Gagal Tanam Padi, Petani di Ciamis Beralih ke Palawija

Palawija
Petani saat memanen palawija jenis pare di sawah. Foto: Suherman/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Meski tidak bisa menanam padi akibat kekeringan, ratusan petani di Desa Sukamukti, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat tak patah arang. Mereka kini beralih ke palawija dan  hasilnya pun lumayan cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Pantauan HR di lapangan, ratusan petani beramai ramai menanam palawija Pare (Paria) di lahan sawah yang gagal ditanami padi. Tanaman palawija tersebut merupakan alternatif untuk menyiasati kegagalan menanam padi.

Isrodin, salah satu petani, mengatakan, dirinya beralih menanam Pare setelah lahan sawahnya tidak bisa ditanami padi lantaran kekeringan.

“Sejak bulan April kemarin saya sudah mulai menanam palawija, hal ini karena sawah saya dilanda kekeringan dan sama sekali tidak bisa dimanfaatkan untuk bercocok padi. Untuk jenis palawija yang saya tanam saat ini adalah Pare,” katanya kepada HR Online, Kamis (1/8/2019).

Alasan memilih menanam pare, lanjut Isrodin, sudah menjadi kebiasaan warga sekitar ketika sawahnya sudah tidak bisa ditanami padi. Selain itu, perawatan tanaman ini juga sangat mudah dibanding jenis palawija lainnya. Kaitannya dengan usia, pare juga berumur cukup panjang, sehingga cukup satu kali tanam bisa dipanen mencapai puluhan kali, baik di musim hujan ataupun kemarau.

“Lebih mudah saja untuk perawatannya, untuk menyirami tanaman Pare ini kita hanya butuh waktu tiga hari sekali. Jadi kita bisa mengerjakan yang lainnya. Selain itu, untuk tanaman Pare kita hanya cukup menanam satu kali saja dengan usianya yang bisa bertahan lama ini,” terangnya.

Informasi di lapangan, harga Pare di Desa Sukamukti cukup menguntungkan bagi para petani, pasalnya harga saat ini masih bertahan di Rp 6.500 perkilogramnya. Sementara itu, rata rata petani di Desa Sukamukti ini dalam satu kali panen mampu menghasilkan lebih dari satu kwintal Pare, dan panennya selama 3 hari sekali. (Suherman/R6/HR-Online)