Sudah 4 Tahun, Prasarana Pemanfaatan Air Tanah di Ciamis Ini Terbengkalai

prasarana pemanfaatan air tanah
Fasilitas prasarana pemanfaatan air tanah, di Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, sudah lama terbengkalai. Foto: Edji Darsono/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-Fasilitas prasarana pemanfaatan air tanah untuk masyarakat desa sulit air, di Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, jawa Barat, sudah berlangsung lama terbengkalai. Pasalnya, prasarana tersebut belum dirasakan manfaatnya dan keberadaannya dianggap mubazir.

Dari informasi yang berhasil dihimpun Koran HR, dengan adanya sumur bor, warga kegirangan. Namun kegembiraan tersebut belum bisa dirasakan manfaatnya. Sebab kondisi sumur bor tidak berfungsi, sehingga di musim kemarau warga tetap kesulitan air bersih.

Padahal sumur bor tersebut sangat diharapkan untuk warga setempat, karena selama ini mereka kekurangan air bersih. Beruntung saja, PAM milik desa yang satunya lagi masih berfungsi, meski airnya kecil.

“Sumur bor untuk rawan air bersih dibiarkan terbengkalai dan dianggap mubazir. Diharapkan sumur bor tersebut diperbaiki secepatnya,” kata warga yang enggan disebutkan namanya.

Yayat, warga setempat, mengatakan bahwa warga sebenarnya ingin memanfaatkan air dari sumur bor tersebut, terutama pada musim kemarau seperti sekarang.

“Bagusnya pemerintah memperbaiki mesin tersebut agar betul-betul bisa bermanfaat bagi warga. Sayang jika dibiarkan begitu saja dan tidak berguna. Sejak dipasang, tidak bisa digunakan warga. Warga tetap mengandalkan PAM desa yang lama,” katanya.

Padahal, kata Yayat, sumur bor tersebut sudah dilengkapi pompa dan jaringan pipa. Sumur itu dibangun untuk memenuhi kebutuhan air bersih, terutama pada musim kemarau.

“Namun, keberadaan dan manfaatnya belum bisa dirasakan,” katanya.

Kepala Desa Ciakar, Kamil Hasan, melalui perangkat desa, Uned, mengatakan, prasarana pemanfaatan air tanah untuk masyarakat desa sulit air dibangun pada tahun 2008.

Pembanguna proyek tersebut bersumber dari APBN melalui Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Direktorat Jendral Mineral, Batubara dan Panas Bumi.

“Wajar jika ada anggapan mubazir maupun terbengkalai. Sebab, sudah hampir empat tahun keberadaannya tidak bisa difungsikan, karena kondisinya rusak,” katanya.

Selain kerusakan terjadi pada mesin, kata Uned, diduga juga terjadi pada bagian pompa celup (submersible) yang disimpan di dalam tanah pada kedalaman tertentu.

“Sehingga pompa tidak tampak (bisa dilihat). Selain belum adanya anggaran biaya untuk perbaikannya, juga terkendala dengan mekaniknya,” kata Uned. (dji/Koran-HR)