Di Pangandaran Ada Tempat Panyembahan, Diduga Peninggalan Sejarah Kerajaan Mandala

Lokasi tempat Panyembahan
Lokasi tempat Panyembahan yang kini sudah berubah menjadi areal persawahan di di Dusun Mekarsari Blok Karantenan, Desa Jayasari, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran. Foto: Istimewa

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Setelah ditemukan beberapa benda yang diduga peninggalan purbakala, seperti batu menhir dan keramik cina, di Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, kini kembali ditemukan sebuah areal yang diduga bekas berdirinya sebuah kerajaan di abad ke 15. Warga menyebut areal itu dengan sebutan tempat Panyembahan.

Areal yang kini sudah berubah menjadi lahan persawahan milik warga itu berada di Dusun Mekarsari Blok Karantenan, Desa Jayasari, Kecamatan Langkaplancar.

Baca juga: Batu Nangtung di Pangandaran Diduga Peninggalan Zaman Sebelum Masehi

Lokasi Panyembahan ini berada di lengkungan Sungai Cimandala atau lokasinya di kelilingi perbukitan Gunung Kembang, Gunung Gedogan dan gunung lainnya.  

Dinamai tempat Panyembahan tentu bukan tanpa alasan. Konon di tempat itu dulunya sering dipakai tempat ritual oleh kelompok aliran tertentu. Dari cerita itulah yang membuat areal persawahan itu dinamai tempat Panyembahan.

Menurut tokoh masyarakat setempat, Ahmad Sidik, cerita adanya kelompok tertentu yang sering melakukan ritual di lokasi Panyembahan belum diketahui pasti di era kapan atau tahun berapa. Mungkin saja peristiwa itu terjadi pada puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu.

Baca juga: Cerita Pemindahan Batu Nangtung di Pangandaran, Diangkut Oleh 12 Orang dan Teror Mahluk Gaib

“Jadi peristiwa itu sudah lama. Kami juga mendapat cerita itu dari omongan orangtua yang dikisahkan secara turun-temurun,” ujarnya, kepada HR Online, pekan lalu.

Kata cerita orangtua setempat, lanjut Ahmad, di lokasi Panyembahan dulunya terdapat pohon besar. Pohon itu konon terbilang langka dan memiliki kekuatan magis. Namun, sisa-sisa peninggalan pohon besar itu sekarang sudah hilang jejaknya.

“Karena sekarang sudah menjadi areal persawahan. Jadi sudah tidak ada bekasnya,” katanya.

Ahmad mengatakan memang perlu dilakukan penelitian oleh arkeolog untuk mengungkap sejarah di lokasi Panyembahan.

Baca juga: Diduga Kuat Dolmen, Arkeolog Temukan Benda Purbakala di Cagar Alam Pangandaran

“Orangtua dulu kalau memberi nama sebuah tempat biasanya ada kaitan dengan sejarah masa lalu di tempat tersebut. Jadi, cerita mengenai tempat ini dulunya dikisahkan sebagai tempat ritual, ada korelasinya dengan nama Panyembahan,” ungkapnya.

Sementara itu, Pamong Budaya Direktorat Jenderaal Kebudayaan Kemendikbud Tahun 2013-2016, Agus Mulyana, usai melakukan penelitian di lokasi Panyembahan, belum lama ini mengatakan, dari hasil hipotesis penelitian bahwa di sekitar areal tempat Panyembahan diduga sebagai lokasi bekas Kerajaan Mandala yang berdiri pada sekitar abad ke 15.

Dugaan itu, kata dia, dihubungkan juga dengan literatur catatan sejarah babon leluhur Sukapura. Menurutnya, dalam catatan itu dikisahkan bahwa terdapat daerah Mandala di era Kerajaan Padjadjaran.

Dalam catatan itupun disebutkan kisah Prabu Munding Kawati yang juga dikenal sebagai putra Prabu Susuk Tunggal atau Sang Haliwungan (abad 15) yang memiliki istri salah satunya berasal dari Karanten atau sekarang disebut daerah Kecamatan Langkaplancar.

“Tapi itu baru hipotesis yang berdasar pada temuan di lapangan yang dikaitkan dengan catatan sejarah yang terjadi di daerah Langkaplancar pada masa lalu atau sekitar abad ke 15,” ujarnya.

Baca juga: 3 Tulisan Kuno di Pangandaran yang Berusia 4 Abad Ini Akan Diteliti Sejarahnya

Agus mengatakan untuk mengungkap misteri benda-benda purbakala dan juga lokasi yang diduga peninggalan masa lalu di Kecamatan Langkaplancar perlu dilakukan penelitian yang komperhensif dengan melibatkan ahli dari berbagai disiplin ilmu.

“Untuk mengungkup kekayaan sejarah di Langkaplancar tidak hanya diteliti oleh ahli arkeologi saja, tetapi perlu juga didampingi oleh ahli antropologi, ahli geologi dan ahli toponimi,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Agus, ahli perencana parawisata pun perlu dilibatkan agar ketika terungkap fakta sejarah bisa menjadi potensi parawisata di Kecamatan Langkaplancar.

“Jadi, kita tidak hanya meneliti peristiwa masa lalu saja. Namun harus ada juga potensi untuk masa yang akan datang,” ungkapnya.

Baca juga: Ditemukan Jejak Manusia Purba, Pangandaran Miliki Peninggalan Sejarah dari 4 Zaman

Sementara dari hasil penelitian di lokasi tempat Panyembahan, lanjut Agus, ditemukan struktur batu yang mirip konstruksi bangunan pada masa lampau. Batu itu tersusun seperti benteng dan memiliki seni arsitektur. (Askar/R2/HR-Online)