Keramat Batu Kuta Pangapungan, Petilasan Penyebar Islam di Pangandaran

Penyebar Islam
Keramat Batu Kuta Pangapungan yang berada di Dusun Kutakanyere, Desa Sindangsari, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran. Foto: Istimewa

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Sebuah tempat keramat di Dusun Kutakanyere, Desa Sindangsari, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran dipercaya memiliki kisah perjuangan seorang penyebar Islam di kawasan daerah paling ujung timur Jawa Barat.

Tempat yang bernama Batu Kuta Pangapungan itu merupakan suatu gua yang konon dulu pernah digunakan penyebar Islam asal Cirebon, KH Wijaya Kusuma.

Menurut salah satu warga, Dede Latopah, keramat tersebut sejak dulu sudah dikenal ahli supranatural dan ahli hikmah, bukan hanya wilayah Pangandaran saja, akan tetapi sampai luar Pangandaran. Tempat tersebut biasa disebut dengan Sancang Dua.

“Kalau dari luar daerah itu lumayan banyak yang datang ke sini, apalagi pada malam-malam tertentu,” katanya kepada HR Online beberapa waktu lalu.

Ia mengungkapkan, kedatangan orang luar tersebut biasanya melakukan ritual khusus ataupun berdzikir sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan orang tersebut. Mereka, kata Dede, meyakini tempat keramat tersebut menjadi mediator untuk berbagai masalah. Artinya, banyak yang berhasil ketika datang ke keramat Batu Kuta.

“Ada juga yang utangnya banyak, terus orang itu melakukan ritual di sini, mungkin berdzikir dan dalam waktu dekat utangnya bisa lunas terbayar. Tentu saja itu atas izin dari Alloh,” jelasnya lagi.

Selain menjadi tempat yang menjadi solusi berbagai masalah melalui ritual khusus, lanjut Dede, keramat ini juga memiliki aura dan pamor untuk putra daerah Pangandaran yang sedang berada di perantauan.

“Seperti halnya ada salah satu warga sini pernah dikeroyok 5 perampok saat di perantauan, ia secara spontan menyebut nama KH Wijaya Kusuma Hadir sebanyak 3 kali sambil menginjak-injak kaki ke tanah. Setelah itu kelima perampok pun lari terbirit-birit dan aksi perampokan pun gagal,” cerita Dede.

Konon, Dede menambahkan, menurut sesepuh setempat lokasi tersebut terdapat Kuda Sembrani sebanyak 7 ekor. Namun yang kerap muncul hanya 5 ekor saja.

“Biasanya, kuda tersebut muncul setiap malam Selasa Kliwon. Tapi soal waktu jam berapa, tidak ada yang bisa mengetahui kapan munculnya,” pungkasnya. (Ceng2/R6/HR-Online)