Kesulitan Bahan Baku, Genteng Lengensari Kota Banjar Tinggal Kenangan

Genteng Langensari Kota Banjar
Tempat pembuatan genteng Langensari Kota Banjar yang kini sudah tidak digunakan lagi. Foto: Sugeng/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Puluhan tempat pembuatan genteng Langensari Kota Banjar kini kondisinya memprihatinkan. Para pengrajin kini sebagian beralih ke pembuatan bata merah dan bekerja di luar kota.

Diketahui, di wilayah Kota Banjar yang berlokas di Dusun Sinargalih dan Karangmukti, Desa Langensari sangat dikenal dengan kerajinan gentengnya. Namun, seiring berjalannya waktu dan hadirnya Sport Center Langensari, membuat mereka kelimpungan mencari bahan baku untuk pembuatan genteng Langensari.

Ibun, salah satu pengrajin, mengatakan, bahan utama untuk produksi genteng saat ini harganya mahal. Dahulu, kata Ibun, para pengrajin mengambil bahan baku di lokasi yang kini dibangun Sport Center. Lantaran sudah tidak bisa lagi, pengrajin pun harus membeli bahan baku dari luar daerah dengan harga yang mahal.

“Resiko beli dari luar harganya mahal. Jadi, lebih besar pasak dari pada tiang. Istilahnya begitu kondisi saat ini. Maka wajar sekali bila banyak pengrajin yang sekarang tutup dan beralih menjadi tukang bata,” papar Ibun kepada HR Online beberapa waktu lalu.

Khusus di wilayah Sinargalih dan Karangmukti, lanjut Ibun, terdapat sebanyak 20 hingga 25 tempat tobong (pembuatan) genteng yang kini hampir semuanya tutup. Mereka yang beralih ke pengrajin bata juga harus membeli bahan baku dari luar daerah dengan harga Rp 75 ribu-Rp 80 ribu per mobilnya.

“Para pengrajin harus memutar otak agar tetap bertahan hidup. Ada yang ke luar kota, beralih jadi pengrajin bata dan lainnya. Sementara tobong-tobong-nya banyak yang terbengkalai, bahkan sebagian besar rusak. Ada beberapa yang masih punya mesin pencetak genteng,” tutup Ibun.

Senada juga dikatakan Jured (51), warga Sinargalih. Ia mengaku terpaksa menjual mesin cetak gentengnya ke tukang rongsok dengan berat sekitar 4 kwintal dibanderol sekitar Rp 3 jutaan. Padahal, dulu ia membelinya seharga Rp 18 juta.

Ia menilai, hadirnya Sport Center Langensari memiliki dampak negatif dan positif. Dampak negatifnya, kata ia, sudah jelas pada pengrajin genteng yang mengandalkan bahan baku di lokasi yang digunakan sport center sejak puluhan tahun silam. Adapun positifnya, wilayah Langensari kini menjadi ramai dengan adanya berbagai kegiatan.

“Sekarang dari pada menganggur, mending buat bata saja. Kami harap nasib kami bisa diperhatikan oleh pemerintah. Minimalnya, kami dibekali keahlian apa atau bantuan mesin pembuatan bata merah, syukur dibantu dengan penjualannya,” pungkas Jured. (Sugeng/R6/HR-Online)