Musim Kemarau Panjang, Hasil Panen Padi di Pangandaran Kurang Maksimal

Hasil Panen Padi
Kondisi sawah yang tengah dipanen saat musim kemarau. Foto: Enceng/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Musim kemarau tahun ini mengakibatkan hektaran sawah petani di Pangandaran kekeringan. Bahkan, berdampak pada hasil panen padi yang kurang maksimal.

Salah seorang petani, H. Rupin, warga Dusun Cijalu, Desa Parigi, Kecamatan Parigi, mengatakan, pada tahun sebelumnya dalam satu hektar sawah bisa memanen 7 hingga 8 ton. Sedangkan kemarau saat ini hanya mampu 5 ton saja. o

“Sebenarnya saya sudah berusaha maksimal agar tanaman padi ini tetap terairi dengan cara menyedot air menggunakan mesin, namun tetap saja tak bisa maksimal. Selain itu saya juga mencoba membuat sumur bor untuk mengantisipasi ketika air di sungai sedang kering,” katanya kepada Koran HR, Senin (22/7/2019).

Ia menambahkan, pada musim penghujan usia tanam tanaman padi sampai masa panen sekitar 110 hari. Sedangkan di musim kemarau ini menjadi lebih cepat, yakni di usia 90 hari.

“Jenis padi yang saya tanam namanya padi Ci herang, mungkin kalau jenis padi lainnya bisa lebih lama. Meski begitu, saya sangat bersukur masih mendapatkan hasil panen yang lumayan, karena sawah milik tetangga saya sama sekali tak berbuah, mereka hanya memanfaatkannya untuk makanan sapi,” ujarnya lagi.

Kurangnya debit air yang mengaliri sawah para petani, lanjut H Rupin, sudah jelas lantaran ulah manusia itu sendiri yang tidak melestarikan dan memperhatikan kondisi hutan. Sehingga, pasokan air pun menjadi sedikit.

“Padahal, kalau hutannya tidak ditebang, air di sungai saya yakin akan bisa mengairi sawah-sawah,” pungkasnya.

Hal yang sama juga dirasakan Da’in, salah satu pedagang padi. Di musim paceklik nanti ia memprediksi harga padi kering atau gabah bisa mencapai Rp 700 ribu hingga Rp 750 ribu per kwintalnya.

“Jika gabah mencapai hargai segitu, maka harga beras bisa mencapai Rp 11 ribu hingga Rp 12 ribu perkilogramnya. Dengan kondisi seperti itu, bagi saya memang tidak ada pengaruhnya, tapi bagi masyarakat itu sangat berdampak besar sekali. Sebab, tidak semua masyarakat punya sawah,” pungkasnya. (Enceng/Koran HR)