Peternak di Cipaku Ciamis Enggan Jual Sapi Kurban, Kenapa?

peternak sapi kurban di Ciamis
Sapi kurban yang ada di peternak Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis. Foto: Enceng/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),– Permintaan sapi meningkat sampai  15 % saat mendekati Hari Raya Idul Adha. Namun, peternak sapi di  Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis mengaku tidak berani menjual sapi kurban di Ciamis sebelum diperiksa tim dari Dinas Peternakan terlebih dahulu.

“Sudah banyak yang mau membeli sapi, tapi belum berani menjualnya sebelum diperiksa  dan dinyatakan sehat oleh Tim dari Dinas Peternakan,” ujar Dian Kusdiana, salah seorang peternak dari Desa Ciakar kepada HR Online, Sabtu (27/7/2019).

Pemeriksaan hewan kurban memang lazim dilaksanakan oleh dokter hewan atau paramedic veteriner di bawah pengawasan dokter yang berwenang, biasanya tim pemeriksa hewan kurban, seperti sapi kurban di Ciamis ini akan dibentuk oleh Dinas Peternakan setempat.

“Jadi di sini hanya menjual sapi kurban, setelah diperiksa dan dinyatakan sehat. Sebab, memilih kurban yang sehat itu menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah terjadinya Zoonosis atau penularan penyakit dari hewan ke manusia,” terang Dian.

Dian menyebut Peraturan Menteri Pertanian No 114/Permentan/PD.410/9/2014, tentang pemotongan hewan kurban. Dalam peraturan tersebut disebutkan yang dimaksud hewan kurban yaitu hewan yang memenuhi persyaratan sesuai dengan syariat Islam untuk ibadah kurban.

“Dalam hal ini hewan kurban yang sehat menjadi kata kunci dan mutlak dipenuhi untuk mendapatkan kepuasan dan ketenangan dalam berkurban. Sehingga ketika sudah dinyatakan sehat, maka sah untuk dijadikan hewan kurban,” jelas Dian.

Dian menjelaskan binatang yang sah untuk kurban yaitu tidak cacat, tidak kurus dan juga cukup umur, yakni harus berumur dua tahun lebih.

“Mendekati lebaran Idul Adha permintaan naik sampai 15% bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” kata Dian.

Dian mengatakan, meningkatnya permintaan hewan kurban di Desa Ciakar ini lantaran banyak para perantauan yang sukses di luar daerah, namun memilih berkurban di kampung halamannya.

“Seperti misalnya H. Akan setelah sukses di luar Jawa, yakni Kalimantan, beliau telah memesan 4 ekor sapi untuk berkurban di kampung halamannya di Lumbung,” katanya.

Dian menambahkan, mengenai harga sapi kurban di tempatnya variatif, yakni mulai dari Rp 16 juta sampai Rp 38 juta.

“Harganya beda-beda ada yang 16 juta rupiah, ada juga yang tertinggi 38 juta rupiah, semua tergantung permintaan,” pungkasnya. (Edji/R7/HR-Online)