Betah di Ciamis, Pelajar Asal Papua Khawatir Dipulangkan Pasca Terjadi Gejolak Rasisme

Pelajar asal Papua
Pelajar asal Papua yang bersekolah di SMK Negeri 2 Ciamis. Foto: Subagja/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Sejumlah pelajar asal Papua yang bersekolah di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, melalui program ADEM (Afirmasi Pendidikan Menengah), mengaku khawatir dipulangkan ke daerahnya menyusul terjadi gejolak warga Papua yang protes terhadap peristiwa rasisme di Surabaya.

Hal itu dikatakan Roygen, seorang pelajar asal Papua yang bersekolah di SMK Negeri 2 Ciamis, saat ditemui HR Online, Selasa (20/09/2019). Menurutnya, selama bersekolah di Ciamis, dirinya maupun beberapa temannya yang berasal dari Papua belum pernah mendapat perlakuan yang tidak mengenakan. Apalagi yang berkaitan dengan rasisme.

“Teman-teman di Ciamis orangnya baik-baik. Mereka sangat menghargai kami. Belum pernah kami mendapat perlakuan diskriminasi. Apalagi rasis. Terus terang, saya bersyukur bisa sekolah di Ciamis dan sudah merasa betah tinggal di sini. Ciamis sudah seperti rumah kedua kami,” ujarnya.

Baca juga: Cerita 6 Anak Papua: Tahan Rindu kepada Orang Tua, Demi Sekolah di Ciamis

Namun begitu, lanjut Roygen, setelah terjadi gejolak isu rasisme di Surabaya, kini membuatnya khawatir. Dia khawatir apabila gejolak tersebut terus berkepanjangan akan berdampak pada nasibnya yang harus dipulangkan ke Papua.

“Makanya saya berharap masalah ini segera selesai dan tidak berkepanjangan. Karena khawatir kami terkena imbasnya. Kami ingin tetap belajar di Ciamis sampai nanti lulus sekolah mendapat ijazah,” katanya.

Roygen yang saat diwawancara mengenakan seragam abu putih dan pada seragamnya terdapat bordelan bendera merah putih itu mengaku bangga menjadi anak Indonesia. Dia pun dengan tegas mengatakan mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Iya dong, NKRI harga mati,” ujarnya sembari tersenyum.

Hal senada dikatakan Asistasya, pelajar putri asal Papua yang bersekolah di SMA Negeri 3 Ciamis. Dia mengatakan, selama sekolah di Ciamis, dirinya belum pernah mendapat perlakuan diskriminasi ataupun rasis. “Teman-teman di sini baik-baik. Saya senang bisa diberi kesempatan bersekolah di Ciamis,” ujarnya.

Asistasya menjelaskan, setelah terjadi gejolak di Surabaya hingga menimbulkan protes dari warga Papua di berbagai daerah di Indonesia, membuat orangtunya cemas. Namun, dia sudah menyampaikan bahwa kondisi di Ciamis kondusif dan tidak ada riak apapun terkait permasalahan Papua.

“Sudah saya ceritakan kepada orangtua bahwa di Ciamis ini berbeda. Di Ciamis aman-aman saja dan tidak perlu khawatir. Setelah saya sampaikan, akhirnya orangtua saya lega,” ujarnya.

Pelajar asal Papua
Pelajar dari Papua yang mengikuti program ADEM (Afirmasi Pendidikan Menengah) saat dikumpulkan di SMA Negeri 3 Ciamis. Foto: Subagja/HR

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 3 Ciamis, Dede Hidayat, mengatakan, pelajar asal Papua yang bersekolah di sekolahnya berjumlah 15 orang. Semuanya adalah siswa yang terdaftar dalam program ADEM.

“Selama bersekolah di sini, seluruh pelajar asal Papua tinggal di asrama boarding school yang masih berada di dalam lingkungan sekolah. Jadi, keberadaan mereka bisa kami pantau secara langsung,” ujarnya.

Dede menambahkan, setelah terjadi gejolak permasalahan Papua, pihaknya langsung mengumpulkan pelajar asal Papua untuk diberi pengarahan agar tidak khawatir dan tetap konsentrasi belajar.

“Mereka anaknya baik-baik dan paham ketika diberi pengarahan oleh pihak sekolah,” katanya.   

Dede juga mengungkapkan sebagai bentuk perlindungan kepada anak didiknya, pihaknya sudah meminta kepada pelajar asal Papua untuk tidak pergi ke luar kota atau berkumpul dengan anak dari Papua yang berada di daerah lain.

“Alhamdulilah mereka mengerti maksud baik kami. Kami pun sudah meminta agar menyampaikan kabar baik ke orangtuanya bahwa di Ciamis mereka baik-baik saja,” katanya.

Kepala SMK Negeri 2 Ciamis, Asep Agus, mengungkapkan, pelajar asal Papua yang bersekolah di sekolahnya berjumlah 9 orang. Mereka pun sama peserta program ADEM.

Asep menjelaskan, meski saat ini tengah terjadi gejolak di Papua, namun tidak berpengaruh kepada siswa didiknya yang berasal dari Papua. Mereka belajar seperti biasa dan tidak pernah membahas gejolak yang terjadi di Papua.

“Dengan siswa yang berasal dari Ciamis pun mereka berbaur dan tidak ada sekat. Selama sekolah kami mendapat kepercayaan program ADEM, tidak pernah ada pelajar dari Papua yang mengadu bahwa mereka mendapat diskriminasi atau rasisme dari teman-teman yang berasal dari Ciamis,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Asep, pihak sekolah masih berkomunikasi dengan beberapa alumni pelajar dari Papua yang kini tengah melanjutkan kuliah.

“Hubungan silaturahmi dengan alumninya saja masih dijalin hingga sekarang. Kami pun bangga alumni SMK 2 Ciamis yang berasal dari Papua bisa melanjutkan kuliah dan ada beberapa diantaranya yang sudah lulus kuliah,” katanya. (Bgj/R2/HR-Online)