Minggu, Juni 26, 2022
BerandaBerita CiamisBerita BanjarsariTidak Ada Pemalakan Berujung Penganiayaan di SMPN 1 Pamarican Ciamis, Hanya Perkelahian...

Tidak Ada Pemalakan Berujung Penganiayaan di SMPN 1 Pamarican Ciamis, Hanya Perkelahian Biasa

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),– Informasi mengenai adanya pemalakan yang berujung pemukulan  yang terjadi dan dilakukan oleh siswa SMPN 1 Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat menjadi buah bibir di kalangan warga net. Ada yang percaya dan ada juga yang tidak percaya atas informasi tersebut.

HR Online mencoba melakukan konfirmasi pada pihak sekolah SMPN 1 Pamarican, Rabu (31/07/2019).  Dari hasil keterangan beberapa sumber HR Online, ternyata tidak ada kejadian pemalakan yang berujung pemukulan yang dilakukan oleh kakak kelas kepada adik kelas.

Kepala Sekolah SMPN 1 Pamarican, Sukandi, mengatakan, berita yang sudah beredar sangat merugikan pihak sekolah, berita tersebut sangat tendensius serta membohongi publik, karena menurutnya tidak terjadi pemalakan yang berujung pemukulan.

“Sebenarnya pihak kami tidak mau ambil pusing dengan muncul pemberitaan itu, hanya saja saya menyayangkan adanya bahasa ‘pemalakan’ padahal itu sama sekali tidak ada,” terangnya.

Sukandi mengaku tidak begitu mengetahui kronologis yang sebenarnya. Namun dari hasil keterangan guru bagian kesiswaan, informasi soal pemalakan itu jelas tidak ada.

“Hal inilah yang membuat pihak kami (sekolah) merasa dirugikan atas pemberitaan di media online itu,” terangnya.

Senada dengan itu, Wakasek Kesiswaan, Iip Hadipriatna mengatakan, jika informasi tentang ‘pemalakan’ sangat menyudutkan pihak sekolah.

“Dengan adanya pemberitaan tersebut, jelas pihak sekolah saat ini merasa dirugikan, bahkan efeknya banyak warga (tokoh masyarakat) yang datang ke sekolah untuk mempertanyakan kebenaran berita tersebut,” katanya.

Perlu diketahui, kata Iip, dari hasil keterangan kedua belah pihak, mereka tidak mengakui adanya pemalakan, hanya saja jika perkelahian memang itu ada. Namun waktu kejadian berada di luar jam belajar, sehingga lepas dari pantauan pihak sekolah.

“Perkelahian itu terjadi bukan berawal dari pemalakan seperti yang diberitakan di media online, dan juga bukan dilakukan oleh kakak/adik kelas. Keduanya yang terlibat itu sama-sama kelas tujuh hanya beda kelas, yaitu kelas C dan kelas D,” terangnya.

Perkelahian itu terjadi, tambah Iip, saat keduanya terlibat saling ejek satu sama lain. Salah satu murid mengejek temannya dengan kata ‘culun’. Sementara yang lainnya membalas dengan kata ‘pitak’.

“Dari situlah keduanya terlibat adu mulut dan saling ‘degungkan sirah’ (saling toyor kepala) hingga ada sedikit perkelahian,” terangnya.

Dari hasil keterangan kedua siswa yang terlibat perkelahian itu, kata Iip, justru yang dianggap sebagai korbanlah yang memulai melakukan pemukulan, hingga siswa yang diduga pelaku pun melakukan perlawanan.

“Nah dari kejadian ini juga, sebenarnya pihak sekolah sudah melakukan klarifikasi dan musyawarah dengan kedua belah pihak orang tua siswa, dan saat itu juga sudah terjadi kesepakatan dan islah, apalagi keduanya juga mengalami luka meski ringan,” paparnya.

Masih dikatakan Iip, UR yang dianggap sebagai korban, tidak masuk sekolah hanya satu hari, bukan tiga hari seperti yang diberitakan. UR hanya tidak masuk sekolah pada hari Jumat, pada hari Senin, UR sudah masuk sekolah lagi.

“Bahkan antara UR dan AL (kedua anak yang terlibat perselisihan) sudah kembali akur dan bermain bersama lagi, jadi sebenarnya kejadian ini sudah kami selesaikan sejak beberapa hari lalu, setelah pihak sekolah mendapatkan informasi,” tegasnya.

Sementara itu, UR dan AL saat dipintai keterangan oleh HR di ruang guru, Rabu (31/7/2019), mereka mengaku tidak pernah melakukan pemalakan. UR juga menegaskan dirinya tidak dipalak.

“Tidak, saya berdua hanya selisih paham dan kesal ketika diejek, memang saya sempat berkelahi saat itu, tapi tidak lama dan saya juga tidak mengalami luka berat. Hanya goresan bekas cakaran saja,” terang keduanya.

Orang Tua Kedua Siswa SMPN 1 Pamarican Membantah Adanya Pemalakan Berujung Penganiayaan

Atin, orang tua dari AL mengaku kaget dan kecewa atas adanya pemberitaan di media online terkait pemalakan yang dilakukan oleh anaknya.

“Ya jelas saya merasa kaget dan kecewa dengan pemberitaan itu, harusnya wartawan juga melakukan konfirmasi kepada saya dan anak saya, bagaimana kronologis dan kejadian sebenarnya,” kata dia.

Menurutnya, setelah melakukan klarifikasi kepada kedua belah pihak, mereka tidak mengakui adanya pemalakan. Hal itu merupakan murni perkelahian yang diakibatkan saling ejek saja. Kejadiannya pun, menurut Atin, tidak separah seperti diberitakan.

“Bagi saya sendiri, sangat tidak percaya jika anak saya melakukan pemalakan. Anak saya ini selalu dikasih bekal untuk jajan lho,” katanya.

Atin mengaku tiap hari dirinya membekali anaknya Rp 20.000, sehingga tidak mungkin melakukan pemalakan kepada temannya.

“Itu tidak mungkin juga, karena anak saya kan masih kecil dan nggak mungkin melakukan hal yang tidak baik itu,” tegasnya.

Sementara itu, Usdi orang tua UR saat dikonfirmasi HR Online, mengatakan. Dirinya tidak pernah mangatakan jika anaknya digebukin lantaran tidak memberi uang ‘palakan’.

“Nggak tahu juga, kok jadi ada berita dipalak, jika bicara anak saya tidak masuk sekolah karena sakit iya,” terang Usdi.

Usdi juga mengatakan sempat bertanya kepada anaknya. Awalnya UR tidak mengaku habis berkelahi, namun hanya sebatas terjatuh.

“Saya tanya ketika melihat ada luka goresan di bagian lehernya, dan dia baru mengakui habis berkelahi dengan temannya, namun bukan akibat dipalak,” katanya.

Diketahui Usdi, orang tua UR merupakan salah seorang warga Desa Pamarican yang tergolong miskin. Dirinya hanya bekerja sebagai petugas kebersihan di Pasar Pamarican. Kondisi rumahnya pun hanya terbuat dari bambu serta kumuh.

Untuk kebutuhan sehari-hari, Usdi mengaku kesulitan. Selain rumahnya nyaris roboh, untuk mandi dan buang kakus pun keluarga Usdi selalu pergi ke sungai yang ada di belakang rumahnya. (Suherman/R7/HR-Online)

- Advertisment -