Sepenggal Kisah Perjuangan Mbah Madjalikin Pertahankan Langensari Kota Banjar

Perjuangan Mbah Madjalikin
Bangunan masjid dengan 8 sudut mata angin peninggalan Mbah Madjalikin, yang saat ini sudah dirubah, lokasinya berada di Dusun Sukahurip, RT. 03, RW. 01, Desa Langensari, Kota Banjar. Photo : Sugeng/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Merah putih di Tanah Langensari, demikian masyarakat Langhensari mengenang perjuangan Mbah Madjalikin. Sebagai pioneer dalam melawan penjajah Belanda dan Jepang di Indonesia, khususnya Langensari kala itu, Madjalikin berjuang bersama Sheikh Muhammad Sanusi tentara Indonesia.

Tidak seperti Sheikh Muhammad Sanusi yang diketahui berasal dari Kota Kebumen, karena data tentang Mbah Madjalikin sangatlah minim untuk ditelusuri. Hingga saat ini belum ada sumber yang dapat menyatakan dengan pasti berasal dari mana, sehingga lambat laun pejuang tersebut mulai terlupakan.

Namun demikian, penggalan-penggalan kisah heroik perjuangan Mbah Madjalikin dan Sheikh Muhammad Sanusi, terus diingat dan akan selalu hangat dalam ingatan warga asli Langensari, khususnya mereka yang mengetahui sejarahnya.

Kisah nyentrik dan unik juga mewarnai kisah kehidupan Mbah Madjalikin, salah satunya adalah bangunan masjid dengan 8 sudut mata angin yang saat ini sudah dirubah, yaitu berada di Dusun Sukahurip, RT. 03, RW. 01, Desa Langensari, Kota Banjar, tepat sebelah Barat kampus SMPN 4 Banjar.

“Seingatku, Mbah Madjalikin dan Mbah Sanusi bagaikan pinang dibelah dua, bagaikan bendera Indonesia merah dan putih yang disatukan,” kata Mad Sholeh (93), warga Dusun Sukanegara, RT. 01, RW. 01, Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, kepada Koran HR, saat ditemui di rumahnya, Selasa pekan lalu.

Lebih lanjut Soleh menuturkan, bahwa perjuangan Mbah Madjalikin dan Mbah Muhamad Sanusi selalu bersama. Mbah Madjalikin membuat jalan atau infrastruktur, sedangkan Mbah Sanusi membangun Masjid.

Setiap kali selesai jalan dibuat oleh Mbah Madjalikin, maka Sheikh Muhammad Sanusi menancapkan janur kuning di beberapa tempat. Hal itu untuk menandai bahwa di situlah akan dibangun masjid nantinya.

“Sungguh leluhur kita telah mencontohkan bagaimana soliditas itu sangatlah penting. Dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, wilayah Langensari terus ramai seperti sekarang ini. Namun, tidak banyak yang tahu bagaimana perjuangan para leluhur kita dahulunya,” ucap Soleh.

Bahkan, Soleh juga mengaku pada waktu itu ikut berjuang dalam melawan penjajah Belanda dan Jepang. Ia pun selalu mengenang ketika dirinya diajak berperang oleh Mbah Madjalikin dan Mbah Sanusi. Kemudian, bergabung dengan tentara Indonesia yang saat itu dipimpin oleh Yusak dan Warpin yang merupakan warga Bojongkantong.

“Pertempuran sering terjadi, kita hanya bersenjatakan bambu runcing. Sementara, senapan jenis Tomsong, yaitu senjata laras panjang manual, yang mana pelurunya harus diisi kembali setelah ditembakkan, hanya dipegang oleh pemimpin perang,” kenangnya.

Ia juga mengungkapkan, bahwa banyak sekali lika-likunya untuk bisa tinggal di Langensari ini. Jadi, tanah Langensari bukanlah tanah yang murah, karena peperangan melawan Belanda dan Jepang adalah harganya.

“Kita membelinya dengan darah. Untuk itu saya berpesan kepada anak cucu semua supaya jangan sampai melupakan sejarah. Minimalnya mendo’akan arwah para leluhur kita yang sudah berjuang dan berkorban nyawa untuk kita,” pungkas Soleh. (Sugeng/Koran HR)