Anggaran KONI Kota Banjar Terbatas, Persikoban Dipastikan Absen di Liga 3 Jabar 2019

Persikoban gagal ikut liga 3
Bentangan spanduk protes dari Suporter Persikoban Kota Banjar di Stadion Langensari. Foto: Istimewa

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Banjar tidak bisa berbuat banyak untuk ikut menjaga eksistensi Persikoban. Hal itu dikarenakan terbatasnya anggaran yang dimiliki KONI.

Diketahui tim sepakbola kebanggaan masyarakat Kota Banjar yang berada di bawah naungan Askot PPSI Kota Banjar, gagal berlaga dalam kompetisi Liga 3 Jabar tahun 2019 dengan alasan ketersediaan anggaran.

“Ya, mau gimana lagi kalau tidak ada anggaran, Persikoban dipastikan tak bisa ikut Liga 3 Jabar Tahun 2019 ini. Mestinya soal ini kan bukan ranah kami, tapi Askot PSSI Kota Banjar,” kata Ketua KONI Kota Banjar, H. Rachwan, kepada Koran HR, Jum’at (09/08/2019).

Saat disinggung mengenai rencana keikutsertaan Persikoban di kompetisi Liga 3 Jabar tahun 2019 ini diserahkan kepada KONI, Rachwan pun tak menampiknya. Namun, setelah merinci kebutuhan anggaran untuk kepesertaan kompetisi tersebut ternyata sangat memberatkan bagi pihaknya.

“Awalnya memang di tahun 2019 ini Persikoban akan diurus langsung oleh kami dalam rencana kepesertaan Liga 3 Jabar. Tapi setelah saya kalkulasi hitung, itu sangat berat biayanya, bisa menghabiskan sekitar 120 jutaan. Dari mana uang sebanyak itu, jadi ya terpaksa Persikoban tak jadi ikut,” ujarnya.

Lebih lanjut Rachwan menjelaskan, bahwa anggaran sebesar itu diantaranya untuk biaya penyelenggaraan saat menjalani partai home dan saat tandang ke daerah lain, dalam hal ini biaya perjalanan dan akomodasi.

Sementara, anggaran KONI sendiri sangat minim. Terlebih anggaran yang ada pun alokasinya bukan untuk pembiayaan kebutuhan Persikoban tersebut, melainkan untuk pembinaan atlet dari sejumlah cabang olahraga (cabor). Sehingga akan sangat membebani pihaknya jika dipaksakan.

Sedangkan, jika mengandalkan uluran tangan para pengusaha di Kota Banjar, itu juga sangat sulit dan tidak memungkinkan. Menurut Rachwan, hingga saat ini belum ada satu pun perusahaan yang mau melirik untuk ikut memajukan sepakbola di Kota Banjar.

Dia juga menjelaskan, Persikoban merupakan bagian dari 60 tim yang ikut dalam kompetisi Liga 3 Jabar Tahun 2018 lalu. Sebenarnya itu adalah modal awal bagi Persikoban, terlebih tahun kemarin mampu melaju sampai ke babak 16 besar.

“Tapi ya itu tadi, selain aspek keuangan dan organisasi, timnya juga harus betul-betul disiapkan. Untuk sarana dan prasarana, misal stadion, kita sudah siap, termasuk pemain kayaknya ada dan tak akan kalah bersaing,” katanya.

Agar secara organisasi siap dan Persikoban pun bisa kembali ikut dalam kompetisi Liga 3 Jabar di tahun 2020 mendatang, pihaknya menyarankan untuk kedepannya ada revitalisasi kepengurusan Persikoban.

“Kalau Persikoban tak bisa ikut lagi kompetisi Liga di tahun 2020, ya apa jadinya. Jadi dari sekarang butuh pemecahan masalah melalui diskusi. Silahkan pihak-pihak yang peduli atau suporter membuat acaranya,” ujar Rachwan.

Dia pun mengungkapkan, bahwa KONI Kota Banjar saat ini mengalihkan fokus mendorong pembinaan tim sepakbola untuk keikutsertaan Popwilda 2019 dan Porda 2021. Pihaknya berharap dlam kedua event itu Kota Banjar mampu meraih prestasi.

“Ya, kita dorong saja cabor yang aktif, jangan sampai daerah kita ini tak satu pun mendapatkan medali emas. Malu juga kala Porda 2018 di Bogor, Kota Banjar tidak mendapatkan emas satu pun,” tukas Rachwan.

Terlebih Kota Banjar rencananya menjadi salah satu tuan rumah sejumlah cabor dalam Porda tahun 2021, selain Kota Tasikmalaya dan daerah lainnya. Hal itu tentunya menjadi kesempatan baik untuk kembali mengangkat dan mengharumkan nama Kota Banjar melalui olahraga. (Nanks/Koran HR)