Patok Bengkung, Peninggalan Belanda di Kota Banjar yang Dikenal Angker

Patok Bengkung
Patok Bengkung ini berlokasi di Blok 21 pesawaahan Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar. Foto: Sugeng/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Sebuah besi melengkung peninggalan Belanda di perbatasan Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis dan Langensari Kota Banjar dikenal angker. Pembatas yang dikenal Patok Bengkung ini berlokasi di Blok 21 pesawaahan Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar.

Berdasarkan informasi yang dihimpun HR Online, patok atau pancang tersebut merupakan penanda batas wilayah kebun karet bagian ujung timur Banjar di masa penjajahan.

Iran (54), warga Lakbok, mengatakan, keberadaan patok tersebut sudah sejak lama ada, bahkan sebelum kakeknya lahir juga sudah ada. Lantaran tempatnya sangat terpencil dan kerap terjadi hal-hal yang berbau mistis, sehingga ia tidak heran bila tempat tersebut dikenal angker.

“Ada yang bilang di lokasi tersebut tempat bersemayamnya siluman ular kendang dan siluman buaya. Dulu juga pernah ada mayat yang terbawa arus dan ditemukan di sini. Tapi soal kebenaran angker atau tidaknya sih saya kurang tahu, karena saya tidak melihat secara langsung,” katanya kepada HR Online, Senin (29/7/2019).

Ma’mun (35), warga Tambakreja, juga mengatakan hal senada. Ia menyebut patok tersebut meski masih utuh tapi sulit diketahui banyak orang lantaran tetutup semak belukar. Lokasinya yang persis di tepi Sungai Cinehel atau anakan Sungai Citanduy ini, Patok Bengkung kerap disebut masyarakat sebagai wilayah Sukabagja, Desa Kalapasawit, Kecamatan Lakbok.

“Namun pada kenyataannya besi tersebut tertanam di wilayah Waringinsari yang persis berbatasan dengan Sukabagja dan Desa Tambakreja,” ucapnya.

Ditemui terpisah, salah satu tokoh masyarakat Desa Tambakreja, H Waris, mengungkapkan, patok tersebut adalah pembatas kebun karet yang berada di tengah 5 aliran sungai atau proliman.

Bahkan, H Waris juga menunjukkan bukti tanah yang kini menjadi daratan ke arah utara dari Patok Besi tersebut adalah besutan air hingga pesawahan di Blok 16, Dusun Kedungwaringin RT 9/6, Desa Waringinsari.

“Jadi, tempat ini dulunya selain menjadi pembatas kebun karet, juga berada di sekitar pertemuan 5 aliran sungai. Hanya saja, ada sungai yang kini sudah jadi daratan. Kalau buktinya masih ada, silakan diurutkan saja dari sini sampai ke blok 16. Di sana ada sisa-sisa bangunan besutan air yang dibangun belanda,” pungkasnya. (Sugeng/R6/HR-Online)