

Sementara itu, Peneliti dari Balai Arkeologi Jawa Barat, Endang Puji Astuti, ketika ditemui Koran HR, Selasa (25/06/2019), mengatakan, pihaknya sedang melakukan penelitian terkait keberadaa candi ronggeng.

“Hari ini adalah hari ke tujuh kita melakukan penelitian disini. Dimana hingga saat ini kami sudah menggali 10 petak untuk kita teliti. Dan dari 10 petak ini kita mendapatkan beberapa batu dengan perkiraan ukuran luasnya sekitar 8×8 meter,” kata Endang.

Ia menegaskan, bangunan tersebut bukan bangunan seperti halnya Borobudur. Kemungkinan besarnya, kata ia, Candi ini dulunya itu sebuah bangunan suci (tempat pedarmaan) pada jaman Hindu Budha. Hal ini terlihat dari postur keberadaan batunya seperti sebuah bangunan pagar yang berbentuk pesegi. Sementara di tengahnya terdapat arca sapi gumarang.

“Nah kemungkinan itu tempat suci, pertapaan atau pemujaan pada jaman itu. Namun untuk hasil lanjutnya, kami belum bisa menjelaskan karena penelitian ini belum selesai, termasuk soal cerita Candi Ronggeng Ciamis ini” kata Endang, (Suherman/Koran HR)

- Advertisment -