Mengetahui Sandal Hotel Buatan Warga Kota Banjar

Sandal Hotel
Sebagian produk sandal hotel yang dihasilkan pengrajin Lingkungan Babakan, Kelurahan, Muktisari, Langensari, Kota Banjar. Foto: Muhlisin/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Sandal hotel memang menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari untuk tamu di sebuah penginapan. Selain kebutuhan, alas kaki ini merupakan bagian penunjang untuk memanjakan kenyamanan pengunjung.

Namun, siapa sangka pembuatan sandal ini di beberapa daerah yang menjadi salah satu fasilitas penginapan ternyata hasil karya tangan pengrajin dari Kota Banjar.

Iran, merupakan salah seorang pengrajin sandal hotel yang berada di Lingkungan Babakan RT.2./4 Kelurahan Muktisari, Kecamatan Langensri, Kota Banjar. Di sela-sela kesibukanya, ia menceritakan perjalanan profesi barunya yang baru 4 bulan digeluti.

“Awalnya sharing sama teman-teman, kebetulan ada peluang usaha. Setelah itu kita coba membuat produk sendiri sampai sekarang sudah berjalan hampir 4 bulan,” tuturnya kepada HR Online, Sabtu (13/7/2019) kemarin.

Adapun dalam proses pengerjaan, lanjut Iran, dibagi dengan teman-temannya sesuai keahlian masing-masing. Seperti halnya ada bagian penjahit, ada yang di bagian pemotongan bahan, maupun penyablonan. Sedangkan untuk proses finishing dan pengepakan dirinya memberdayakan ibu-ibu warga sekitar.

“Saat ini, produksi untuk sekali kirim bisa mencapai 1000 pasang sandal dalam sekali order. soal harga satu pasang sandal dibanderol seharga Rp. 3500. Sementara pemasaranya saat ini sudah melayani beberapa hotel yang ada di Pangandaran, Garut dan Tasikmalaya,” imbuhnya.

Terkait merek, lanjut Iran, dirinya menyesuaikan dengan pesanan. Seperti yang sudah ada sekarang, di antaranya merek Bulak Laut Hotel dan Resort Pangandaran, Harmoni Hotel dari Garut dan Shantika hotel Tasikmalaya.

Di tempat yang sama, Misbahul Munir, salah seorang pengrajin, mengatakan, proses pembuatan untuk satu pasang sandal membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam, mulai dari pemotongan spon, pembentukan pola dan motif, dan terakhir proses penjahitan.

“Untuk pemberian merk memang kita menyesuaikan pesanan. Pasalnya, ada juga beberapa pemesan yang menginginkan agar tidak dikasih brand alias polosan. Mudah-mudahan saja ke depan ordernya semakin banyak,” jelasnya. (Muhlisin/R6/HR-Online)